Kamis, 28 Mei 2009

KAMPUS KITA. part 1

BUKAN MAHASISWA BIASA

Part 1

KULIAH PERTAMA



”Peter, tolong aku!!. Bebaskan aku dari cengkraman Dr Octopus!!, Peter ayo bangkit, tolong aku, selamatkan aku, Aku cinta kamu!!”, mendengar teriakan minta tolong dari Mary Jane tesebut, peter bangkit dari pingsannya. ”ouhh, Shit. Sakit pinggangku” peter bangkit dari pingsannya sambil memegangi pinggangnya yang sedang sakit.

”hahaha, Spiderman kurang gizi, makanya minum kalsium, biar nggak encok tu pinggang”,Dr Octopus tak tahan menahan gelak tawanya, ”ayo sini lawan aku lagi, biar aku patahin sekalian tu pinggangmu”.

Mendengar ocehan dari Dr Octopus tersebut Spiderman bangkit, dia semakin geram karena diolok-olok oleh Dr octopus apalagi setelah melihat Mary Jane berada di dalam genggaman Dr Octopus tersebut. ”baiklah gurita jelek, sini lawan aku, akan kuberikan jurus terakhirku”. ”rasakan ini, JARING KEMATIAN”, spiderman berteriak keras sambil mengeluarkan jaring dari tangannya.

Tak lama kemudian Dr Octopus takluk ditangan spiderman, dia berada di dalam jaring laba-laba sang Spiderman. Spiderman berhasil mengalahkan Octopus, dia mengikatnya bagaikan mumi. ”Eh laba-laba kunyuk, lepasin gw” Octopus marah-marah minta dilepasin sama spiderman.

”hahahaha.... makanya jangan sombong loe gurita jelek”, Peter tertawa merayakan kemenangannya, dia merangkul Mary Jane dalam pelukannya dan berkata kepada kekasihnya tersebut ”ayo Mary Jane, kita tidur bersama di jaring laba-labaku, nanti ku ikatkan jaringnya di pohon dan kita akan melihat indahnya malam”

”oh peter sayang, kamu so sweet banget, kau adalah pahlawanku yang romantis” Mary Jane menerima ajakan dari Peter Tersebut. Kemudian peter menggendong kekasihnya tersebut dan membawanya pergi ke tempat yang paling romantis malam itu.


Sesampainya di tempat yang mereka tuju, spiderman mengikatkan jaringnya di kedua pohon, lalu mereka berdua naik di atas jaring tersebut. ”Indah ya pemandangan malam ini??” Mary Jane membuka pembicaraan

kemudian Peter memandangi Mary Jane dengan penuh maksiat, peter berkata sambil memonyongkan mulutnya ”Mary Jane sayang, kiss me donk”. Lalu Mary jane juga tergoda dan Mary jane ikut-ikutan memonyongkan mulutnya dan mereka saling dekat, dan,dan,dan.......

Tapi......Tapi......Tapi.......................................


”HOOOOIIIIII..............GUNDUL......!!!!!!!!! BENGONG AJA...... !!!! DASAR GUAPLEK.......... AYO, BARIS SING BENER,!!!!”
Teriakkan seniorku yang membelah langit itu membuyarkan khayalanku ”monyet....!, baru pengen ciuman ama Mary Jane” gerutuku dalam hati, kayak gini yang namanya mahasiswa baru.

Namaku Aldi, anak laki-laki kurus berkacamata yang nyasar keterima kuliah di Surabaya Jawa-Timur. Entah mimpi apa aku lalu menulis kode SPMBnya yang tujuannya di Surabaya. Aku kembali bergumam dalam hati ”aduuuuh, jadi mahasiswa baru itu anugrah atau bencana sih???”

@@@@@


Sinar matahari Surabaya sangatlah panas, hal tersebut membuat kepala botakku ingin pecah.dan lagi-lagi suara seniorku memecahkan gelendang telingaku, tapi kali ini suaranya lebih keras dari sebelumnya ”HEI ENDI KOMTINGE??, MAHASISWA IKU KUDU TEGES, MAHASISWA KOK KOYOK NGENE, LEMES-LEMES, AYO BARIS SING BENER, JARENE SOLID!!!!”

Ah, aku mulai tidak betah ”ih nih orang ngomong apa sih, aku nggak ngerti”, aku baru sadar bahwa aku nggak bisa bahasa jawa, namun aku cuek aja kayak bebek, dan kucoba untuk mengembalikan khayalanku tadi sewaktu mau mencium Mary Jane, dalam khayalanku Mary Jane tersebut mukanya mirip sama Cinta Laura dan dia mengenakan kemeja warna putih .

Tapi sesaat pikiranku kembali untuk mengkhayal, senior yang badannya paling besar menunjukku dari depan barisan ”eh yang gundul, bengong wae!!!”, namun aku cuek aja dan kepalaku semakin kutundukkan kebawah , ”orang semuanya gundul koq” celotehku dalam hati.

