Kenapa semua kisah percintaan saya selalu berakhir buruk. Apakah saya memang laki-laki yang buruk untuk dimiliki siapapun? Saya tidak suka keadaan saya di saat seperti ini. Mengurung diri. Membiarkan malam lewat di depan jendela seolah memberitahu bahwa saya memang laki-laki yang buruk untuk dimiliki siapapun. Bahkan malam pun barangkali tidak suka saya berada di sini.
Kata salah satu puisi Aan Mansyur
Hatiku cuma satu
patahkan saja jariku
Ya. Kenapa cinta tidak sekalian mematahkan kaki saya saja. Kenapa perasaan ini yang mesti patah. Kenapa juga Tuhan menciptakan cinta dan perasaan. Seandainya ketika manusia patah hati, yang patah adalah jarinya, mungkin itu rasanya jauh lebih baik, benar kata Aan.
Saya pujangga. Apakah itu hal yang buruk menurutmu?
Saya tidak berkerja dengan gaji berjuta-juta per bulan. Saya tidak suka hidup mewah, apakah itu buruk menurutmu? Jangan anggap saya orang yang rumit dan aneh. Hidup ini tidak sesederhana yang ditulis cerita teenlit. Hidup ini jauh lebih rumit daripada saya. Hidup ini terlalu naif apabila kamu melihatnya dari satu sisi.
Akhir-akhir ini perasaan saya sungguh buruk sekali. Kata puisi Mardi Luhung,
Separuh hati saya gosong
separuhnya lagi retak dan bolong
Baiklah jika menurutmu begitu. Baiklah apabila memang tidak ada yang mau tahu. Rasa-rasanya setiap saya memulai menulis lagi hati saya tersambung sendiri. Namun setiap saya mengakhiri sebuah tulisan, rasa-rasanya itulah tulisan saya yang terakhir.
Apakah besok ada hari selasa di jendela kamar saya?



















