Menunggu Tika atau mengejar Annisa PART 3
Ali membuka matanya perlahan-lahan lalu seketika mengangkat kepalanya dan menegakkan badannya, “dimana aku?” ali kembali mengingat apa yang terjadi, “apa yang telah terjadi padaku malam tadi?”, ali memberanikan diri bangkit dari tempat dimana dia terbaring, ali berjalan selangkah demi langkah lalu dibukanya pintu kamar tersebut.
Ali telah berada didepan kamar tempat dia terbaring tadi, alangkah terkejutnya ali berada di sebuah rumah bertingkat dua dan ali berada di lantai dua rumah tersebut. Dan dilihatnya seorang laki-laki datang dari arah tangga, “sudah bangun?’ suara serak basah dari seorang laki-laki semakin mengejutkan ali. Ali tidak bisa mengatur nafasnya secara teratur ketika melihat wajah laki-laki tersebut, “Randi?”. “iya ali, ini memang saya, dan ada banyak hal yang harus kita bahas”. Wajah randi semakin dekat ke wajah ali, “aku tahu betul siapa kamu ali, aku tahu tujuanmu, angan-anganmu dan segala tentangmu”. Randi, laki-laki bule, blesteran padang-belanda, dia adalah teman ali sewaktu SMA di bukit tinggi Sumatera-Barat, namun randi tidak bersama ali lagi ketika meneruskan kuliahnya, randi diterima di jurusan ekonomi Univ. Indonesia, sedangkan Ali tetap berada di Negeri Siti Nurbaya tersebut dan diterima di jurusan yang memang diimpi-impikannya.
Randi mengajak Ali untuk melanjutkan obrolannya di ruang makan, randi menceritakan bahwa tadi malam ali kecapekan dan pingsan di atas mobil dan untungnya dia tidak apa-apa karena tadi malam jalanan kota bandung sangat sudah sangat sepi karana pada saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 00.00, namun ali tidak menanyakan apa-apa tentang Annisa. Randi mengambil nasi goreng yang telah disediakkan di meja makan dan membuka pembicaraan “ali saya agak sedikit lupa tentangmu”, tatapan ali tajam terhadap temannya ini, “lupa tentang apa?”
“oke, langsung pada inti saja, saya lupa dimana kamu bertemu Tika dan Annisa?”, ali menatap randi semakin bingung, “hei kamu temanku!!!, dari SMA kita sudah berteman dan bersaing masalah akademik, olahraga dan lain-lain masa kamu lupa tentang ini”
“Aku kena amnesia” kata-kata yang terlontar dari ucapan randi sangat tajam menusuk nadi dari Ali, ali tidak percaya apa yang diucapkan temannya, “maksudmu?”, randi kembali mengulangi perkataannya, “aku amnesia ali, yang kuingat hanya sedikit dari apa-apa yang kualami” mata randi memerah dan seketika wajah bulenya pun ikut memerah, “yang kuingat hanyalah dirimu ali. Tapi aku lupa cerita indahmu tentang annisa dan tika. Coba ceritakan, itu akan membantuku mengingat semua”.
Ali menyeduh segelas teh hangat, ali sudah mulai mengatur nafasnya dengan normal, ditatapnnya wajah randi dengan penuh rasa,”kamu ingat tentang pertukaran pelajar sewaktu kita SMA?”, randi belum bisa mengingat segalanya pikirannya masih hampa,”tidak ali, ceritakan!”.
“baiklah, sewaktu kita kelas 1 SMA, ada pertukaran pelajar, dua dari sekolah kita bertukar pelajar dengan 2 pelajar yang berasal dari bandung. Dua dari sekolah kita pada saat itu adalah dua orang yang berprestasi bagus di sekolah kita dan orang itu adalah kau dan aku, tapi aku tidak tahu siapa pelajar yang bertukar dengan kita”.
Ali melanjutkan ceritanya, “dan di bandung itulah semua bermula, aku mengenal Annisa, aku mencintainya namun dia tidak berperasaan sama denganku, aku merasa penasaran dan terus mengejarnya. Namun itu semua berakhir ketika aku menemukan wanita yang terbaik yang pernah aku temui, dia Tika”.
Ali terdiam sejenak, diseduhnya kopinya, dan ketika ali melihat randi telah siap mendengar kembali, ali pun melanjutkan ceritanya, ”ya..., dia Tika, aku sayang padanya dan begitu sebaliknya, tapi aku sedih ketika pertukaran pelajar waktunya hanya satu tahun, kau dan aku kembali ke bukit tinggi, aku tidak ingin melepaskan tika dari genggamanku, aku berjanji padanya untuk kembali disisinya suatu saat nanti”, Randi melihat air mata yang keluar dari pelipis mata ali, lalu randi berpindah duduk di sebelah ali. Randi mengusap pundak temannya tersebut, “aku tahu kamu gampang untuk mengeluarkan air mata. Tenangkanlah dirimu dan kembalilah bercerita”
5 menit kemudian berhenti sudah air mata yang keluar dari mata ali, ali melanjutkan ceritanya demi temannya tersebut, “Setiap liburan semester aku berlibut ke cirebon, ke tempatnya Tika, aku lihat wajahnya penuh bunga ketika bertemu denganku, dia senang begitu juga denganku, aku habiskan waktu liburku dengan dia dan banyak sekali cerita indah dan lucuku bersama Tika” . beberapa kali Ali harus mengambil nafas panjang untuk melanjutkan ceritanya.
“ kemudian pada saat itu kita menginjak kelas 3 SMA aku terkejut setengah mati, ketika mendengar Tika dapat jatah pertukaran pelajar, Tika dapat jatah itu bersama 5 temannya salah satunya adalah Annisa tersebut, tapi aku tak peduli dengan Annisa karena yang kuinginkan adalah Tika, dan pada saat ini pula ada awal dari suatu cerita”, Randi bingung apa yang dimaksud oleh ali, “maksudmu apa, li?”
Ali melanjutkan ceritanya, “maksudku ini awal ceritamu randi, pada saat itu Annisa menyukaimu tapi kau tidak begitu, kau sangat cuek dan biasa saja”, randi terdiam, terhanyut oleh perkataan ali, randi berkata namun suaranya parau, “Ali, jadi aku sudah berpacaran lama dengan Annisa?”
Ali menjawab dengan penuh keraguan, “aku tidak tahu lagi setelah itu, waktu berlalu sangat cepat, tak terasa sudah ujian nasional dan sekejap mata kau telah berada di jakarta melanjutkan studimu”. Ali melanjutkan ceritanya namun kali ini ceritanya bulat,”aku sudah tidak mengurus tentangmu, karena pada saat itu kamu sibuk belajar, begitu juga denganku, lalu aku dengar kabar kamu diterima di UI dan itu membuatku bangga”.
Randi sudah mulai mengingat tentang semua,”OK Ali, lanjutkan ceritamu dengan tika!!” ketika ali ingin melanjutkan ceritanya suara seorang wanita memotong ceritanya, “Sudah cukup, Bagaimana Randi, sudah ingat??, dan terima kasih banyak atas ceritanya, ali”, Annisa memotong pembicaraan randi dan ali.
Suasana dan hawa rumah itu berubah dalam nadi mereka bertiga suasana nadi yang sangat dinginlah yang akhirnya membekukan meraka bertiga, lalu tak lama Randi memecah kebekuan tersebut, “Ali, aku dengar dari Umar bahwa kau ingin mengejar angan-anganmu yang tersisa, apa angan-anganmu yang tersisa?” sebelum ali menjawab pertanyaan dari Randi, randi kembali menambahkan,”yang aku ingat dari dirimu adalah angan-angan dan tujuanmu , aku tahu kau adalah lelaki yang memiliki banyak angan-angan, tapi kalau masalah cinta jangan kau angan-angankan, sangat sakit rasanya ali”
Ali tak peduli apa yang dikatakan oleh randi, “ya..randi, angan-anganku yang tersisa adalah masalah cinta, setahun aku kuliah aku diputuskan oleh Tika, dan aku stres kehilangan salah satu angan-anganku, aku berhenti belajar dan menjadi penggerak aksi kampus, lalu akhirnya aku dikeluarkan dari UNAND karena masalah yang sangat berat, bayangkan aku sudah kehilangan dua angan-angan, yang pertama menjadi dokter dan yang kedua adalah Tika”.
Randi tak percaya dengan apa yang didengar dari ucapan Ali, “Aku kesini dengan rasa penasaran, penasaran terhadap Tika dan Annisa karena dua perempuan ini yang menjadi salah satu tujuanku dalam hidup, pertama kali aku mengenal Annisa, dia juga masuk dalam hatiku tapi semua buyar karena Tika”
Mendengar ucapan itu Annisa tak bisa berdiri lama-lama, Annisa ikut duduk di hadapan Randi dan Ali, “maaf Ali, kalau aku menjadi salah satu dalam cintamu, tapi aku tak bisa, minggu depan aku dan Randi akan menikah”. Langit seolah runtuh dari apa yang didengar ali dari ucapan Annisa.
Begitu juga Randi yang memandangi sahabatnya tersebut, “ini bukan maksudku dan Annisa, Ali. Jika menyakiti hatimu kami berdua minta maaf”, kali ini Ali tidak menangis, ali tersenyum melihat sahabatnya tersebut, “bagus Randi, yang penting aku tidak penasaran, yang membuatku begini adalah penasaran, tapi sekarang tidak”
Annisa, Randi juga tersenyum melihat ali, mereka berdua tak habis pikir dengan ketidakadilan dalam kehidupan, seseorang lelaki yang telah merancang hidupnya dengan sempurna gagal dalam kenyataannya. “Ali, mau ke cirebon? Ayo kami berdua temani, sekalian kami ingin jalan-jalan mumpung libur dan menunggu minggu depan”. Ali mengangguk tanda setuju, “Ok, tapi minggu depan aku diundang dan aku ingin bernyanyi untuk teman-temanku yang bahagia”. Mereka bertiga hanyut dalam tali persahabatan, ikatan dimana tidak ada yang bisa memusnahkannya. Berbeda dengan ikatan cinta yang selalu bisa terlepas kapan saja.
“Ya, besok pagi saja kita berangkat, aku ingin semalam lagi di bandung, aku rindu bandung tempat cintaku bersemi” Ali bergumam ke kedua pasangan tersebut.
Cirebon 18.00 WIB, Ronie pacarnya Tika menghempaskan badannya di kursi mobilnya dan tangis dari matanya keluar mengiringinya menghidupkan mobilnya dan seketika mobilnya melaju dengan sangat cepat di jalanan kota cirebon menuju luar kota cirebon. Rasa panas membara dikediaman Tika telah mereda, Abah dan ibunda tika tak percaya apa yang terjadi barusan, mereka tidak percaya bahwa cinta memusnahkan segalanya dan bahkan cinta dapat memusnahkan cinta yang telah ada.
(Bersambung.......... ke. “menunggu Tika atau mengejar Annisa part IV”)



















