BILA
Part 2
Suasana di kampus tempat bastian menuntut ilmu siang itu sangat ramai. Sekitar ribuan mahasiswa yang diwisuda maupun yang tidak diwisuda memenuhi kampus tersebut, canda tawa para mahasiswa dapat menghiasi hati Bastian yang sedang mendung. Bastian, seorang mahasiswa seni yang memiliki ribuan ide di otaknya dengan berbagai goresan maha indah yang dituangkan di selembar kertas, lukisan-lukisan yang dibuat oleh bastian dapat laku terjual, berbeda dengan mahasiswa seni lainnya, yang lukisannya hanya dipajang di lorong-lorong kampus maupun di dalam ruang seni mahasiswa. Sejak dimulainya acara pada hari itu, wajah Bastian murung, mungkin kenyataan yang terbawa kedalam mimpinya tadi malam membuat dia tidak seperti biasanya, Bastian hanya tersenyum ketika giliran dia akan diwisuda dan ketika itu Pak Subyanto selaku rektor barkata kepadanya “Bastian, selamat, saya harap kontribusimu di dunia seni tidak sebatas ketika kamu bestatus mahasiswa saja, karena semua lukisan yang kamu lukis memiliki arti yang luar biasa.” Ucapan Pak Subyanto yang diiringi senyum lebarnya itu memang memberikan semangat kepada hati Bastian yang sedang kusam dari goresan-goresan kuas lukis yang dari dulu mencabik-cabik hatinya.
Bastian dikenal sebagai seorang pemuda yang selalu happy dan bersemangat setiap harinya, namun tidak ketika jiwa Putri, mantan pacarnya meluap dari batinnya. Walaupun Bastian sudah lupa akan semua kenangannya, tapi masih ada seberkas rindu menempel di relung hasratnya untuk kembali. Seberkas rindu itulah yang melukis hatinya dengan seribu luka, Seribu pilu, seribu sesal.
@@@@@@@@@@@@
Bastian mulai bosan dengan suasana siang itu dan dia juga sudah suntuk dengan pakaian Sarjana yang melekat ditubuhnya, sepertinya tidak ada lagi yang ingin dia lihat si kampus ini. “nggak seru!!,” gumam Bastian dalam hati. Bastian sepertinya ingin sekali melakukan satu hal yang dapat membuat dia dapat melupakan semua gejolak dihatinya dan ingin mencari inspirasi baru untuk melukis. Bastian berjalan melintasi ribuan manusia yang menghalanginya, dia berjalan menuju sepeda motornya yang terletak di tempat parkir.
“Bas,ikut acara dulu donk!!, bareng anak seni yang lain, masa maen pulang aja,” suara kencang Bano membatalkan niat Bastian untuk pulang kembali ke rumahnya.
Bastian kemudian berkata kepada Bano “acaranya ngapain nih??, kalau nggak seru gw nggak mau ikut?,”
“sok seru banget nih orang,” Bano sedikit kesal kepada Bastian. “nih kenalin teman gw anak musik, namanya Ayu,” Bano memperkenalkan temannya kepada Bastian.
Bastian menjulurkan tangannya kepada Ayu, sambil sedikit tersenyum dia berkata kepada ayu “hei Ayu, baru diwisuda juga ya??, pantesan koq pake baju wisuda.”
Ayu menyipitkan kedua matanya dan Ayu bergumam dalam hatinya “ini laki-laki, aneh banget, udah tau nanya”
“eh Ayu, pasti kamu heran kan, Bastian ini laki-laki yang aneh,tukang caper, tapi untuk nanti-nanti kamu nggak usah heran,” Bano menambahkan karena dia tahu apa yang dipikirkan oleh Ayu tersebut. Bano kembali berkata kepada bastian “gimana lo mau ikut nggak acara perpisahan?.”
“ya ikut donk kalo ada Ayu,” Bastian mulai mengeluarkan cat lukis dari dalam mulutnya untuk menggoreskan warna di hati Ayu. Dan Bastian kembali berkata “tapi lebih baik kita ganti baju dulu!, panas nih pake baju beginian.”
“ok-lah kawan, kita ganti baju dan ketemu lagi disini,” Bano menyetujui permintaan dari Bastian tadi. Namun sebelum mereka beranjak dari tempat itu Bastian berbisik ke telinga Bano tanpa sepengetahuan Ayu yang telah meninggalkan tempat tersebut terlebih dahulu “Ban, teman lo anak kampus sini? Kok gw nggak pernah lihat? Trus dia udah punya pacar belom?.”
“haha, ngarep lo ye?, nanti aja gw ceritain,” Bano tertawa terbahak-bahak sambil meninggalkan tanya di hati Bastian.
@@@@@@@@@@@@@.
Waktu tepat pukul 19.00, setelah disetujui oleh pihak kampus, akhirnya acara perpisahan ini diselenggarakan di kamus mereka yang tercinta. Bastian datang dengan mengenakan Jasnya berwarna coklat dengan kaos dalam berwarna hitam, Bastian sangat gugup malam itu, tujuan Bastian bukan hanya karena ikut acara perpisahan bersama teman-temannya, tapi juga ingin bertemu dengan wanita yang tadi siang dikenalkan oleh Bano, Ayu namanya.
Kata orang-orang lebay, Bandung merupakan kota penuh cinta. Damai dan tentram, hal ini baru dirasakan oleh seorang Bastian sejak dia putus dengan Putri. Ingin sekali Bastian memulai hidup baru, tapi pasti selalu ada noda seorang Putri yang masih utuh dihatinya. “Mungkin Ayu bisa untuk melupakan Putri,” gumam Bastian ketika dia melihat Ayu berada dihadapannya.
“wow, cantik banget...,” lagi-lagi hati Bastian berbicara tapi kali ini lebih dalam. “hai Ayu,” sapa bastian hangat, Bastian memasang senyum terbaiknya dihadapan Ayu.
“hai Bas, kamu lebih gagah daripada tadi ketika mengenakan pakaian wisuda,” kali ini Ayu menggoda Bastian yang sedang terpaku dihadapannya. Ternyata Ayu juga pandai melukis di hati Bastian, Bastian terperana oleh pesona yang digorekan Ayu di dalam hatinya. Mereka terlarut dalam percakapan dua iblis yang ingin tahu lebih dalam tentang diri mereka masing-masing.
“oh rupanya kamu anak musik, pantesan aku jarang melihat rupamu, trus kamu bisa main alat musik apa?,” Bastian yang penasaran akhirnya mengerti kenapa Ayu tidak pernah terlihat olehnya di dalam kampus, biasanya anak musik kuliahnya pada malam hari, berbeda dengan Bastian yang kuliahya pada siang hari, maka dari itu mereka berdua jarang bertemu.
“Oh.. mau lihat aku main musik toh??, tunggu ya, perhatiin dari sini!!,” Ayu berjalan meninggalkan Bastian sendiri di tempat duduknya. Ayu menghampiri beberapa teman-temannya yang duduk di suatu meja, entah apa yang dia bicarakan dengan teman-temannya tersebut, lalu Ayu beserta keempat teman laki-lakinya itu naik keatas panggung yang telah disiapkan dengan berbagai instrument musik.
Bastian tidak percaya ketika Ayu mengambil alat musik bass, “wow, ini perempuan tomboy, megangnya aja bass,” gumamnya dalam hati. Bastian memperhatikan dengan seksama gerak-gerik Ayu beserta keempat anak bandnya tersebut.
Dan Bastian seakan tidak berdaya ketika sang vokalis band tersebut berkata kepadanya “ok.. ini lagu atas permintaan Bassis kami, lagu ini untuk seorang Pria yang ada disana,” seketika vokalis band tersebut yang kebetulan juga seorang wanita menunjuk ke arah Bastian. Bastian hanya terperangah tidak percaya sekalian menanggung malu karena jadi bahan perhatian orang lain.
“judulnya tinggalkan saja,” Vokalis itu kembali berucap dan Intro dari lagu itu sudah mulai dimainkan, dan tak lama kemudian sang vokalis mulai menyanyi dengan lantangnya dia teriakkannya lirik lagu tersebut dengan penuh makna dan pesona.
TINGGALKAN SAJA
Cipt: Cella, Posan, Tantri KOTAK.
Bila ku berjumpa kau bikin ku terpesona
Hati ku berkata seperti kau yang ku damba
Benak hati tak bisa menahan lagi
Meski ada yang memiliki
Reff
Aku tak bisa melihat kau bersamanya
Tapi tak seharusnya dengan dia kau bercinta
Jika kau merasa apa yang telah aku rasa
Kau bilanglah saja kau tak lagi cinta dia
Benak hati tak bisa menahan lagi
Pasti engkau akan ku nanti
Tinggalkan lah dia lupakan lah saja
Tinggalkan, lupakan
Tinggalkan lah dia lupakan lah saja dia
Bastian terperanga ketika lagu tersebut usai dimainkan, walaupun yang dibawakan adalah lagu orang namun Ayu dan teman-temannya tersebut berhasil membawakannya dengan vesi yang berbeda, Ayu dan teman-temannya berhasil menambah makna dalam lagu ini, apalagi ketika Ayu ikut bernyanyi di bagian Reff. Derai tepuk tangan mahasiswa yang lainnya semakin menyemarakkan acara ini.
