Minggu, 02 Agustus 2015

Sahabat itu

Menghadiri pernikahan teman selalu memiliki kegembiraan tersendiri, walau di samping itu barangkali kamu atau dia atau saya merasa sangat kehilangan. Kehilangan waktu bersama-sama. Tak ada lagi bunyi domino di atas meja, gelak tawa, nyanyi dan ngopi bersama atau apapun yang bisa dilakukan bersama.

Satu per satu teman-teman meninggalkan saya. Hingga barangkali beberapa bulan ke depan, di meja domino ini hanya akan tinggal saya seorang.

Tak pernah saya temukan sahabat baik dalam hidup saya kecuali teman-teman sekolah dan kuliah. Lalu hidup ini bagaimana selanjutnya?

Saya masih berada dalam keadaan (seperti biasa) tak punya percaya diri yang tinggi, seperti menulis tulisan ini (yang kamu tak tahu) dibuat dengan ragu-ragu . Saya tak punya rencana apa-apa. Saya terjebak di sini. Jalan keluar tak ada lagi (yang entah kapan saya masuk ke dalamnya)

Di depan saya terbentang jalan yang gelap, mungkin di depannya jurang atau goa, karena ketika saya berteriak, cuma ada suara saya sendiri.

Seperti yang saya sampaikan di atas, sahabat yang baik kepada saya cuma sahabat yang saya temukan di sekolah dan kampus. Dan itu pasti tak akan pernah bersama-sama lagi.

Seperti yang saya ceritakan di atas, beberapa waktu yang lalu saya menghadiri pernikahan salah satu teman baik saya. Saya harus jujur (karena dusta itu dosa), saya benar-benar memeluk teman saya, saya melihat matanya, saya merasa ada kegembiraan hati dan keibaan ketika dia melepaskan seorang sahabatnya yang menyedihkan.

Lebih baik tulisan ini tak saya teruskan, karena saya masih ragu-ragu untuk menulisnya.

 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger