Rabu, 13 Mei 2009

Menunggu Tika atau mengejar Annisa part 4

Menunggu Tika atau mengejar Annisa PART 4


PART IV

Jalan Bandung-Cirebon 05.00 Subuh

Jalan dari bandung menuju cirebon sangat ramai ini dikarenakan libur panjang, Ali tak habis pikir dia terjebak macet padahal dia berangkat sudah sangat pagi, begitu juga dengan mobil yang berada di depan mobil Ali, mobil yang ditumpangi oleh Annisa dan Randi juga mengalami hal yang sama. Di dalam mobil ali terus terpikir tentang Tika, semua kenangan indahnya bersama Tika. Ali menghidupkan kaset CD musik miliknya, kaset CD ini adalah hasil rekaman dia bersama teman-teman bermain musiknya di pekanbaru, Ali memutar-mutar dan mencari-cari lagu yang dibuat olehnya untuk Tika ketika mereka tak lagi bersama, Ali mulai menyanyi dengan Pedenya walau suaranya tidak terlalu bagus tapi di dalam mobil hanya Ali seorang, Ali meresapi tiap lirik yang dia nyanyikan.

Ali mengusap air matanya yang mengalir sempurna, dia ingin sekali Tika mendengar dan membaca lirik lagu tersebut, lagu itu membuat dia tak tahan menahan air matanya, air matanya tak terbendung lagi dan akhirnya keluar secara perlahan. Jalanan menuju cirebon sudah mulai lancar, ali agak menambah kecepatan mobilnya begitu juga dengan mobil yang ditumpangi oleh Randi dan Annisa , tapi laju mobil Ali berkurang ketika melihat keramaian di sebelah kanan jalan.

Ali menghentikan mobilnya dan memarkirnya di sebelah keramaian tersebut, ali melihat mobil hyundai keluaran tahun 2000 hancur di bagian depannya, dan bahkan mobil tersebut dalam keadaan terbalik. Ali menanyakan apa yang terjadi kepada salah seorang bapak-bapak tua yang berada disana,”Ada apa ini pak, Kecelakaan?”
“Iya, kata saksi mata pengendara mobil ini mabuk, lalu mengendarainya ugal-ugalan dan karena jalan licin mobilnya lepas kendali dan terbalik” bapak itu menceritakannya dengan penuh keyakinan.

“lalu pak, kemana pengendaranya?” Ali kembali bertanya kepada bapak tersebut, bapak tersebut kembali berkata dengan nada yang meyakinkan, “itu terjepit, dan sepertinya orangnya masih hidup”, ketika mendengar perkataan bapak itu, ali terkejut dan langsung menghampiri mobil tersebut, Ali langsung mengambil tindakan cepat, dia menginstruksikan warga yang berkerumun untuk membalikkan mobil tersebut dan seketika warga-warga disana mengikuti apa yang diperintahkan Ali.


Randi dan Annisa yang berada di lokasi kejadian sangat kagum oleh apa yang dilakukan Ali,”seperti ini alumni pimpinan aktivis mahasiswa, kata-katanya dituruti banyak orang” . walaupun kata-kata kagum yang dilontarkan randi dan annisa berbau sindiran kepada Ali. Tapi Randi dan Annisa juga tidak tinggal diam, mereka berdua menelpon rumah sakit terdekat untuk mengirimkan ambulance ke tempat tersebut. Tak lama kemudian mobil tersebut berhasil dibalik dan orang yang berada didalam mobil tersebut berhasil dikeluarkan. Tapi alangkah terkejutnya Ali ketika melihat wajah dari lelaki yang berada di dalam mobil tersebut, “Ronie,....!!!”

Ali tak mengerti apa yang telah terjadi, pagi itu juga dia ikut mengantar Ronie yang sedang tak sadarkan diri ke rumah sakit Hasan Sadikin bandung. Terlihat wajah kesal Randi dan Annisa pada saat itu, “Ali, apa yang kamu lakukan, kan tujuannya mau ke cirebon, kenapa balik lagi ke bandung?, terus siapa laki-laki itu?” .

Sambil menggaruk-garuk kepalanya Ali menjelaskan semua dihadapan Randi dan Annisa, “Namanya Ronie”. “Aku tahu”, Randi memotong pembicaraan,”Dari tadi kamu juga sudah ngomong”.

Ali mulai tidak tenang atas kelakuan temannya tersebut,”Dia itu pacarnya Tika, dan mungkin dia yang membuat Tika meninggalkanku”. Randi terkejut dan tak percaya,”dari mana kamu tahu? Memang kamu kenal?, dan kalo memang iya kenapa tidak kamu biarkan saja si ronie itu mati?”




“Randi, aku bukan orang yang seperti itu” Ali membela dirinya, Annisa hanya terdiam, bingung dengan apa yang dikatakan ali tentang Ronie. Tak lama kemudian pak Dokter keluar dari ruang tempat Ronie diperiksa dan langsung menghampiri Ali.

“sodara temannya yang kecelakaan?” dokter tersebut memberitahu Ali bahwa Ronie telah siuman, mendengar kata-kata tersebut emosi Randi keluar, Randi bagaikan orang yang dirasuki setan, “Ayo Ali, Aku sudah tak sabar ingin menambah luka diwajahnya!!!”, tapi Annisa dan Ali dengan cepat mencegah kelakuan Randi yang bagaikan setan tersebut,”Hei, Randi mau apa!!” Annisa berteriak dengan histeris tapi Randi tak menghiraukannya sedikitpun.

Dan semua terlambat, Randi langsung masuk ke ruang tempat Ronie dirawat, dan Randi berteriak kencang dihadapan Ronie yang masih terbaring. “hai bajingan, kau ya yang menyakiti hati temanku, seenaknya mengambil pacar orang, tidak tahu diri kau brengsek”, Ronie yang tidak tahu apa-apa hanya bingung, “ada apa ini, saya tidak tahu apa-apa, kamu salah orang”, Ronie ketakutan melihat Randi yang tidak dia kenal marah-marah dihadapannya.

Randi tak pikir panjang, langsung saja dia menarik kerah baju dari Ronie, tapi untung Randi tidak memukulnya karena Ali dan Annisa datang pada waktu yang tepat untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi , “hai Randi, kamu kenapa, bisa sabar sedikit tidak?”, ali sudah sangat marah atas kelakuan temannya tersebut

ketika melihat wajah Ali, Ronie setengah mati sangat terkejut, “Ali? kamu Ali kan?”, lalu Ali menghampiri Ronie yang masih terbaring dengan penuh luka di sekujur tubuhnya, “Iya aa’, ini saya Ali”,

mendengar ucapan tersebut Randi kembali emosi tapi kali ini tidak kepada Ronie, kali ini Ali yang kena getahnya, “Eh Ali bodoh, ngapain kamu panggil dia aa’ segala, sopan banget kau ali”.

“Randi tenang dulu, main emosi saja”, akhirnya Annisa berhasil menenangkan kekasihnya tersebut. Ali tetap tak ambil pusing dari perkataan Randi tersebut dia tetap fokus kepada Ronie. “aa’ Ronie kenapa? Ada apa? Apa yang telah terjadi kok sampai kecelakaan begini”.

Ronie mengangkat kepalanya dan memandang Ali dengan kasihan, “Ali, kamu kalau jadi saya pasti ingin bunuh diri, aa’ nggak mau cerita, kalau kamu ingin tahu temui saja Tika sekarang, sekarang”.

Ronie memerintahkan Ali agar tidak usah memperdulikannya, “oh iya Ali, misalnya kamu merasa Tika meninggalkanmu karena aa’, aa’ minta maaf sebesar-besarnya kepada kamu, sebenarnya saran aa’ kamu tidak usah berkunjung ke rumah Tika, aa’ takut kamu merasakan hal yang sama atau mungkin lebih sakit dari pada ini”.

Mata ronie berkaca-kaca, dan tak lama kemudian tangis yang sangat deras keluar dari mata ronie, “ya sudahlah Ali, jika kamu penasaran temuilah Tika, Pergilah dan tak usah pedulikan aa’, tinggalkan aa’ sendiri dan terima kasih atas pertolongannya membawa aa’ ke rumah sakit”.

Ali bergegas pergi dari hadapan Ronie, Ali semakin bertanya-tanya dalam pikirannya, pikirannya tidak tenang dan ali juga tidak memperdulikan Annisa dan Randi yang berjalan dibelakangnya. Annisa dan Randi terpaksa jalan dengan sangat cepat mengikuti tiap-tiap langkah cepat dari Ali.

Waktu menunjukkan pukul 16.00, sudah dua jam Ali didalam perjalanan menuju kota Cirebon. Tatapan ali sangat tajam ke depan seakan bagai elang yang mencari mangsa. Dibelakang mobil Ali, Annisa dan Randi tetap setia menemani walau mereka berdua sudah sangat lelah. Pada saat ini Ali tak bisa menangis dan tak bisa tersenyum yang terpikir olehnya hanyalah kata-kata dari Ronie sewaktu di rumah sakit tadi siang. Tak ada suara musik di dalam mobil Ali, yang ada hanyalah suara setan dan suara malaikat yang bersemayam di dalam hati Ali.

Cirebon 18.20 WIB, Ali masih ingat betul jalan ke rumah Tika, dia telah berada di daerah kedawung di kota cirebon lalu mobil Ali masuk ke salah satu jalan kecil yang seingatnya dulu jalan ini belum beraspal, namun Ali tidak masuk ke jalan tersebut, dia berhenti di simpang jalan tersebut. Ali keluar dari mobil dan diikuti pula oleh Annisa dan Randi.

“Ada apa Ali??”, Randi bingung apa yang dilakukan oleh temannya,”kamu lupa rumahnya??”.

“nggak, saya nggak sanggup mengingat semua”, Ali bersender di pintu mobilnya dan Ali menangis, namun kali ini tangisnya bagai membelah langit, bintang-bintang yang sedang menghias angkasa seketika hilang karena tangis dari Ali. Ali ingat semua kenangannya bersama Tika di jalan ini, Ali teringat ketika Tika menjemputnya di stasiun kejaksan Cirebon pada saat Ali berlibur ke cirebon, canda tawa mengiringi mereka sampai di simpang jalan ini. Ali membuka dompetnya, mencari-cari sesuatu dan akhirnya Ali menemukan sebuah foto kenangan mereka berdua, Ali kembali teringat foto tersebut mereka ambil ketika liburan tersebut.

“Ayolah Ali, aku paham”, Annisa menghampiri Ali dan mengusap-usap pundak Ali, “aduh ali, kamu kayak anak kecil saja, kamu harusnya sadar donk, kamu itu Presiden Direktur Perusahaan terkenal, kamu nggak malu sama bawahanmu?”. Mendengar kata-kata Annisa tersebut Randi tak bisa menahan tawanya.

Ali berhenti dari tangisnya, diambilnya air minum yang berada didalam mobilnya untuk mencuci mukanya. Muka Ali tambah terlihat lebih segar setelah dia selesai menunaikan shalat maghrib di mushala disekitar sana. Ali bergegas kembali menuju mobilnya, dihidupkannya mesin mobilnya dan langsung masuk ke dalam jalan tadi.

Ali ingat, dia telah berada tepat di simpang jalan rumah Tika dan dari simpang tersebut tak jauhlah rumah Tika, Namun wajah Ali berubah heran, kenapa dari simpang menuju rumah Tika yang jaraknya hanya dua rumah tersebut banyak sekali kendaraan memarkir kendaraannya. Melihat banyak sekali kendaraan, Ali langsung saja memarkir mobilnya tepat di simpang tersebut. Ali bergegas keluar dari mobilnya dan berjalan menuju rumah Tika yang terpampang jelas dari pandangannya.

“kok banyak orang??” Annisa ikut heran, apa yang sebenarnya terjadi, seketika Annisa terkejut ada seorang wanita yang memanggil namanya, “Annisa??”.

“loh, Laras..”, annisa kaget ketika melihat laras teman SMA-nya berada juga di rumah Tika,”ini ada acara apa, ras??

“kamu nggak diundang??”, laras juga ikut heran, dan annisa kembali bertanya “loh, diundang apa?”

“Ini acara tunangannya Tika, sama pacar barunya anak Kedutaan besar Indonesia untuk Australia, baik loh orangnya, nggak kayak pacar Tika yang dulu-dulu yang bisanya Cuma janji-janji kagak jelas, udah baik ganteng lagi keturunan bugis-bugis gitu”.

Annisa memandangi Ali yang berada tepat disampingnya, “Ali...Ali...”.

Ali tak percaya dengan semua yang didengarnya, Ali sadar hal inilah yang dialami oleh Ronie. Darah Ali mengalir dengan deras dari ujung rambut sampai ujung jari kakinya. Ali memasuki kerumunan dirumah tersebut, namun dia belum juga melihat Tika sedikitpun. Randi dan Annisa tak bisa bertingkah banyak, mereka berdua hanya duduk, mereka berdua tak tahu ingin melakukan apa untuk Ali. Ali seperti anjing gila pada saat itu.

Kegilaan Ali berhenti ketika dia melihat pemain musik sewaan pada pesta tersebut, ali menghampiri pemusik tersebut, “bapak satu lagu boleh nggak?”.

“wah, nggak bisa, maaf, lagu-lagunya sudah direquest jadi nggak boleh diganti, apalagi kalo situ minta lagu-lagu alternatif, soalnya ini sudah dipesan lagu sunda semua”, pemusik tersebut menolak tawaran dari Ali.

Ali mulai kesal, dan berkata kepada bapak pemusik tadi,”bapak dibayar berapa di pesta ini??”. Mulanya bapak tersebut ragu untuk menjawabnya namun atas desakan Ali bapak tersebut menjawabnya, “500 ribu sampai jam 00.00”.

Mendengar apa yang dikatakan bapak tadi, Ali langsung membuka dompetnya, Ali mengeluarkan kertas cek dari dompetnya dan menuliskan nominal uang sebesar dua juta rupiah, “Ini pak, satu lagu dua juta , gimana?”.

Awalnya bapak tersebut ragu-ragu, namun karena uang yang ditawarkan oleh Ali dalam jumlah yang sangat besar dimata bapak tersebut, maka bapak tersebut menerima tawaran Ali. “lagunya apa mas?” bapak tersebut tersenyum tanda iya.

Ali memberitahukan kepada bapak tersebut untuk menginstruksikan pengiring musik lainnya untuk bermain ketukan 4/4 di nada dasar C. Ali mengambil mike, wajahnya tak kenal malu lagi pada saat itu. Melihat Ali pada saat itu nekad ingin menyanyikan sebuah lagu Randi tidak bisa berbuat banyak karena Annisa menahan Randi, “udah biarin aja, kalau dilarang bisa brabe”.

“Assalamualaikum, selamat malam” ali menyambut para undangan pada saat itu, “sebelumnya maaf jika lagu ini menggangu, lagu ini sederhana jika tidak diresapi namun akan luar biasa jika diresapi”, “Ini lagu dari saya judulnya Berai” ketukan rytme musik telah masuk, dan ali pun menyanyikan lirik lagu tersebut.




Terlambat ku tepati janji
Saat itu kau langsung melangkah pergi
Yakinkan ini semua, yang lalu kan terbina
Terjaga oleh kelam dan kuterima kata suram

Teringat semua kasih sayangmu
Bergegas ambil langkah semu
Yakinkan ini semua, yang jelas ku merana
Terjaga oleh kelam dan bermimpi dengan suram



Dari sudut ruangan Tika terkejut, “ini lagu siapa, siapa yang pesan?”, “lagu indonesia lagi bukan lagu khas sunda” gumam tika, Tika langsung keluar menghampiri ke tempat pemain musik tersebut dia sangat marah kalau ada orang yang merusak pesatanya, alangkah terkejutnya Tika melihat sosok Ali bernyanyi di atas podium, Ali pun juga melihat Tika berdiri dihadapannya, tapi Ali tak berhenti bernyanyi, Ali melanjutkan lagunya ke bait Reff.


Reff

Haruskah kau kan pergi
Bila semua telah sepi
Haruskah kau kembali
Saat kau baca lirik ini

Apakah kau tetap pergi
Bila semua kan berganti
Haruskah kau kembali
Saat kau dengar lagu ini



Sering ku ingkar janji
Saat itu kau tak kembali
Terpukul sangat kejam, masa lalu tak terganti
Terbangun oleh hitam, dan terbias sinar gelap

Teringat semua indahnya hari
Bergegas ingin kembali
Merana oleh rindu, serpihan sesal menyerbu
Terbangun oleh hitam yang teringat kata kejam


Reff

Haruskah kau kan pergi
Bila semua telah sepi
Haruskah kau kembali
Saat kau baca lirik ini

Apakah kau tetap pergi
Bila semua kan berganti
Haruskah kau kembali
Saat kau dengar lagu ini


Ali berhenti bernyanyi, dipandanginya Tika yang sangat cantik malam itu, semua undangan terdiam, begitu juga keluarga Tika yang berada disana. Tika juga ikut mengambil mike agar suaranya terdengar pula oleh keluarga dan undangan yang berada disana. “Ali...maaf ya, semoga Ali bisa menerima kenyataan”.

Ali tak tahan lagi, matanya berkaca-kaca, kepalanya pusing, jantungnya sesak “iya Ali, mengerti, selamat ya, semoga bahagia”.

seketika ali terjatuh, dia pingsan tak tahan dengan apa yang telah dia hadapi, pandangannya gelap, otaknya kosong dan darahnya berhenti. Semua undangan mengangkat Ali ke dalam rumah. Randi dan Annisa panik tak tahu harus berbuat apa.

“Woi Alpha bangun!!!, loe kagak kuliah??” suara Ari membangunkan aku dari jurang yang gelap. Akhirnya Aku terbangun dari mimpiku, aku sadar semuanya hanya mimpi, mimpi buruk yang menghantuiku setiap malam, aku bergumam dalam hatiku dengan kesal “WOI GW ALPHA,GW BUKAN ALI, NGESELIN!!!!!!”.......................... ................

Menunggu Tika atau mengejar Annisa

TAMAT



(CERPEN INI UNTUK ORANG YANG SAYA SAYANGI)


 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger