BAB 1
CAHAYA CINTA
Sinar matahari pagi itu menyinari kota batam dengan penuh cinta. sangat penuh makna dan rasa. Para manusia pagi itu di kota batam tidak menyadari begitu perhatiannya sang matahari, begitu besar rasa sayang mentari pagi kepada manusia, begitu rela berkorbannya dia demi manusia pagi itu. Matahari rela bangun pagi demi menyinari apa-apa yang ada di bumi, dia menyinarinya dengan adil dan sangat merata, sangat kuat dan besar sekali rasa cinta matahari kepada bumi walaupun dia harus beristirahat pada malam hari.
Pagi itu ada satu insan yang sadar, dia sadar akan cinta sang matahari yang terus bersinar setiap pagi. Namanya Kirana, seorang perempuan yang baru berumur 18 tahun, sinar sang surya pagi itu membuat dirinya menjadi bercahaya, sangat anggun, bergerak dengan lemah gemulai memanja di bawah terik sang surya. Kirana seorang anak perempuan berkulit putih , berwajah sangat manis dipadukan dengan mata bulat elips dan mengenakan kaca mata berbingkai berwarna merah muda dan warna putih. Perempuan manja yang memiliki tinggi 175 cm itu baru saja selesai dari mandinya pagi itu, di bawah pancaran sinar matahari pagi dia bertujuan mengeringkan rambut hitamnya yang panjangnya hampir mencapai pundaknya.
Kirana berdandan sangat cantik pagi itu, wajah putihnya, bola matanya, hidung mungilnya dan bibir tipisnya sangat berseri pagi itu, setelah mengenakan seragam SMA nya, dia melapisi seragamnya tersebut dengan switer berwarna putih, maching sekali dengan warna bingkai kaca matanya, dandanannya sangat fresh dan smart pagi itu, Kirana memang siswa terpelajar bukan hanya sekedar dari dandanannya, tapi juga kesehariannya di kelas dan pergaulannya dengan teman-teman sebayanya.
Sudah hampir 10 menit kirana berada di beranda apartemennya, ditemani oleh sinar berkilau dari matahari dan seorang nenek yang berada di ruang makan yang sedang menyiapkan sarapan untuk pagi itu, Nenek Yulisa begitu Kirana mengenalnya. Sepanjang hidup kirana dia hanya mengenal dan memiliki seorang nenek, seorang nenek yang menyayanginya lebih dari segalanya, begitu juga sebaliknya kirana mencintai neneknya. Semenjak kirana dapat memandang dunia, mengerti apa dunia, dia tidak banyak bertanya kepada neneknya tentang keberadaan orang tuanya, Kirana dapat mengerti sendiri kemana kedua orang tuanya, sampai saat ini yang Kirana mengerti dari neneknya adalah bahwa orang tuanya meninggal disaat dia masih sangat kecil, dan dia diasuh oleh neneknya sampai saat ini. Sama seperti kirana yang tidak banyak tanya tentang kedua orang tuanya, sang nenek juga tidak banyak cerita tentang keberadaan kedua orang tua Kirana.
Sudah lama Kirana berada di beranda apartemennya, Kirana mulai gelisah dan perempuan itu merengek,”aduh lama banget, Nek”, Nenek tersenyum kepada cucunya tersebut dan berkata,”iya kirana, makanya nggak usah ditunggu, sebentar lagi juga datang”, sang nenek menghampiri cucunya tersebut mengelus rambutnya dan kembali berkata,”sudah kirana makanlah dulu, lagian hari ini kan tidak sekolah, kan cuma melihat pengunguman kelulusan, dan nenek yakin kamu pasti lulus lah, kirana nggak usah resah lah”, suara parau nenek tersebut dituruti oleh kirana,”iya Nek, ayo temani kirana makan nek, nenek juga makan ya” suara kirana yang manja sangat berarti dimata sang nenek.
Sudah lama kebahagian itu mengalir diantara sang Nenek dan cucunya tersebut, cinta yang terus bercahaya di antara keduanya, cinta yang terus mengalir indah bagaikan aliran sungai yang terus mengalir sampai ke mulut muara, hingga kini sang nenek sudah letih, Nenek yulisa sudah sangat lama bersama cucunya tersebut, dan dia sudah sangat tua. Dia sangat menyayangi cucunya tapi sang nenek bisa melakukan apa, dia hanya tabah dan berdoa jika kematian merengut dirinya, dia selalu berdoa untuk kebaikan kirana.