Aku hanya diam pura-pura tidak melihat, lalu salah satu teman si senior yang badannya besar tersebut berkata kepadanya ”hei Rul, semuanya gundul, pie sih koen?, sing detail loh panggilnya?”.

”Oia..ya, Yo uwes lah, hei yang gundul, kurus, jelek dan kacamata sini maju nang ngarep!!”, kali ini sang senior yang badannya besar tadi memanggilku dengan lebih detail lagi.

”nang ngarep??, apaan tuh?” gumamku dalam hati, lalu aku langsung bertanya ke teman sependeritaan yang ada disebelahku, orangnya hitam, serem dan saking hitamnya giginya pun ikut hitam ”eh nang ngarep itu apa?” tanyaku sambil berbisik.

Temanku tersebut memandangku dengan kasian dan berkata dengan nada menakutkan karena gigi hitamnya yang keliatan ”eh kamu disuruh maju kedepan, ayo cepetan, nanti kamu dimakan loh, tuh liat air liur kakaknya sudah mulai keluar”. Mendengar perkataan itu jantungku mulai deg-degan tak karuan, mungkin kalo jantungku bisa bicara maka dia akan berkata ”tolong... jangan sakiti aku... aku belum kawin...aku belum menemukan pasangan jantung lain yang membuatku bahagia”

”HEI KACAMATA!!!”, suara sang senior tersebut semakin meninggi, dan saat itu pula aku maju untuk menemui sang senior tersebut.

”iya kak, ada apa? Saya salah ya?” aku berkata sok lugu di hadapan sang senior tersebut, namun setelah kuperhatikan wajah kakak senior itu mirip banget sama artis film Sylvester Stolon yang main film Rambo. Dan aku semakin seram jika membayangkan dia mengikatku di salah satu tiang dan mengalgojoku dengan senapan mesinnya lalu aku mati dan cut...cut..cut, begitu kata sutradara.

Namun apa yang ada dalam pikiranku lain halnya dengan apa yang terjadi, mendengar kata-kata sok luguku tadi, kakak senior tersebut memandangiku dengan penuh nafsu yang membara dan kakak senior tersebut mendekatkan wajahnya ke wajahku. Sekarang pikiranku berubah, dalam pikiranku, kakak senior tersebut mukanya mirip dengan artis film bokep homo yang pernah aku tonton, dan aku membayangkan bahwa dia akan menciumku dan memperkosaku di depan barisan, lalu aku kehilangan keperjakaanku.

Namun pada akhirnya, semua bayangan konyolku hilang, karena sang senior berkata ”hei.. kamu koq membangkang, udah tau salah, malah nanya?”

aku semakin bingung dan bodohnya aku semakin membangkang ”kak, salah saya apa??” lalu kakak senior tersebut memelototiku dengan tajam bagaikan elang yang melihat mangsa empuk ”kamu nggak tau apa salah kamu??”.

Aku hanya menunduk dan diam, kemudian kakak senior tersebut kembali berkata dengan suaranya yang menyaingi gemuruh petir ”KAMU ITU JELEK, ITU SALAHNYA, DIJURUSAN IKI WONGE GANTENG-GANTENG, DAN KOEN NGGAK PANTAS, MUDENG NGGAK???”

Mendengar kata-kata yang keluar dari ucapan kakak senior tadi membuatku menggrutu kesal, tapi masalah kembali datang kali ini dari temannya yang ikut menghampiriku, kali ini masalah semakin ruwet dan aku hanya bisa berdoa kepada yang ada di atas ”Ya tuhan, berikanlah aku mantra suci”.

kemudian temannya berkata kepadaku tapi kali ini dengan nada yang sedikit rendah dari sebelumnya ”eh ndul, kamu bukan orang jawa ya??”.

”iya kak” kataku datar

Namun setelah mendengar kata iya yang keluar dari mulutku, kakak senior yang tadi berkata kepadaku tertawa sinis, namun tawanya tersebut lama-kelamaan membesar menggema bumi. Aku heran ”apa yang terjadi, jangan-jangan doaku dikabulkan tuhan, dan dia kena mantraku, hahaha” tawaku dalam hati.

Kakak senior tadi masih tertawa dan kali ini berkata dengan imut ke seluruh senior-senior yang lain ”Hei teman-teman, rupanya ada yang bukan orang jawa loh disini, kita apain neh??, ada yang punya usul”.

”Astaghfirullah, naudzubillah min dzalik......., mampus”, kataku dalam hati, ternyata doaku tidak dikabulkan.

Kali ini aku mendengar suara kakak senior lagi tapi kali ini orangnya berbeda dan sumber suaranya dari pojok belakang tempat aku berdiri ”aku ada usul, bagaimana kalo kita ajarkan bahasa jawa?” suara kakak yang tadi ditujukkan kepada kawan-kawan algojonya.

”SETUJU.....!!!!” jawab mereka serentak.

