Sabtu, 02 Mei 2009

Menunggu Tika atau Mengejar Annisa part 2

Menunggu Tika atau Mengejar Annisa part 2
Pagi itu ali berpakaian sangat rapi, ali terlihat sangat gagah pagi itu. Dia mengenakan kemeja berlengan pendek berwarna hitam, dan didalamnya ali mengenakan kaos polo berwarna putih. Biasanya dalam kesehariannya ali hanya sekedar mengenakan celana kain berwarna gelap tapi entah mengapa pada pagi itu ali mengenakan celana jeans biru donker, dan tak lupa pula ali menyemprotkan parfum ke sekujur tubuhnya. Tapi mata ali merah dan sembab, sudah dua hari semenjak rencana kepergiannya ke pulau jawa dia terus menangis seperti anak kecil dibawah umur. Ali tak terlihat dewasa sedikitpun seminggu belakangan ini Cuma hanya masalah perempuan yang tak kunjung usai didalam hatinya.

Ali berjalan menuju ruang tunggu di bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru-Riau, setelah ali urusan boarding pass dan airport take selesai dilakukannya ali tak mau berlama-lama lagi, dia langsung menuju ruang tunggu. Suasana di ruang tunggu pagi itu sangat ramai, maklum hari ini dan seminggu seterusnya adalah hari libur panjang sekolah. Ruang tunggu tersebut hanya dipenuhi oleh keluarga-keluarga yang hendak berlibur, dari anak-anak berusia dibawah umur sampai anak kuliahan pun ikut memenuhi ruang tunggu tersebut. Dan tak lama kemudian ali bergegas pergi dari tempat duduknya, suara operator bandara memberitahukan bahwa pesawat Boing 737 GIA tujuan Jakarta harap segera naik ke pesawat, ali segera beranjak, dia memandangi matahari pagi itu, dia memandanginya dengan penuh arti, dengan penuh makna, dia juga berkata kepada matahari, “terus terangi aku”. Ali merasa matahari mendengar isi hatinya.

Sudah 30 menit pesawat yang ditumpangi ali melayang tinggi diangkasa, sudah tak tampak lagi dataran-dataran indah negeri Sumatra yang dipenuhi bukit-bukit dan sungai-sungai, jauh mata memendang yang terlihat hanya awan dikiri maupun dikanan jendela pesawat. Ali duduk tepat disebelah jendela pesawat dan disebelah kanan ali duduk seorang bapak-bapak berumur sekitar 35 tahun dan disebelahnya lagi duduk seorang ibu-ibu yang kira-kira usianya tidak terpaut jauh dari bapak tadi, mungkin istrinya begitu pikir ali. Suasana hening dan sepi didalam pesawat tiba-tiba terpecah ketika bapak tersebut menyapa ali,”liburan ya mas?, ali kaget seketika lamunannya yang indah ketika memperhatikan awan tiba-tiba buyar karena suara bapak tadi, bapak tadi kembali menyahut, “jangan melamun terus mas, perasaan ketika naik ke pesawat sampai sekarang mas melamun. “oh iya pak, saya nggak melamun, saya sedang menikmati liburan pak”, ali banyak bercerita tentang dirinya kepada bapak itu. Bapak itu terkejut ketika mendengar cerita tentang ali. “wah mencari cinta sampai jauh-jauh ke pulau jawa, perasaan perempuan-perempuan Sumatera Barat tidak kalah cantik dibandingkan dengan perempuan lain dipulau jawa”, bapak tersebut menanggapinya dengan sangat tidak setuju, tapi ali dapat membela diri sembari tertawa kecil, “ yah biasa lah pak, memperbaiki keturunan”, ali juga menambahkan dari perkataannya tadi, “soalnya pak, semakin jauh suku budaya dari kedua belah pihak biasanya semakin bagus keturunannya karena persamaan darah atau bahkan kromosomnya jauh sekali”, ali bercerita seperti dosen dikelasnya dulu, ternyata ada juga mata kuliah yang tersangkut di otak ali, dari perkataan ali barusan membuat bapak tersebut bertanya-tanya dan semakin penasaran akan siapa pemuda ini, dan bapak tersebut bertanya, Saudara dokter ya?’’, ali tertawa dan menjawabnya, “dulu pak saya mantan mahasiswa kedokteran, Cuma kuliah 2 tahun terus ada masalah sampai saya dikeluaarkan dari kampus”. Tak sadar ali dan bapak tersebut terlarut dalam pembicaraan mereka. Dan tak sadar pula bahwa tujuan ali telah dekat walaupun ali tahu dia harus terpukul malu.
Jakarta 12.30 WIB, ali telah tiba dibandara Soekarno-Hatta. Ketika keluar dari bandara ali melihat sahabatnya yang bernama Umar, ali tak menyangka bahwa umar si putra batak tersebut akan menjemput dia di bandara siang itu. Ali memandang umar dengan penuh makna begitu juga umar yang membalasnya sengan senyum terbaik yang dia miliki, ali menghampiri umar dan berkata, “hai sahabat, sudah 8 tahun, kau masih peduli terhadapku”, umar juga tak kalah bercuap,”ya ali, aku rindu sama temanku yang satu ini, si padang gila, hahahaha”, ali kembali berkata ke sahabatnya tersebut,” OK, salam hangat saja atau peluk sahabat” tawar ali kepada umar, umar cengengesan, dia ingat dulu ketika bertemu dengan ali pasti selalu melakukan salam hangat ataupun peluk mesra seorang sahabat, “yah kalau sekarang salam hangat sajalah cukup teman”, pinta umar. Dan mereka berdua saling berjabat tangan tapi ada yang kurang dihati mereka berdua, ada sesuatu yang sangat mengganjal dihati, tanpa menunggu lama dan tak berbasa-basi lagi mereka berdua tertawa dan akhirnya mereka berpelukan, berpelukan kedua lelaki yang akrab dan solid. “you’re my best friend”, umar berbisik di telinga sahabatnya

