BILA
PART 1
“Aku sayang kamu!!, jadi pacarku ya??” Bastian jadi ingat kata-kata cinta pertama yang dia ucapkan ketika dia menyatakan cinta kepada seorang wanita sewaktu dia duduk di bangku SMA, malam itu Bastian memandangi fotonya bersama kekasih pertamanya dulu. Rasanya begitu hampa bagi bastian, yang dia pikirkan hanyalah rasa sesal, ingin rasanya dia minta maaf atas apa yang terjadi, ingin rasanya bastian menusuk jantungnya dengan sisa kepingan cinta yang tajam tersebut.
Hawa kota bandung malam itu merasuk sampai pori-pori batin Bastian, Bastian yang berada diatas kasurnya dengan mengenakan sweater dan berselimut tebal tidak bisa berhenti memandangi foto dia berdua dengan kekasih SMAnya itu. Yang membuatnya tidak tenang malam itu adalah kata-kata cinta yang terlontar dari sepasang sedjoli yang terus terbayang dalam benak Bastian, kata-kata cinta yang membuat malaikat bosan mendengarnya tapi bagi iblis itu merupakan suatu kemenangan. Bastian terus terbawa keheningan sesaat, dia terlarut di alam bawah sadarnya, bastian terhanyut dan akhirnya tenggelam bersama kenangan yang sirna.
Cinta membuat Bastian berandai-andai, dia terus larut dalam khayalan yang semakin membawanya terbang melintasi harumnya sang nirwana, Bastian sungguh tidak menyadari bahwasannya nirwana tersebut yang membimbingnya dalam sebuah mimpi panjang. Cerita masa lalu yang terkonversi menjadi sebuah mimpi.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
(flashback)
“aduh gimana ya, aku bingung bas. Hmm, kalo iya gimana?? Nah kalo nggak, gimana??” Putri tidak berani memandangi wajah bastian, Putri terus menunduk dan mukanya memerah.
“aduh ini cowok nembak aku lagi, aku harus ngomong apa??,” gumam Putri dalam hati.
Putri dan Bastian hanya terdiam di bawah matahari sore yang sedang cemberut, berkali kali Putri curi-curi pandang ke arah Bastian yang wajahnya tengah pucat membiru.
“Bastian....., hmhm” Putri menyipitkan kedua matanya, begitu juga dengan Bastian dengan senyumnya yang kecut “apa..., hmhmhm....”
Memang itulah yang terjadi diantara sepasang manusia yang berjalan menelusuri sepinya lorong sekolah. Wajah manis Putri yang terpadu dengan rasa malu di mukanya dan rasa bimbang dihatinya membuat dia semakin menarik sore itu, begitu juga dengan Bastian, tubuhnya yang tak henti bergetar dan darahnya yang naik turun membuat dia semakin jantan untuk menjinakkan sang betina. Satu anak Adam dan satu anak Hawa yang sedang dicandui cinta yang membuat malaikat pergi meninggalkan mereka dan mengundang para iblis dengan membawa buah khuldi di genggamannya.
Ketika mengatakan cinta kepada Putri, Bastian sangat gugup, ini kali pertamanya dia akan menancapkan panah asmaranya kepada seorang gadis, wajahnya sangat pucat, jantung bastian berdetak tak karuan sampai pada ucapan yang terlontar dari mulutnya keluar dengan terbata-bata. Putri tertawa dalam hati melihat gelagap seorang Bastian yang sedang menyerbu hatinya dengan panah-panah cintanya. Tapi pada akhirnya putri juga tidak tenang, Putri harus menjawab, hati putri juga ikut-ikutan tidak karuan, darah putri mengalir lebih cepat dari sebelumnya.
“Bas, aku nggak mau jawab sekarang, bagaimana kalau nanti malam,” Putri ditengah keraguan, kini dia begitu bingung.
“nanti malam?? Dimana?,” Bastian berkata seperti tidak sabar menunggu jawaban dari Putri.
“di Dago aja ya, gimana?, soalnya sekalian aku sama teman-teman mau jalan-jalan kesana nanti malam,” Bastian mengangguk tanda iya menyetujui permintaan Putri.
@@@@@@@@@@@@@
Bastian terbangun dari angan-angannya, nafasnya bagaikan kuda yang sedang berlari kencang. Bandung saat itu masih menunjukkan pukul 00.45, Bastian mengeluarkan keringat dingin dari pori-pori badannya, bastian mengeluh kepada dirinya sendiri, “aduh, ngapain aku ingat-ingat waktu itu, biarlah Putri berlalu...,” tak lama kemudian ditamparnya mukanya sendiri dengan telapak tangannya, “ngapain sih aku, masih banyak kan wanita, tapi kenapa harus Putri sih yang terbayang dalam hati,” gumam bastian dalam hati.
Bastian sudah letih malam itu, dia keluar menuju ruang televisi. Bastian melihat kakaknya, sedang letih menulis tapi dari wajah kakaknya tidak sedikitpun ada wajah menyerah, “mungkin untuk deadline besok,” gumam Bastian dalam hati.
Bastian tinggal bersama kakak laki-lakinya, Raharjo namanya, kedua orang tua bastian telah tiada karena sebuah tragedi kecelakaan pesawat terbang, pada saat itu bastian baru menapakkan kakinya di kelas satu SMA sedangkan Raharjo sedang menempuh kuliah semester tujuh di jurusan journalistik di salah satu sekolah tinggi ilmu jurnalistik di kota Bandung.
Kakak Bastian merupakan kakak yang tabah dan berhati baja, dia kuat menghidupi keluarganya yang tinggal dua orang, yaitu dirinya dan Bastian. Setelah sepeninggalan kedua orang tuanya, Raharjo melamar pekerjaan manjadi seorang penulis di salah satu media cetak di kota bandung. Saat ini Raharjo telah beristri, dan istrinya tinggal bersama mereka dirumah tersebut. Keteguhan hati dan semangat Raharjo memang tidak bisa ditandingi, dia berhasil menghidupi Bastian sampai kini berumur 23 tahun dan menghidupi dia dan istrinya.
“kenapa bas??, ingat Putri toh??,”
suara Raharjo mengejutkan Bastian yang sedang meneguk segelas air putih, “atau kamu gugup karena besok kamu mau diwisuda??,” kakaknya kembali berucap.
Bastian memandang ke arah Kakanya tersebut dan berkata “tidak dua-duanya kak,”
“lalu apa,” tanya Raharjo bingung.
“nggak tau kak, pusing, aku mau istirahat dulu,” setelah berkata demikian Bastian pergi meninggalkan kakaknya untuk kembali ke kamar tidurnya. Raharjo hanya bingung melihat tingkah laku adiknya tersebut. Dan sebelum Bastian membuka pintu kamarnya, Raharjo kembali berkata kepada Bastian kali ini dengan nada sedikit tinggi “sudah lah Bas, kakak mengerti, jangan dipikirinlah si Putri itu, toh dia lebih bahagia kan jika tidak bersama kamu,” Bastian hanya diam dan mengangguk patuh kepada kakaknya tersebut.
Otak Bastian sudah teracuni oleh bisa cinta yang diberikan oleh Putri, bisanya begitu kuat sehingga sampai saat ini Bastian mengalami tekanan penyesalan, sudah empat tahun lamanya dia putus hubungan bersama Putri, empat tahun itu pula rasa sesalnya tidak kunjung hilang. Bastian mengambil sebatang rokok diatas meja belajarnya, dinyalakannya rokok tersebut dan dihisapnya dalam-dalam, kemudian dihembuskannya asap rokok itu keluar dari mulutnya sehingga kamar Bastian malam itu penuh dengan aroma tenbakau.
Hisapan rokok yang sangat dalam itu membuat kepala Bastian mulai pusing, kemudian dipejamkan matanya dalam-dalam untuk menikmati rokok tersebut, lama kelamaan dia kembali terhanyut didalam kisah nyata yang terasa seperti mimpi dengan dentuman-dentuman penyesalan dihatinya.
@@@@@@@@@@@@
(flashback)
“Putri, gimana??, apa jawabannya”, tanya bastian datar. Putri mengeliat dan memutar mutar kepalanya tanda sangat bingung, hatinya terbagi antara iya dan tidak.
Dinginnya hari pada malam itu membuat Bastian semakin dibawa rasa penasaran. Semenjak Bastian berangkat dari rumahnya, bastian tidak bisa diam, dia risau dengan hal bodoh yang dilakukannya yaitu menyatakan cinta kepada seorang wanita, otaknya melayang kemana-mana. Apalagi setelah bastian menceritakan semua pada kakaknya, kakaknya malah tertawa melihat gelagat adiknya yang beranjak dewasa itu. Tapi kakaknya meyakinkan bahwa cinta itu ada ketika dia mencintai, kakaknya dapat membuat hati Bastian lebih tenang dari sebelumnya.
“Put, aku sayang sama kamu, dan aku berkata seperti ini padamu hanya sekali seumur hidupku, jadi kamu tidak akan mendengar permintaan cinta seperti ini untuk kedua kalinya,” Bastian kembali meyakinkan Putri atas permohonaan cintanya kali ini Bastian menatap mata Putri dalam-dalam.
Putri menundukkan kepalanya, dia tidak berani mengangkat kepalanya, dan setelah agak lama terdiam, putri pun bicara dengan nada yang sangat rendah “ya udah, iya,” wajah putri memerah, perlahan-lahan putri mengangkat kepalanya dan memandangi wajah bastian yang penuh dengan senyum.
“terima kasih ya, put,” Bastian mengacungakan jari kelingkingnya ke arah Putri dan kemudian Putri pun menanggapi apa yang dimaksud oleh Bastian. Jari kelingking mereka saling menyatu, pandangan dan senyum mereka juga saling menyatu walau itu terjadi dengan malu-malu. Putri memandangi Bastian dalam-dalam dan begitu sebaliknya Bastian juga memandangi Putri dalam-dalam.
Bastian masih tidak percaya dengan kata ‘iya’ yang diucapkan Putri, wajah Bastian tersenyum dengan malu, jantungnya berdetak menandakan perang, nafasnya juga semakin tak tentu arah. Begitu juga dengan Putri yang masih tidak percaya dia akan punya kekasih.
Cinta pada masa SMA adalah cinta yang tidak bisa diungkapkan dan tidak bisa diterjemahkan, hal ini sangat indah dan sempurna walau godaan iblis selalu mengganggu, dan pada akhirnya iblis selalu pergi jikalau malaikat cinta datang menghampiri dan menghantam seluruh cumbu rayu dari iblis. Cinta berjalan melewati kehampaan, cinta berhasil melewati keguncangan batin hingga akhirnya cinta itu runtuh karena sebuah keadaaan. Cinta masa SMA merupakan suatu hal yang sangat melekat mesra dihati, sangat berkesaan dan tersimpan di lubuk hati yang paling dalam. Jika cinta masa muda itu pergi meninggalkan, yang tinggal hanyalah luka yang sangat besar dan dapat merobek hati. Cinta masa SMA sudah merupakan cinta yang mengenal akal sehat, dengan berjuta perasaan dan berjuta logika, tidak ingin kehilangan dengan berjuta permintaan maaf, luar biasa rasa cinta yang ada pada saat mereka beranjak muda.
Bastian dan Putri menjalaninya dengan berbagai percikan api yang membakar keduanya. Jika mereka tidak saling bersama, rasa rindu menemani mereka tetapi pada saat mereka sedang bersama, rasa benci kemudian muncul. Inilah gejolak rasa cinta pada saat mengenal cinta, yaitu antara rasa benci dan rasa cinta mempunyai makna berjuta rasanya.
@@@@@@@@@@@@@@
Bastian terbangun dari tidurnya pagi itu, dia merasakan hal yang dekat dengan mimpi, dia heran, kenapa hal yang nyata terjadi bisa sampai ke alam mimpi. Bastian perlahan-lahan beranjak keluar dari kamarnya dengan kepala yang masih sedikit pusing, di rumahnya telah sepi mungkin tinggal dia seorang diri yang berada disana. Di ruang tamu Bastian dapat melihat jam berapa saat ini, Bastian terkejut karena waktu menunjukkan pukul 07.30 pagi, dia tergesa-gesa dan langsung menuju kamar mandi.
Agendanya hari ini adalah wisuda universitasnya. Bastian, 23 tahun, akan menjadi sarjana seni hari ini, seorang sarjana seni yang hatinya terbakar oleh panasnya cinta yang dilukisnya sendiri.
Bersambung... BILA part 2............
Tetap di “sicanducinta.blogspot.com”



















