Selain kata-kata, adakah yang bisa tersimpan jika waktu sudah berlalu. Seandainya kita tanpa bahasa, apa nama yang pantas untuk harum kopi ini. Aku bukan Neruda. Lalu apa yang bisa kucari untuk menjelaskan ini semua. Aku tidak tahu. Di luar sana orang-orang sudah menganggap aku orang gila.
Tadi malam, setelah menulis satu puisi, aku berencana untuk bunuh diri. Dan aku menceritakan hal itu kepada seorang sahabat, aku ingin bunuh diri, setelah menulis puisi yang pastinya akan menjadi puisi terakhir. Aku tidak punya alasan lagi untuk hidup, tapi aku masih mencari-cari alasan. Tapi (lagi) aku tidak menemukan alasan yang pantas kenapa aku harus hidup. Kurang lebihnya itulah yang aku katakan kepada seorang sahabat yang sampai sekarang aku tidak tahu kenapa dia masih mau bersahabat dan tidak menganggap aku seperti orang gila. Karena aku tidak tahu kenapa dia seperti itu maka aku putuskan untuk menunda bunuh diri.
Aku ingin menjadi Shakespeare, tapi tidak bisa. Apa sebenarnya arti kata-kata jika cinta itu sudah tidak ada. Itu yang aku bingungkan (sebenarnya menangisi hal ini). Aku ingin merenung dulu, menyendiri untuk waktu yang sangat lama. Bunuh diri bukanlah jalan keluar, tapi menulis puisi juga hal yang fatal.
Lalu bagaimana ke depannya, aku barangkali merasakan apa yang dirasakan Caligula. Gejolak batin, mengejar cinta rasanya seperti mengejar bulan yang tak pernah bisa didapatkan. Dan apabila berhasil aku dapatkan, lalu apa lagi setelah itu, apalagi selain juga kata-kata.



