Siang itu ali langsung diajak berkeliling ibukota sambil mencari tempat makan yang nyaman untuk mereka berdua, mobil Hyundai umar menelusuri berantara gedung-gedung ibukota, sebenarnya jakarta sudah tidak asing lagi dimata ali, ali sering ke jakarta mungkin dalam hitungan minggu ai sudah sekejap mata berada dijakarta dalam urusan bisnisnya, dan karena bisnis yang padat inilah ali tidak pernah menemui umar yang juga pada saat itu sibuk pula mengurusi perusahaan miliknya. Obrolan mereka berdua didalam mobil membuat waktu tidak terasa bagi mereka berdua, tidak terasa mereka berdua telah sampai direstoran yang mereka tuju, tepatnya didaerah Senen Jakarta pusat. Siang itu jakarta cukup sepi jika dibandingkan dengan hari-hari lainnya, tampaknya warga-warga ibukota sedang menikmati libur sekolah yang datangnya 2 tahun sekali, kesempatan inilah yang dimanfaaatkan keluarga-keluarga untuk menikmati kebersamaan mereka di liburan panjang ini.

Umar mengajak ali makan bakso lapangan tembak senayan, bakso dengan porsi super itu merupakan tempat kenangan bagi kedua sahabat itu. “mas baksonya dua”, kata umar yang sudah tidak sabar ingin mengisi peut buncitnya,. Tak lama kemudian umar berkata kepada ali, “Ali,.. Apa gerangan yang membuat engkau datang ke tanah jawa ini ?’ Sebenarnya umar belum tahu tujuan sebenarnya ali tiba di jakarta pagi tadi, umar kembali bercuap,”Apa ada bisnis, atau kau sedang liburan?”, kemudian ali berkata kepada umar,” kau mengerti kisah-kisah cintaku, kan mar? Perasaaan sudah ku ceritakan semua, aku kesini bukan dalam hal bisnis, apalagi liburan”, umar semakin bertanya-tanya dan kembali berkata,”maksud kau apa li?”, ali tediam sejenak kemudian kembali menjawab pertanyaan temannya tesebut,”Ok lah umar, tujuanku bukan jakarta, mungkin tujuanku adalah cirebon atau bandung, aku kesana untuk mengejar cinta, untuk mencari cinta”, setelah ali menceritakan semuanya kepada umar, umar mengerti dan dia sudah paham betul sifat dari ali, umar tahu betul bahwa sahabatnya yang melankolis itu sedang jatuh rapuh oleh bujuk rayu cinta.dan umar juga sudah biasa jika menghadapi ali yang seperti ini, sudah 10 tahun mereka berteman. Tak lama kemudian umar kembali berkata kepada ali,”ini sob, kau bawa, sudahlah santai saja mobilku ada 3”, umar menawarkan mobilnya kepada ali, lalu umar kembali berkata,”sudahlah nggak usah pikir panjang, kau bawa mobilku, kau kejar cinta-cinta kau jika engkau masih penasaran dengan yang namanya asmara” ali tak banyak bicara dan tanpa pikir panjang ali menerima tawaran dari sahabatnya tersebut dan karena juga ali tidak enak menerima tawaran kebaikan temannya tersebut. “ya terima kasih banyak, nanti aku berangkat jam 3 sore”, hanya ucapan terima kasihlah yang bisa keluar dari mulut ali.

Di daerah senen tersebut merupakan daerah HOT-SPOT, jadi tidak heran jika banyak pemuda-pemudi sampai executive muda yang memakai laptop di daerah tersebut. waktu siang itu menunjukkan pukul 14.00 WIB, ali membuka laptopnya dan langsung menuju layanan email pribadi miliknya, takutnya jika ada email dari rekan bisnisnya, karena biasanya ali dan rekan-rekan bisnisnya berkomunikasi via email.

Cirebon 14.06, sekitar 5 menit yang lalu tangan indah dari seorang wanita bergemulai nakal di atas papan keyboard PC, wanita tersebut sedang mengetik sebuah surat elektronik kepada seorang pria. Tak lain wanita itu adalah tika, wanita yang berhasil mencuri hati ali dan merobek-robeknya bagaikan kertas yang sudah tidak digunakkan lagi. tika telah berada di Cirebon, pesawat yang ditumpangi tika
menyentuh bumi pertiwi tepat pukul 08.00 pagi, dan tika langsung bergegas menuju stasiun kereta api Gambir untuk memesan tiket kereta api tujuan Cirebon, tika tak berlama-lama berada di Jakarta, hanya dalam hitungan jam saja tika langsung meninggalkan ibukota yang dulu bernama kota Batavia tersebut. tika sudah tak tahan menahan rindu kepada kedua orang tuanya dan kedua adiknya, Tika menulis sebuah pesan kepada ali yang dikirim dengan layanan surat elektronik, yang isinya;

to: Ali Saputra

Pertamanya, mohon maaf kepada ali, bahwa sudah 5 tahun belakangan ini aku tidak menghubungi kamu, dan mohon maaf juga jika surat ini mengganggu kesibukan ali.
ali, aku tidak tahu apakah kamu sudah beristri apa belum, tapi dulu kamu pernah bilang bahwa cinta itu bukan sekedar dimiliki, dipeluk, ataupun digenggam, tapi kadang kala cinta itu harus dilepas.
kalau ali masih ingat akan kata-kata tersebut, temui aku dikediamanku di cirebon, tapi kalau ali sudah beristri saya harap kedatangan ali bersama istri, saya tungggu tiga hari dari saya mengirim e-mail ini

salam hangat, tika..............

Surat tersebut telah dibuka oleh ali, ali semakin penasaran, apa yang telah terjadi, kata-kata dalam surat yang dikirim oleh tika membuat tanda tanya besar dalam benak ali. jantung ali berdegup sangat kencang, aliran darahnya juga mengalir bagaikan aliran sungai yang berbatu yang didepannya terdapat air terjun yang sangat tinggi, dan keringat dingin juga meluncur dari sekujur tubuhnya. seketika ali bagaikan mayat hidup yang berjalan dikeramaian.

Ali telah sendiri siang itu, umar telah meninggalkannya sekitar setengah jam yang lalu karena ada rapat mendadak di kantor umar yang berada tidak jauh dari tempat mereka makan tadi. waktu pada saat itu telah menunjukkan pukul 15.02 WIB, ali segera menuju mobil yang telah ditinggalkan umar untuknya, sesegera mungkin mobil yang dikendarai oleh ali melaju kencang di jalanan tol ibukota. pikiran ali pada saat itu hanya bertumpu pada suatu masalah yaitu bertumpu pada masalah utamanya, apalagi tadi tika mengiriminya surat yang tidak jelas maksudnya. ali memang tidak begitu hafal jalanan menuju cirebon tapi entah ada rasa apa ali menjadi percaya diri melesati jalan-jalan di bumi sunda tersebut, surat dari tika membuatnya tidak konsentrasi dalam mengendarai mobil sore itu, berkali-kali ali hampir lepas kendali ketika mengendarai mobil tersebut.

tak terasa jantung berdetak sangat lama da kencang, Ali telah berada tepatnya didaerah cikampek, waktu menunjukkan pukul 17.36, kira-kira 3 jam setengah lagi ali sampai ke tujuan jika perjalanan tidak macet malam itu. ali beristirahat sejenak di daerah tersebut, ali berhenti di sebuah kedai kopi yang bersebelahan dengan mesjid. Ali membasuhi wajahnya dengan air, wajahnya kembali bersinar karena basuhan air tadi. ali duduk sejenak sembari menikmati secangkir kopi. ketika tenaga ali telah pulih secepat mungkin dia bergegas menuju mobilnya. tapi suara seorang wanita menghentikan langkah ali,, “kamu gentle ya? seorang pria yang dipenuhi rasa ingin tahu, sampai-sampai mengejar cinta yang mustahil bagimu”,suara wanita tersebut keluar dari kaca mobil, dan seketika pintu mobil terbuka, dari tadi memang ada mobil yang rasanya membuntuti ali sejak ali meninggalkan daerah senen jakarta sekarang mobil tersebut tepat berada di di samping mobil ali. wanita tersebut turun, lalu tampaklah wajah wanita tersebut oleh ali, wanita berkerudung putih, berswiter tebal berwarna merah muda dan mengenakan kaca mata hitam, kemudian wanita tersebut membuka kaca matanya, ali terkejut aliran darahnya semakin melaju dengan kencang dan kemudian ali berkata,”Annisa...........”,wanita itu memang annisa, salah satu tujuan ali, wanita yang membuat ali bermimpi buruk setiap malam, dan ali hendak menghilangkan mimpi buruk itu sekarang, wanita itu menggengam tangan ali, dan seraya berkata,”apa yang kau lakukan ali?”, “seharusnya aku yang berkata seperti itu”, balas ali, annisa berfikir sejenak dan berkata, “ali ikut aku, banyak yang ingin aku bicarkan”, ali semakin tidak mengerti ada apa ini, kemudian ali kembali berkata,” ikut kamu?kemana?, aku malam ini harus ke Cirebon, aku ada urusan”, lalu annisa membalas kata-kata ali,”bukankah salah satu tujuanmu aku?”, ali berubah pikiran mendengar kata-kata itu, dan ali kembali berkata,”baiklah, kemana kita?” tanya ali, annisa tersenyum sangat manis dan berkata,”ke bandung, ke rumahku, aku ingin memperlihatkan sesuatu dan kejutan untukmu”, dan annisa kembali menambahkan perkataannya,”urusan cirebon lusa kan bisa”, begitu tawar annisa kepada diri ali. Tanpa pikir panjang ali menerima undangan secara lisan tersebut.

tujuan ali malam itu tidak jadi menuju cirebon, dia berputar arah meuju bandung, ali tidak tahu apa yang akan terjadi, kedua wanita tujuan hidupnya membuat dia penasaran dan semakin bingung. “Apa yang akan terjadi ya tuhan?”, ali berbisik dalam benaknya, dan dia terus berdoa kepada Yang Maha Kuasa, tak berhenti mulut ali berucap lafadz Asmaul-Husna memuji tuhannya, dan tanpa sadar palang kota bandung terlihat terang oleh kedua mata ali.




bersambung.................. Menunggu Tika atau mengejar Annisa part 3
 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger