suara petir semakin menggelegar, semakin menyambar sesuatu di dalam dada, sampai sekarang aku menahan kesakitan yang tumpah begitu saja di atas meja.
saat ini, tak kuat ku menahan batuk, kepala bagian kiriku terasa ingin pecah. dada dan ingatan menuju kesakitan karena mendengar suara hujan. dengan tangan menyentuh dada, aku tergopoh-gopoh berjalan, mencari obat yang entah aku letakkan dimana, sebab hujan telah seluruhnya menggenangi ingatanku.
aku membuka satu laci di dalam lemari, ku temukan antibiotik yang entah kapan berada di dalam lemari, tanpa pikir panjang, kutelan bulat-bulat obat itu sekitar 5 butir. namun kepalaku semakin sakit, dadaku terasa remuk, pandanganku gelap, dan tak lama kemudian aku terjatuh, tursungkur di atas lantai, aku tak bisa melihat apa-apa selain sedikit cahaya dari lampu kamar.
cahaya itu sedikit demi sedikit mulai masuk ke dalam ruang tak sadarku, aku seperti terbang di atas jarum jam. aku dibawanya ke sana, ke dalam ruang ketika kata-kata masih hidup, menyentuh tanganmu, memeluk tubuhmu, segalanya masih utuh, seperti keju yang tepat akan menyentuh bibirku.
#bersambung



















