Maneka
memang tidak bisa, atau memang dia tidak mau kembali.
Cermin itu, eh cerita itu aku baca pada tahun 2010. Dan hari ini aku menemukan
cerminnya terpasang di kamar adikku. Aku tidak tahu di mana adik membelinya. Aku
hanya tahu cermin itu terpasang setelah adikku mati, diperkosa dan dibunuh,
oleh seorang yang sampai hari ini masih buron. Aku tahu itu adalah cermin
Maneka semenjak aku berada di dalamnya.
Tidak ada satu orang pun yang tahu, ke
mana Maneka setelah itu. Tidak penting juga bagi pengarangnya untuk
melanjutkan. Karena semenjak aku sadar apa yang digambarkan pengarangnya,
tentang mayat-mayat yang tergeletak di tepi pantai, aku tahu kisah tentang PKI
selalu berwarna kelabu. Dan aku yakin Maneka masih berada di sana, menceritakannya
lagi, meskipun hanya untuk dirinya sendiri.
Aku bercermin, entah kenapa, pada saat
itu aku sedang ingin bercermin. Sambil mengingat adikku yang baru saja beranjak
remaja, yang baru saja bercerita kalau ada lelaki yang mendekatinya. Dulu ketika
masih kecil, adikku suka berkata, satu-satunya cara untuk melihat mata kita
adalah bercermin. Tapi aku tidak percaya kepadanya.
Tapi hari ini yang aku lihat jauh
lebih dalam. Di belakang mataku ada mata yang lain. Di balik mata yang lain itu
ada mata yang lebih lain lagi. Mata pembunuh, begitu menurutku ketika itu. Mata
pembunuh tidak pernah sepasang. Mata pembunuh selalu ada berlapis-lapis. Mata pembunuh
ada sebelum dan sesudah dia membunuh. Mata pembunuh tidak pernah tertutup. Mata
pembunuh tidak pernah menangis.
Kemudian
aku melihat Maneka. Dia sudah besar, kira-kira berumur 25 tahun, rambutnya
sampai ke pinggang. Kakinya penuh lumpur, tangannya memegang sekop, seperti
habis mengubur seseorang. Dan seperti manusia yang (harusnya) berakal, Maneka
meletakkan batu nisan di atas kuburan itu. Lalu maneka menatap kepadaku, lirih.
“Kenapa
kau bercermin?” 200 petir menyambar tempat kami berdiri.
“Akukah
yang membunuh?”
2016



















