Selasa, 18 November 2014

Perempuan

Masih ingatkah kamu tentang film Si Doel Anak Betawi karya Aman
Datuk Majoindo, meskipun agak terlambat, saya menontonnya sekitar tahun 1995/1996, karena sebenarnya ada film versi sebelum itu pada tahun 1976. Sesuatu terjadi ketika saya berumur enam tahun dan saya tidak pernah peduli sisi "cinta" dalam film tersebut.

Tentang si Doelnya sendiri yang diperankan oleh Rano Karno, yang menjadi rebutan dua perempuan yaitu Sarah (Cornelia Agatha) dan Zaenab (Maudy Koesnaedi). Jika saya ingat-ingat lagi film tersebut, si Doel adalah mahasiswa dari keluarga yang sederhana--yang kesehariannya (selain kuliah) adalah menjadi supir oplet.

Lalu kenapa laki-laki yang (maaf) menyedihkan seperti dia bisa jadi bahan rebutan perempuan-perempuan cantik, seksi dan, dan, dan ya sebagainya.

Ini bukan tentang ungkapan "itu cuma film, kok" bukan. Bukan. Saya percaya bukan. Justru sebuah karya seni termasuk film (apalagi di waktu yang dulu) benar-benar karya yang lahir dari pandangan dan perasaan, tidak seperti hari ini yang hanya mementingkan ketenaran.

Hal "ganjil" seperti ini yang membuat saya bertanya-tanya perihal perempuan dan segala pertanyaannya. Kenapa Sarah dan Zaenab tidak mencari laki-laki lain saja--yang mapan, menjamin masa depan dan, dan, dan sebagainya. Kenapa si Doel tidak dilepaskan, tidak ditanggalkan. Kenapa?

Tapi saya sungguh benar-benar tidak tahu tentang itu. Sungguh. Sungguh lucu.

Lalu, bagi kamu yang pernah membaca novel tetralogi pertama Pramudia Ananta Toer "Bumi Manusia" hal serupa juga terjadi. Sungguh terjadi, kan?

Minke--si laki-laki yang berpura-pura dia adalah orang biasa berhasil membuat seorang Annelies Mallema jatuh cinta, sampai sakit, sampai demam, sampai gila, sampai mati. Padahal Annelis bisa saja melepaskan segalanya dan memulai sesuatu yang baru di Belanda. Tapi dia tidak mau, tidak bisa. Entah kenapa.

Cinta dan perempuan. Lalu duri di dalam dadanya. Sekali jatuh cinta seorang perempuan itu menjadi luar biasa. Tapi apa yang menyentuh hati mereka? Saya tidak tahu.

Sampai beberapa hari yang lalu saya membaca novel Robert Galbraith "Dekut Burung Kukuk" cerita yang sama juga terjadi. Lula Landy korban pembunuhan di novel tersebut mempunyai pacar bernama Evan Dufield. Laki-laki yang berantakan, playboy, tidak jelas, tukang mabuk dan sebagainya. Tapi Lula sangat mencintainya. Aduh entah kenapa. Padahal Lula adalah seorang model, cantik, seksi, kaya dan bisa mendapatkan apapun yang dia mau.

Saya sadar sampai ada kalimat dalam novel tersebut yang disampaikan oleh Ibu kandung Lula bahwa Evan Dufield yang sikapnya seperti itu berhasil menyentuh sisi ke-ibu-an dari Lula.

Oo itu dia. Apakah sisi ke-ibu-an (meski cuma kata dalam novel Robert Galbrith) juga berlaku untuk yang terjadi pada Annelies Mellema dan Zainab dan Sarah dan perempuan lain yang memiliki pasangan hidup yang tidak lebih baik dari penulis blog ini. Haha. Apakah berlaku sisi ke-ibu-an itu?

Barangkali iya. Bisa dikatakan iya. Ibu adalah perempuan. Coba kamu lihat seperti apa Ibu mencintaimu.

Tapi saya pada akhirnya juga tidak menemukan cara bagaimana menyentuh sisi ke-ibu-an seorang perempuan. Hah biarlah. Saya mencoba berfikir bahwa itu tidak penting. Tidak penting. Yang penting adalah saya laki-laki yang setia dan sungguh benar-benar mencintaimu. Saya tidak mengerti cara menyentuh sisi ke-ibu-an milikmu. Saya tidak mengerti. Tapi yang saya mengerti adalah memberikan apa yang saya bisa. Karena saya mencintaimu melebihi apa yang tidak pernah bisa saya katakan. Melebihi seluruh rasa kecewa dari masa lalu. Saya mencintaimu jauh lebih gila dari semua itu. Kamu iya, kamu.

Just wait. And i'll be there.

 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger