Halo cuk. Sudah satu tahun lewat tiga bulan kita
tidak bertemu. Dari berita di koran dan di televisi, saya mendengar kabar bahwa
dolly sudah ditutup. Semoga kamu baik-baik saja karena keadaan tersebut. Hehe.
Kabar saya sedang sangat buruk. Banyak hal terjadi
di luar dugaan saya, barangkali juga di luar dugaanmu. Misalnya, saya yang
wisuda lebih dulu atau keadaan kita berdua yang masih nganggur. Tapi lucu ya,
hidup ini berputar dan berubah sangat cepat. Baru rasanya kemarin kita kenal,
kuliah, praktikum lalu hujan-hujanan di perum Baskara. “Waduh asu, itu jangan
diingat.” Kita berteman baik, saya bisa jamin, karena kita tidak pernah jatuh
cinta pada perempuan yang sama. Itu sebuah tanda kita adalah sahabat yang
sangat baik.
“Wah pokoknya asu-lah. Aku ndak ngerti.” Pokoknya
bagaimana pun kamu harus selalu baik. Cepatlah kamu dapat kerja, menikah, lalu
hiduplah normal seperti manusia Indonesia lainnya. Saya selalu mendoakanmu
setiap malam, cuk. Seperti yang tidak pernah kamu ketahui bahwa doa saya adalah
sesuatu yang berbahaya.
Okelah, saya menulis surat ini karena saya tidak
bisa banyak bicara ketika kangen Surabaya dan kamu dan semua orang di sana. Nanti
akhir tahun kita ngopi-lah (barangkali hari itu saya lagi banyak rejeki, dan
Surabaya selalu indah pada bulan Desember) di Keputih, banyak yang ingin saya
temui di sana.
Cuk. Kalau ketemu mas akbar, saya titip salam. Kasih
tahu masnya, saya juga selalu mendoakan dia. Buat kamu dan mas akbar kurangilah
rokok dan kopi, hiduplah baik-baik, jangan terlalu banyak bicara dan selalu
rendah diri. Itu kunci sekaligus pintu dari sejuta rasa kegembiraan.
kawan baikmu yang jauh : aha



