Aku semakin getir menghadapi suasana, ketika ku melihat teman-teman sependeritaanku berdiri tenang di hadapan diriku. Mungkin mereka berfikir ”aduh tenang, aku terbebas dari mangsa senior”, tapi beda dengan diriku yang berfikir bahwa aku akan dimutilasi oleh para senior dan tulangku akan dijadikan sop lalu dimakan oleh mereka bersama-sama.

Aku tak sadar, ketika 10 orang senior sudah berada di hadapanku dan salah satu dari mereka berkata kepadaku ”ndul, mau diajarin bahasa jawa nggak?”.

Aku bingung tapi terpaksa mengatakan ’iya’ kepada mereka semua karena tidak mungkin aku berkata ’tidak’, bisa-bisa masalah akan menjadi semakin rumit. Kata iya yang kuucapkan barusan membuat mereka tersenyum bahagia. Tapi aku malah curiga.

”oke, sekarang saya akan ajarkan bahasa jawa, yang pertama bahasa jawanya mukaku gantenk” mereka mulai mengajariku dan salah satu dari mereka berkata ”ok, bahasa jawanya mukaku adalah ’raiku’ dan bahasa jawa gantenk adalah ’Djancok’. Nah sekarang tugasmu aldi, katakan ke hadapan teman-temanmu ’raiku djancok’, cepat katakan yang keras!!!”

Yah.. aku memulai apa yang diperintahkan oleh senior tersebut, berkali-kali aku katakan dengan keras ”raiku djancok”, dan semakin membara pula tawa para senior yang terdengar di telingaku. Dari sini aku sadar bahwa mungkin aku sedang dibodoh-bodohin oleh mereka. Teman-teman sependeritaanku mencoba menahan tawanya karena jika mereka tertawa maka mereka akan kena getahnya juga, tapi aku tahu pasti teman-temanku menyimpan rasa kasihan kepadaku.

@@@@@

Hari sudah gelap, aku telah kembali ke asrama mahasiswa, tempatku tinggal. masih terbayang di benakku apa yang aku alami tadi sore, aku mencoba rileks, kubasahi seluruh badanku yang penuh keringat dengan pancuran air shower. Itu membuatku tenang, terasa di nadiku aliran air shower yang mengalir dari ujung rambut botakku sampai ujung kakiku, kunikmati setiap aliran air yang mengalir di tubuhku.

Krruuuk, perutku bunyi dan ini tandanya aku sudah lapar. Setelah mandi dan shalat, aku langsung menuju kantin asrama. Di kantin asrama aku melihat seorang wanita yang rasanya tak asing bagiku sedang duduk sendiri dan asyik menyantap makanannya, kemudian wanita tersebut menyapaku duluan, ”hei Aldi, sini...”.

Aku kaget ternyata dia teman sependeritaanku tadi dan aku langsung menghampiri wanita tersebut ”hei... hahaha”, aku cengengesan tidak jelas karena melihat betapa aduhainya wanita tersebut.

”kamu belum kenal aku kan?, namaku Nadia”, wanita itu mengulurkan tangannya kepadaku dan kembali berkata ”aku tadi kasihan loh sama kamu”.

”hahaha, biasa itu, namanya juga mahasiswa baru” kataku sambil menyombongkan diri padahal dalam hatiku aku sangat kesal. Kemudian aku membeli makanan dan kembali duduk ditempat Nadia tadi.

Nadia sangat cantik dimataku, dia bercerita tentang dirinya bahwa dia juga bukan orang jawa, melainkan dia orang Manado Sulawesi-Utara, dan untung dia tidak mengalami apa yang aku alami. Kami hanya tertawa mengulang cerita tadi sore. Tapi betapa buntu hatiku, ”aku tidak boleh dekat-dekat perempuan lain, aku sudah punya pacar” begitu gumamku.

Tiba-tiba aku ingat pacarku yang berada disana Intan namanya, aku langsung pamit kepada Nadia , dengan alasan perutku sakit sekali padahal dalam perasaanku sangat tidak enak karena aku janji setia kepada kekasihku. Di dalam beranda kamarku, berkali-kali kubicara dengan angin, meminta sampaikan rasa sayangku ”angin, sampaikan salamku padanya ya dan aku janji akan setia, eh angin bilangin!!!”

Tak lama kemudian, handphoneku berdering dan kulihat ternyata Intan sang kekasih hatiku menelpon. waow, betapa bahagianya aku, ”terima kasih angin” celotehku dalam hati. Aku dan dia saling melepas rindu walau tidak tampak muka, aku bercerita tentang aku, dan dia bercerita tentang dia. Alangkah indahnya cinta.

Sejam setelah aku menerima telpon dari Intan, aku menerima SMS dari teman jurusanku yang isinya ”Aldi, Ayo Ngumpul di lapangan asrama...., buat persiapan besok, supaya kita kompak dan tidak ditindas senior”

Aku langsung bergegas pergi dan dalam hatiku bicara ”menjauh dari Nadia...menjauh dari Nadia”




Bagaimanakah nasib Aldi seterusnya........
(bersambung BUKAN MAHASISWA BIASA ”kuliah kedua”)

Tetap di sicanducinta.blogspot.com



 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger