Senin, 16 Mei 2011

BEREBUT PERAWAN .. (PART 1)


BEREBUT PERAWAN
PART 1


Kata dia matamu dapat menggoreskan tinta di padang pasir , namun kataku matamu bagaikan bintang yang dapat bercahaya di dalam air. Aku dan dia selalu bertengkar akan hal itu, Akan sebuah tinta dan bintang yang takkan pernah bisa berlabuh disana. Aku dan dia, sebuah air dan padang pasir yang mengharapkan cahaya dari sebuah bintang dan segores tinta. Cahaya yang takkan pernah padam, dan tinta yang takkan bisa dihapus.


Betapa indahnya jika hamparan luas padang pasir dilukiskan dengan segores tinta yang abadi. Dan seperti apa terangnya lautan jika sebias cahaya bintang berada didalam sana setiap waktu. Mungkin jika itu benar-benar terjadi manusia dapat berjalan di dalam keindahan.





“dia tinta ku” teriak kamal di hadapan wajahku

“kau tahu, sebentar lagi dia kau akan melihat dia disampingku”.

Aku hanya terdiam mendengar teriakan kamal dengan telunjuknya menunjuk-nunjuk dadanya seolah-olah tinta itu akan benar-benar tergores disana.

“aku terlalu mencintainya, san”,

“kau tahu itu”,



Kamal bergegas meninggalkanku saat itu juga. Matanya terus memandangku sampai bayangannya benar-benar hilang dari hadapanku. Aku menunduk menghadap bayangan yang ada di bawah kakiku. Hari itu penuh sesak, pahit dan hitam. Secangkir kopi yang biasanya aku nikmati bersama kamal pada hari ini juga terasa tanpa gula.


Seutas cahaya dan sepotong tinta yang selama ini kami kenal ternyata adalah satu. Satu hati, satu cinta, dan satu wanita. Mungkin seutas cahaya dan goresan tinta yang ada di dalam hati kami yang membuat pahit kopi yang biasa kami nikmati.


TO BE CONTINUED (STAY ON SICANDUNULIS.BLOGSPOT.COM)
 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger