Selama beberapa jam pada malam itu, aku habiskan waktu untuk sekedar duduk di pinggir ranjang, aku takut menidurinya, aku takut bermimpi buruk yang bisa membawaku hanyut ke dalam laut yang paling hitam. aku takut karam seperti perahu yang hancur karena karang. aku takut ... aku takut meniduri ranjang itu.
**
Wajahku berlumur wudhu, tubuhku sudah siap sujud, namun hati, entahlah, akan kupaksakan bergerak di tengah-tengah dentuman roket yang menyerang ingatan... "baiklah akan kupaksa hati untuk sujud."
Setengah jam, adalah waktu yang cukup lama untuk berdo'a, karena biasanya waktuku cukup pendek bila berhadapan denganNya. aku membersihkan sajadah yang basah karena sesuatu, sujudku lama, hingga ada air yang menetes lebih dari basah embun di ruas daun. sujudku lama, hingga tangisku pun mungkin sedikit lebih lama.
aku kembali duduk dipinggir ranjang, masih berpikir, apakah malam ini aku sudah siap untuk tidur. aku hening sejenak, menarik nafas panjang, sesekali memejamkan mata lalu membukanya kembali, tak ada yang berubah setelah beberapa kali kucoba lakukan hal yang sama. tak ada yang berubah, yang nyata adalah sebuah kehilangan, kehilangan seekor kunang yang biasanya menemaniku bercahaya di atas ranjang.
***
dua hari yang lalu, kita bertengkar mulut, luar biasa hebat, kau berteriak di depan wajahku, aku pun membalas dengan teriakan yang lebih keras. spontan karena bentakan itu kaupun meninggalkan pintu kamar yang terbanting sama kerasnya dengan teriakanku tadi.
setelah itu, aku melamun sendirian, hanya karena hal sederhana yang tak pernah terpikirkan, semua jadi berantakan. "ini hanya masalah sepele," sesalku dalam hati.
masalah itu, hanyalah tentang tugas untuk membersihkan seprey bekas-bekas cahaya yang kita nyalakan setiap malam, bekas bahagia-bahagia yang kita jatuhkan di atasnya. biasanya kami membagi tugas, senin sampai kamis akulah yang membereskan seprey, tiga hari sisanya tugas dia, kekasihku. --- Santi.
dan pada hari itu, rabu, tugasku lah yang membersihkan seprey, namun aku tidak mau karena jam telah tepat mengarah ke angka sembilan, dan aku ada janji yang sangat penting.
hari itu kau sangat marah, mengamuk. "kita sudah berjanji, bagas!,
***
"ah, iya. janji" pikirku lagi. aku menyentuh kepalaku saat itu.
janji adalah sebuah jendela yang bisa mengalirkan udara bahagia dari luar sana. aku sering mengabaikannya, aku sering mengingkarinya. maka mungkin bahagiapun tertutup rapat karena udara belum memasukinya.
pasti santi sangat marah karena aku selalu mengingkari janji, bukan hanya masalah seprey. makan malam, janji nonton, dan yang paling parah adalah ketika aku lupa tanggal aku dan Santi jadian, padahal sebelumnya aku berjanji akan merayakannya.
dan santi marah, karena hal paling sederhana yang telah kita sepakati. seprey, tugas mengganti seprey, hal seperti itu saja aku bisa lupa, bagaimana nanti misal aku dan Santi berbagi tugas mengganti popok bayi. lalu bagaimana bila nanti aku berbagi tugas untuk mengantar anak sekolah, dan segala macam pikiran yang akan terjadi kelak.
"mungkin, aku harus membuka lebar-lebar jendela, lalu mencari Santi diudara." gumamku.
kemudian, jendela apartemen lebar-lebar ku buka, ku hirup udara bahagia, "aku minta maaf" dalam hatiku demikian. tanpa pikir panjang, aku mencari santi diudara.
tubuku melayang diudara dengan sebaris kata-kata.
--- bagaimana cinta bisa bahagia, bila janji adalah penyebab luka, bila aku adalah timah panas yang menggores dada ----
seketika tubuhku telah jatuh ke tanah, dengan berlumur darah. dan sebuah kata janji yang belum terucap agar kau nanti benar-benar bahagia.
SURABAYA 2012
masalah itu, hanyalah tentang tugas untuk membersihkan seprey bekas-bekas cahaya yang kita nyalakan setiap malam, bekas bahagia-bahagia yang kita jatuhkan di atasnya. biasanya kami membagi tugas, senin sampai kamis akulah yang membereskan seprey, tiga hari sisanya tugas dia, kekasihku. --- Santi.
dan pada hari itu, rabu, tugasku lah yang membersihkan seprey, namun aku tidak mau karena jam telah tepat mengarah ke angka sembilan, dan aku ada janji yang sangat penting.
hari itu kau sangat marah, mengamuk. "kita sudah berjanji, bagas!,
***
"ah, iya. janji" pikirku lagi. aku menyentuh kepalaku saat itu.
janji adalah sebuah jendela yang bisa mengalirkan udara bahagia dari luar sana. aku sering mengabaikannya, aku sering mengingkarinya. maka mungkin bahagiapun tertutup rapat karena udara belum memasukinya.
pasti santi sangat marah karena aku selalu mengingkari janji, bukan hanya masalah seprey. makan malam, janji nonton, dan yang paling parah adalah ketika aku lupa tanggal aku dan Santi jadian, padahal sebelumnya aku berjanji akan merayakannya.
dan santi marah, karena hal paling sederhana yang telah kita sepakati. seprey, tugas mengganti seprey, hal seperti itu saja aku bisa lupa, bagaimana nanti misal aku dan Santi berbagi tugas mengganti popok bayi. lalu bagaimana bila nanti aku berbagi tugas untuk mengantar anak sekolah, dan segala macam pikiran yang akan terjadi kelak.
"mungkin, aku harus membuka lebar-lebar jendela, lalu mencari Santi diudara." gumamku.
kemudian, jendela apartemen lebar-lebar ku buka, ku hirup udara bahagia, "aku minta maaf" dalam hatiku demikian. tanpa pikir panjang, aku mencari santi diudara.
tubuku melayang diudara dengan sebaris kata-kata.
--- bagaimana cinta bisa bahagia, bila janji adalah penyebab luka, bila aku adalah timah panas yang menggores dada ----
seketika tubuhku telah jatuh ke tanah, dengan berlumur darah. dan sebuah kata janji yang belum terucap agar kau nanti benar-benar bahagia.
SURABAYA 2012



















