Rabu, 27 April 2016

Teka-teki Maneka


          Maneka memang tidak bisa, atau memang dia tidak mau kembali.

          Cermin itu, eh cerita itu aku baca pada tahun 2010. Dan hari ini aku menemukan cerminnya terpasang di kamar adikku. Aku tidak tahu di mana adik membelinya. Aku hanya tahu cermin itu terpasang setelah adikku mati, diperkosa dan dibunuh, oleh seorang yang sampai hari ini masih buron. Aku tahu itu adalah cermin Maneka semenjak aku berada di dalamnya.

          Tidak ada satu orang pun yang tahu, ke mana Maneka setelah itu. Tidak penting juga bagi pengarangnya untuk melanjutkan. Karena semenjak aku sadar apa yang digambarkan pengarangnya, tentang mayat-mayat yang tergeletak di tepi pantai, aku tahu kisah tentang PKI selalu berwarna kelabu. Dan aku yakin Maneka masih berada di sana, menceritakannya lagi, meskipun hanya untuk dirinya sendiri.

          Aku bercermin, entah kenapa, pada saat itu aku sedang ingin bercermin. Sambil mengingat adikku yang baru saja beranjak remaja, yang baru saja bercerita kalau ada lelaki yang mendekatinya. Dulu ketika masih kecil, adikku suka berkata, satu-satunya cara untuk melihat mata kita adalah bercermin. Tapi aku tidak percaya kepadanya.

          Tapi hari ini yang aku lihat jauh lebih dalam. Di belakang mataku ada mata yang lain. Di balik mata yang lain itu ada mata yang lebih lain lagi. Mata pembunuh, begitu menurutku ketika itu. Mata pembunuh tidak pernah sepasang. Mata pembunuh selalu ada berlapis-lapis. Mata pembunuh ada sebelum dan sesudah dia membunuh. Mata pembunuh tidak pernah tertutup. Mata pembunuh tidak pernah menangis.

Kemudian aku melihat Maneka. Dia sudah besar, kira-kira berumur 25 tahun, rambutnya sampai ke pinggang. Kakinya penuh lumpur, tangannya memegang sekop, seperti habis mengubur seseorang. Dan seperti manusia yang (harusnya) berakal, Maneka meletakkan batu nisan di atas kuburan itu. Lalu maneka menatap kepadaku, lirih.

“Kenapa kau bercermin?” 200 petir menyambar tempat kami berdiri.

“Akukah yang membunuh?”

 

2016
 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger