Hai abang. Ada beberapa kabar buruk ketika abang
tidak lagi di Pekanbaru. Kopi ciek sudah tidak ada lagi, dan yang kedua saya
kehilangan teman minum kopi di setiap malam minggu. Bagaimana kabar pulau di
seberang sana, pasti ombaknya sangat indah, lalu tempatnya selalu ditaburi bau
pantai yang harum. Saya tidak bisa membayangkan, yang pasti jauh lebih mendebarkan
daripada jalan Tuanku Tambusai yang setiap hari macet karena waktu yang cepat.
Tidak banyak yang bisa saya tulis buat abang, saya
betul-betul kangen semua macam joke
yang suka abang katakan. Abang adalah
teman yang baik, saya selalu senang mengobrol banyak hal meskipun saya lebih
sering diam. Iya, saya memang orang yang seperti itu, pendiam dan murung. Saya
cuman selalu berusaha menjadi orang yang rendah diri saja, maka itu saya sering
diam, tapi setiap abang membuat joke, saya
selalu tertawa terbahak-bahak, bukan? J
Saya selalu mendoakan abang baik-baik di sana,
sukses karir kerjanya, kerja yang giat, lalu menikahlah jika semua sudah siap.
Saya selalu mendoakan, bahkan saya sedang menabung, misal abang menikah di
pulau seberang, saya pasti akan datang.
Tidak ada maksud apa-apa saya menulis ini. Saya cuma
kangen kepada kawan-kawan yang pernah di dekat saya. Terima kasih abang. Mohon
maaf lahir batin, sukses selalu.
Kawanmu di Pekanbaru : aha



















