(1)
Hari-hari pada kalender 2011
adalah lipatan kertas jiwa
sejuta puisi-puisi mulia yang ditulisnya -- untuk selembar kesepianmu.
Seperti jatuh cinta pada umumnya
jantungnya mekar
setelah kau hinggap
sebagai kupu-kupu yang menetas -- melahirkan tunas
(2)
Dia angin yang beriman
menerbangkan awan-awan Tuhan
untuk albanat sayapmu
yang telanjang sendirian -- terbang kesepian
Kulit yang putih begitu suci
tempat dari kangennya yang dipenuhi taqwa
dengan tubuh yang pasrah begitu indah
dia terbaring telanjang, di sebelah tengkuk kudukmu.
kemudian dia berdo'a pada Tuhan, dengan puisi yang khusyuk:
(3)
Perlahan malam akan membimbing kita menuju keindahan
sesuatu yang belum kau pahami, muncul dari keajaiban Tuhan.
Biarkan aku mabuk keindahan-keindahan itu
aku mau di sini, hingga keindahan mengajakku pergi
Pagiku tetap dingin, pun hatimu
aku masih menunggu selimut yang kau rajut tanpa sepengetahuanku
lalu air mata ini tak lagi mengadu
ketabahan menjerit serak menyusun teka-teki hatimu
karena suatu hari nanti, aku akan sengaja beranjak
sementara kurasa tanganmu begitu dingin menulis sajak
(Ardiansyah Agung -- 2011)
(4)
Seorang wanita
kupu-kupu bali, aku menyebut
pembawa kitab suci, sebagai pedoman
untuk terbang bebas di udara
Namun, tinggalkan sebelah sayapmu, manis
untuk sebelah jantungnya
yang mungkin masih
mekar -- sebagai bunga yang akan tumbuh pada masa yang akan datang.
Surabaya
2013



