Ayu kembali ke tempat duduk dia bersama Bastian, dan kemudian berkata kepada Bastian “gimana Bas?, udah lihat kan?.”
Bastian diam sejenak sambil memandangi wajah Ayu, Bastian seakan tidak percaya dan kemudian dia berkata “sip, aku senang, thank’s lagunya.”
“thank’s apa??, wah jangan-jangan kamu geer lagi,” Ayu membalikkan kata-kata dari Bastian barusan. “loh, itu lagunya bukan buat aku??, tadi kata vokalisnya buat aku, gimana sih,” Bastian kembali menimpal.
Sambil tertawa, Ayu menjawab pertanyaan dari Bastian “itu lagunya buat laki-laki di belakang kita, ” setelah mendengar jawaban dari Ayu barusan, Bastian langsung menoleh ke arah belakang, dan kemudian Ayu kembali berkata “dulu laki-laki itu Pacarku, trus dia selingkuh, ya sampai sekarang deh, bikin kesel dan manas-manasin, tapi aku santai aja, udah biasa.”
“trus kamu nggak sakit hati??,” Bastian malah menanyakan hal yang tidak penting kepada Ayu.
Ayu tertawa cekikikan dan kemudian menjawab pertanyaan dari Bastian “iya dulu sakit hati tapi sebentar, ngapain juga harus larut lama-lama dalam kesedihan, apalagi untuk satu orang Pria, nggak etis bangetlah, toh laki-laki kan banyak.”
Mendengar ucapan dari Ayu barusan, membuat Bastian tersindir, Bastian merasa sangat malu pada dirinya sendiri. Bastian yang selama ini tersiksa karena goresan luka yang tidak kunjung hilang ternyata kalah oleh seorang makhluk yang lemah lembut, walaupun Ayu sedikit tomboy.
Waktu berjalan sangat cepat malam itu, Acara perpisahan sederhana itu akhirnya selesai tepat pukul 23.30 tanpa ada kekacauan sedikitpun. Bastian langsung bergegas pulang setelah dia mengantar Ayu pulang ke rumahnya. Dinginya angin malam membuat bastian semakin kencang mengendarai sepeda motornya.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Bastian duduk terpaku di depan komputernya, diambilnya sebatang rokok dari yang terletak di atas meja tersebut dan ditancapkanya sebatang rokok di mulutnya, dan kemudian dihisapnya rokok tersebut dalam-dalam, begitu dinikmatinya tiap helai asap rokok yang mengalir dari mulut sampai pangkal tenggorokannya. Bastian tidak bisa tidur malam itu, dia bingung apa yang bisa membuatnya ngantuk. “oh facebook,” kata bastian dalam hati, sudah lama bastian tidak membuka facebook miliknya tersebut. Tanpa ragu Bastian membuka jendela facebook dari salah satu layanan internet yang tertera pada layar komputernya. Tanpa pikir panjang lagi, Bastian langsung memasukkan used ID dan password untuk masuk ke beranda facebooknya.
Bastian melirik ke arah kanan atas dari layanan facebook tersebut, raut wajahnya berubah ketika dia melihat satu friend request dan satu undangan acara. “siapa ini??,” pikir bastian bingung.
“Untuk apa manusia menyalahkan keadaan, toh keadaan yang berlalu akan sama saja karena keegoisan manusia dalam suatu hal, egois karena ingin dicintai, dimiliki dan sebagainya,” Bastian berfikir penuh hasrat dalam batinnya ketika dia melihat Putri mantan pacarnya yang mengajukan friend request di facebooknya, bukan itu saja, undangan yang tertera pada facebooknya adalah undangan untuk menghadiri acara reuni SMAnya. Bastian semakin menghisap rokoknya dengan cepat dan dalam, friend request dan satu undangan itu langsung diterima oleh Bastian tanpa ragu-ragu.
Bastian membasahi badannya di kamar mandi, dia biarkan kesegaran merasuki tubuhnya secara perlahan-lahan. sehabis mandi, Bastian langsung menuju kamar tidurnya dan dia telentangkan tubuhnya di atas kasur, direbahkannya setiap ruas dari tubuhnya, namun tidak untuk mata dan pikirannya. Mata bastian terus melihat foto dia berdua dengan Putri, Foto masa lalu yang membuat dia berfikir untuk melihat ke belakang, foto kenangan yang membuat dia memaki-maki, berkata kotor hanya untuk sekedar meluapkan isi batinnya tentang sakir karena cinta.
Bersambung bila part 3................
Tetap di sicanducinta.blogspot.com



















