Saya?
Saya tak takut kehilangan itu semua. Saya tak punya harta, nama baik, gelar (ada, tapi ijazah sudah saya buang). Saya tak punya apa-apa, kekasih pun tak ada. Tapi misalnya saya punya semua hal itu, saya tetap tak akan takut. Karena kalian itu pengecut dan TAK menganggap kehilangan itu adalah sesuatu yang lumrah.
Kehilangan itu sesuatu yang lumrah. Kalian tak percaya itu, kan? Sebab itu saya katakan kalian pengecut. Hanya buang-buang waktu untuk menjelaskan apa yang saya maksud. Percuma, otak kalian tak akan sampai. Isi otak kalian cuma takut, isi otak kalian cuma takut, takut kehilangan isi otak kalian.
Apa? Kalian bilang saya gila?
Tidak! Saya tidak gila. Kalian tak tahu kalau orang gila menganggap orang wajar itulah orang gila. Saya tidak gila. Kalian yang gila. Karena kalian berdo'a di atas rasa takut.
Apa? Kalian bilang ada manusia yang berdo'a karena rasa syukur?
Baiklah, karena kalian mengatakan "rasa syukur" saya akan berhenti. Baiklah, saya tak menyampingkan rasa syukur, karena kali ini saya akan bicara dengan kalian yang suka bersyukur alias "syukurin". Kalian yang menderita pasti selalu diumpat dengan kiasan "syukurin" berarti hidup kalian memang sial ya?
Iya? iya, kan? Syukurin...
Saya tak punya rasa syukur, saya tak punya rasa takut. Kalian yang punya itu? Beruntunglah kalian, beruntung. Kalian yang tak punya apa-apa masih bisa merasakan rasa syukur. Lalu kalian yang punya banyak hal masih bisa merasakan rasa takut.
Lalu saya bagaimana?
Saya tidak merasakan semua itu. Karena saya telah kehilangan diri saya sendiri, dan itu terjadi sudah sangat lama. Karena kehilangan (seperti yang saya singgung di atas) adalah kejadian yang lumrah. Dan saya tidak merasakan adanya diri saya.



