Semenjak merasakan hangat dunia, kirana sudah berada di apartemen tersebut bersama neneknya, apartemen yang terletak tepat di jantung kota batam, di sekeliling apartemen tersebut hanya ada ruko-ruko besar maupun kecil dari berbagai bidang usaha, tidak hanya ruko-ruko, di sekitar apartemen Kirana juga terdapat apartemen-apartemen yang lain tapi apartemen Kirana lah yang mencakar langit, apartemen Kirana dan sang Nenek yang paling bagus jika dibandingkan dengan apartemen-apartemen lain didaerah itu. Kamar mereka berada di lantai dua tepatnya berada di kamar no dua paling kiri. Di beranda apartemen mereka ditanam berbagai macam bunga, dari bunga melati yang paling kecil dan bunga matahari yang paling besar. Hobi menanam bunga ini merupakan salah satu hobi nenek Yulisa yang diturunkan ke cucunya. Maka itu lah Kirana juga hobi merawat bunga, karena bagi Kirana bunga adalah simbol kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup, Dan bagi neneknya kirana adalah bunga terakhir sang nenek.
Setelah menghabiskan sarapannya, Kirana kembali ke beranda tempat dia duduk tadi, arah matanya terus melihat ke arah bawah, tepatnya ke arah parkiran apartemennya. Tak lama kemudian mobil Honda berwarna berwarna biru masuk ke area parkiran apartemen yang luas tersebut, seketika kirana meloncat dari kursi tempat dia duduk dan langsung bergegas menuju parkiran tempat mobil honda biru tadi memarkir mobilnya. nenek kirana terkejut dan berkata, “aduh kirana, pelan-pelan, udah datang ya Dino?, suruh kesini dulu Dino nya!!”, perintah sang nenek ke cucunya itu. Sambil berlari, kirana menjawab perintah neneknya tersebut,” iya Nek, biar kirana jemput Dino ke bawah dulu”, kirana menuruti apa yang dikatakan neneknya.
Sekejap mata Kirana telah berada di tempat parkir apartemennya, dan sesosok pria berkulit sao matang dengan tinggi sekitar 182 cm berambut panjang berbelah tengah rapi keluar dari mobil tersebut dengan senyum nyengir, seketika Kirana berkata,”Dino, koq lama??”, rasa keingintahuan keluar dari ucapan Kirana tadi, Dino kembali nyengir tapi kali ini lebih lebar dari sebelumnya, Dino memegang kedua tangan Kirana sambil berkata,”Maaf lah daku Kirana, kan Kirana sendiri yang nyuruh pagi ini Dino buat berolahraga biar katanya kan keliatan laki-lakinya, Dino habis main bola nih”, mendengar kata-kata itu Kirana tertawa kecil, dan Dino kembali menambahkan kata-katanya,”Kirana, lagian kita kan hari ini tak masuk sekolah, Cuma sekedar melihat pengunguman saja, kan?”, mendengar penjelasan dino tadi wajah kusut Kirana tiba-tiba hilang , wajah Kirana kembali berseri, melihat senyum di wajah kirana, Dino pun berhenti nyengir, Dino juga memberikan senyum terbaiknya pagi itu kepada Kirana. Melihat senyum itu Kirana langsung menarik tangan dino, lalu membimbingnya kedalam apartemennya.
Dino, anak laki-laki saudagar barang elektronik di pulau batam tersebut. Dino terkenal lemah diantara teman-temannya karena tidak bisa berolahraga seperti anak laki-laki lainnya, hanya karena masalah sepele itu saja dia sering diolok-olok oleh teman-teman sekolahnya. Tapi dimata kirana, Dino merupakan laki-laki apa adanya, penyabar, baik dan jujur. Kirana sudah sangat lama mengenal dino, mereka berdua sudah saling mengenal sejak di taman kanak-kanak, dan mereka berdua mulai memiliki rasa sejak mulai mengenakan seragam sekolah dasar. Tapi sampai kini diantara Dino dan Kirana belum satupun diantara mereka berdua yang mengungkapkan rasa cinta mereka secara lisan. Antara Dino dan Kirana tak ada ikatan tali cinta selayaknya anak muda lainnya seperti pacaran atau apalah namanya, bagi mereka berdua cinta merupakan perasaan yang dalam tidak untuk diutarakan. Mereka berdua hanya sekedar akrab, saling memberi, saling menemani dan kadang saling mengerti, rasa yang mereka miliki itulah yang membuat Dino dan kirana semakin dekat. Dino sangat beruntung mengenal Kirana, dekat dengan kirana begitu sebaliknya, dalam hati kirana yang paling dalam dia tidak ingin kehilangan Dino yang selalu ada untuk Kirana, selalu menemani dikala kirana sedang sedih, susah ataupun disaat kirana sedang rapuh.
Dino juga sudah sangat lama akrab dengan nenek Yulisa, neneknya Kirana, sehingga dino tidak pernah malu-malu lagi jika ingin berkunjung ke rumah Kirana. Orang tua dino juga sangat akrab dengan nenek Yulisa. Semenjak mengenal Kirana semenjak itu pula Dino mengenal nenek Yulisa. Karena kedekatan nenek yulisa dengan keluarga Dino, nenek yulisa juga menganggap Dino sebagai cucunya. Di dalam apartemen, Kirana tak berhenti bercuap-cuap tentang dino, membanggakan dino yang pagi tadi ikut bermain bola bersama teman-teman yang lainnya. Kirana juga memberitahukan kepada neneknya sehingga wajah dino sampai memerah, “Nek. Tadi dino cerita, katanya dia main bola, lucu tak nek, pasti keren”, pujian itu membuat wajah dino semaikin memerah. Nenek Yulisa tidak berkata apa-apa, nenek yulisa sangat bahagia melihat cucu-cucunya yang sangat akrab tersebut.
Waktu pada saat itu telah menunjukkan pukul 08.00 pagi, sinar matahari juga sudah berpindah ke lain hati, pancaran sinar sang surya tidak lagi berada di beranda kamar apartemen tempat Kirana tinggal, entah sudah ke hati yang mana cahaya matahari pergi, kirana cemburu kepada sang matahari dan kadang-kadang kirana berbisik dalam hasratnya,”matahari, cinta mu kepada insan makhluk hidup sangat adil, tapi aku cemburu, kenapa engkau wahai matahari tidak selamanya bersamaku”, Kirana tersentak dari lamunannya, Kirana harus bergegas menuju sekolahnya untuk melihat pengunguman hasil Ujian Nasional, hati Kirana tak karuan, dia takut jikalau dirinya tidak lulus ujian nasional, dan hati kirana akan menjadi semakin kacau jika ternyata dia lulus tetapi Dino tidak lulus, Kirana lebih senang jika dia bersama dino sama-sama tidak lulus. Tapi Kirana menghapuskan pikiran-pikiran pesimis tersebut, dia tetap optimis bahwa Dino dan dirinya akan lulus ujian dan selalu bersama.
Kirana dan dino telah berada di pintu kamar apartemen Kirana, dan kirana segera berpamitan kepada neneknya,”Nek, Kirana pamit dulu ya ke sekolah”, nenek Yulisa tersenyum dan berkata,”ya sayang, hati-hati”, dan sang nenek langsung berbisik ke telinga Dino,”jaga Kirananya ya, Dino”, lalu dino tersenym dan mengangguk tanda paham dan mengisyaratkan iya kepada sang nenek. Sebenarnya bukan hanya kali itu saja nenek bebisik ke telinga dino dengan kata-kata yang sama, biasanya kata-kata itu terus dibisikkan ke telinga dino jikalau Kirana sedang akan bersama Dino seperti halnya hari ini.
Kirana dan Dino berjalan menuruni tangga apartemen,”kenapa naik tangga?, tumben, biasanya kan naik lift?”, tanya dino penasaran, lalu kirana menjawab pertanyaan dari Dino dengan nada rendah,”ya biar sehat, din”, dino tersenyum kecut seakan-akan dia adalah laki-laki yang tidak sehat, tapi jika Kirana yang berkata seperti itu Dino mau apa lagi. Mereka telah berada di pintu mobil dan akan segera bergegas, terlihat oleh kedua mata Kirana, sang nenek melambai-lambaikan tangannya ke arah Kirana, lalu kirana membalas lambaian tangan neneknya dengan begitu semangat. Begitu juga dengan Dino yang juga membalas lambaian tangan sang nenek.
Dino dan Kirana menatap ke hadapan jalan, dino menghidupkan mesin mobilnya dan segera meluncur keluar dari parkiran apartemen. Dino menyetir mobil dengan santai dan dino memutar lagu-lagu klasik untuk membuat suasana semakin damai, dino tak ingin membuat kirana takut berada didalam mobilnya. Pagi itu pulau batam hanya diramaikan oleh anak-anak SMA yang hendak melihat pengunguman hasil ujian nasional, Kirana dan Dino tak banyak bicara di dalam mobil, mereka berdua saling memikirkan tentang hasil ujian mereka, dino juga tidak menghiraukan suasana sekelilingnya, yang dia ingin adalah cepat sampai ke sekolah dan melihat pengunguman, itulah hal yang mungkin membuat dirinya tenang. Dino terus melaju santai dengan mobilnya ke arah barat, ke matahari terbenam, seakan-akan mobil tersebut melaju mengejar matahari yang cahayanya akan abadi, jika manusia membalas kasih sayang matahari.



















