Catatan ini saya tulis pada malam 20 Desember 2014, saat hujan mengguyur kota Pekanbaru dengan deras, dan Manchester City sedang unggul 3-0 atas Crystal Palace.
Duduk di kursi berwarna merah, dengan taplak meja bergaris merah dan putih, dengan rokok yang masih banyak, saya membaca beberapa puisi kompas dan tempo beberapa tahun yang lalu, yang sebenarnya sudah pernah saya baca.
Ada garis yang tidak saya sadari ketika membacanya sekali lagi. "Kesederhanaan" atau maksud saya puisi-puisi dengan garis antara kata dengan kata, kalimat ke kalimat, bait menuju bait tersusun dengan rapi. Entah apa yang rapi, tapi saya sadari itu ada.
Saya ingat akun twitter @sajak_cinta sastra digital 140 karakter, tapi tidak sembarang akun bisa tembus, masuk dalam timeline akun @sajak_cinta, karena (kabarnya) memang dimoderasi oleh benar-benar ahli dalam kesusasteraan.
Ketika saya melakukan penghayatan, pelan-pelan, benar-benar dengan perasaan, garis itu sama. Adalah kesederhanaan, yang selama ini baru saya sadari. Makna yang kuat, pesan yang mengajak pembaca berdiskusi dengan dirinya sendiri.
Meskipun saya tidak begitu yakin dengan apa yang saya tulis. Tapi puisi-puisi kompas dan tempo adalah bacaan yang sangat dan sangat baik untuk diikuti.
Beda rasanya ketika membaca puisi-puisi selain kompas dan tempo. Ada sesuatu yang sampai di sana, kompas dan tempo itu. Dan di sanalah letak puisi sebenarnya. Meskipun saya belum menemukan tempatnya di mana.
Meskipun misal saya salah melakukan perbandingan. Bolehlah misal saya melakukan perbandingan akun @sajak_cinta dengan akun-akun termoderasi sosial media twitter lainnya. Ada sesuatu yang beda. Dan itu dia, sama ketika saya membandingkan hal tersebut dengan puisi kompas dan tempo dengan koran lainnya.
Saya rasa di sana puisi itu berada. Jauh di tempat yang tidak pernah disadari. Puisi yang (sepertinya) ditulis apa adanya dengan perasaan manusia yang baik.
Catatan ini tidak akan terlalu panjang. Dan barangkali akan saya sudahi di sini, karena hujan telah reda dan Manchester City telah mengantongi 3 angka.
Sudah lama rasanya saya tidak menyentuh blog semenjak berusaha menulis dengan serius, meskipun sampai malam ini saya tidak tahu menulis serius itu seperti apa.
Seperti puisi Tia Setiadi
" Bagaimana bila satu petang kau
bercermin
Dan kau pandang di sana bukan
wajahmu?"
Bolehlah saya berpendapat, menulis serius itu sederhana, apa adanya, karena begitulah hidup seorang penyair adanya.
Pekanbaru, 20 Desember 2014



















