Minggu, 20 Juli 2014

Puisi Alpha Hambally : Riau Pos 15 Juni 2014

Perempuan yang Sedang Merindu

kau menempelkan telepon genggam ke pipi
berharap kekasihmu melakukan hal
serupa
setiap malam, atau
pada saat kau merasakan miskram
datang bulan

panas tubuhmu menjelang tidur
semakin menjadi-jadi
kancing bajumu sedikit terbuka
seperti ingin menyemburkan sesuatu
pada saat ada yang terbekam di
dadamu

kau menahan sebilah pisau, di situ
membiarkannya tertancap, hingga kau tak tergoda akan rasa haus dan lapar, bahkan kau mulai tak percaya kepada pelukan Ibumu sendiri

oi malang nasibnya
perempuan yang sedang rindu
bisa dengan mudah bisa ditipu
tetapi Gendari, aku bukan laki-laki
yang seperti itu

2014

*************

Ketika Kuputuskan Meninggalkan Kamar

Sunyi di kamar ialah engkau. Suara
setelah jam beker selesai berbunyi.
Dan aku terpaksa menyetel ulang jam
itu setiap malam jika tak mau esok
paginya terbangun karena perihal lain.

Aku membiarkan televisi menyala dan
menayangkan berita itu setiap hari. Ada jeritan orang asing yang kehilangan suaranya sambil mencari kupingnya.

Keadaan bertambah bising. Lalu aku
mencari asal dering telepon genggam.
Tapi entah di mana, barangkali aku
juga telah kehilangan kuping.

Kemudian¯detik lambat jam dinding
dan desir radio tanpa siaran. Saling
bergantian melempar kaca jendela.
Sebelum deru kipas angin tua ikut
memecahkan semua yang tak ingin
lagi kuingat.

Tiba-tiba pintu berderit. Ibu masuk,
lalu menemukan keadaanku yang lebih
berantakan dari kamar ini.

“kau tak mendengar suara?” kata Ibu.

ah, masih ada satu suara lagi
yang harus meninggalkan kamar ini

: suara hati

2014

***********

Potret Rindu: Jazz

tak ada hari libur untuk memberi ruang pada rindu
hubungan kasih yang renggang,
bermula dari senar gitar yang tegang
meski aku sendiri tak pernah tahu,
kapan putusnya itu

*
jazz! kami menikmatinya, demi
melupakan beberapa kata yang tak sanggup dikatakan oleh jam
setelah telanjur berputar

kami disambut kepulan asap rokok
bersamaan dengan intro kasmaran
¯jari-jari bassis yang membetot
bayangan sepasang kekasih yang
sedang berciuman

sabak lampu menyalakan gairah kami,
beberapa kali gitaris kurus itu berhenti pada nada C minor tujuh
nada terdekat dari lenguh kontralto
seorang perempuan yang tampaknya lebih sedih dari kami

suasana padam, nuansa legam
perasaan mulai disentil kebosanan
setelah mereka melempar lagu Eropa
ke telinga kami
saat kami tengah asik mendengar
suara orang yang tak lagi kami rindukan

*
lalu aku terbawa sampai ke sini
demi melepas lepuh panas pada kulitku aku menyalakan lampu yang ternyata memadamkanmu
dan membiarkan orang lain merasa
terang

“maaf, aku merindukanmu
dengan cara meniduri perempuan lain.”
maaf, sebab tubuh, hatiku pun
telah aus, mencari sisa susu yang tak
menyakiti lidahku seperti susu Ibuku

*
kami pulang, menjauh dari degup musik
dan tak menemukan apa-apa
selain kucur penyesalan

2014

************

Potret Luka: Kopi

seandainya sepasang batu bandul itu
mengerti kenapa kau lebih memilih pecah daripada berhenti
dahaga rindu tak bisa reda begitu saja, sebenarnya
kendati aku menyerahkan keadaan
kepada kopi hitam yang lebih jujur dari janjimu

sampai lebam, mulut dan perasaanku
dihantam segala hal yang lebih menyerupai batu

telinga mulai akrab mendengar lagu-
lagu cinta
lalu memasrahkan ingatan dari
sengatan kopi toraja, tapi itu barangkali
¯ barangkali, seperti nasib barista kopi yang mengalami hal serupa

“tak ada yang minum kopi untuk
mengobati patah hatinya, o tuan.”
kata barista itu, sebelum memuntahkan chivas dari mulutnya

*
masih ada yang mendengkur di
kepalaku
kau yang sengaja tak tidur
selepas menenggak lima belas cangkir
kupi aceh
tanpa gula, berdua selingkuhanmu

sebelum itu kau juga pernah
mendustaiku
katamu kopi arabica, aromanya
adalah sajak cinta yang tak selesai
dari robusta
padahal membaca puisi pun kau tak
suka

*
sang barista telah sadar ketika aku
akan memutuskan bunuh diri
aku ditawatkan beraneka macam kopi.
latte, espresso, russian coffe
mochiato, hingga kopi lanang yang
katanya mampu membuat
kejantananku kembali berdiri
barista itu masih saja sempat bertanya
“sepahit apa, o tuan.”
“sepahit matamu itu, cuk” jawabku. dia tertawa

lambung ini kubiarkan asam, agar di
dalamnya:
cinta terlepas dan rindu adalah sebaik- baiknya luka
dari sakitnya laki-laki sejati

2014

**********

Understanding

sesakku tak juga mengerti
apa yang bedegap sangat pelik dalam
rongga hati ini

cinta
atau sulur yang tak jelas pangkal
ujungnya?

barangkali di situ muasal gelisah, dan
demi ini aku harus berdarah

selama kau mengurung diri di antara
gelap dan takut, misal aku bermaksud
lari
¯sekencang pencuri yang tahu diri

tenang,
hanya aku laki-laki
yang selamanya bisa kaupercaya

2014

*********

Seorang Presiden

tak seperti biasanya, pagi ini
tak senyaman ketika pertama kali
dilantik
beliau duduk
menonton dirinya di televisi
setelah malam tadi mengambil
keputusan penting
¯yang semua rakyat sudah tahu
bahwa ini adalah situasi yang sangat
genting

“Pak, bagaimana ini.” Kata Ibu
Presiden.

“Tak apa, Bu. Demi rakyat,
kita harus hidup dengan cara yang
sehat.”

2014

*******

Alibi

ditinggalkan ialah lendir kobra yang
baru saja melumpuhkan seekor kijang
sekencang larinya
tapi meninggalkan sebenarnya jauh
lebih kejam
¯tanpa perlu mencobanya

dusta, dari tahun ke tahun
berubah sesuai senjata yang kerap kali kaugenggam
dari pedang, hingga senapan laras
panjang
yang pelurunya tak pernah mengakui
perbuatannya

anak-anak kecil menertawakanku
kata mereka, aku lebih cengeng
dari penyair yang tak tahu harus
berbuat apa
ketika kehilangan cintanya

beberapa jam duduk di rumahmu
bapakmu masih saja menuduhku
melukaimu
dan kau membidik kepalaku
dengan hal-hal yang tak pernah aku
lakukan

ternyata kau suka memutar-mutar
peristiwa
dan membuat bekam luka paling nadir,
di dada penyair
sekarang, usia puisi yang kaubaca bisa
dihitung
sejak hari ini

2014

 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger