Tidak ada yang salah dengan warna kulit. Lalu di dalam teks puisi Subagio Sastrowardoyo
“Tapi kulitku hitam. Dan Sorga bukan
tempatku berdiam. Bumi hitam. Iblis hitam. Dosa hitam. Karena itu: aku bumi
lata, aku iblis laknat, aku dosa melekat, aku sampah di tengah jalan.” Apa
yang sebenarnya membedakan satu manusia dengan yang lainnya. Kenapa Tuhan hanya
menciptakan dua warna kulit di atas banyak bahasa.
Betapa lukanya sebuah bangsa di bagian
selatan benua Afrika sana. Betapa mereka tidak dapat memahami tempat tinggal
mereka sendiri yang tidak layak untuk dihuni. Saya dapat merasakan perasaan mereka, saya jadi malu
memiliki kulit yang berwarna putih setelah Subagio Sastrowardoyo menulis puisi
berjudul Afrika Selatan, “Kristos
pengasih putih wajah—kulihat dalam buku injil bergambar dan arca-arca gereja dari
marmar—orang putih bersorak ”Hossanah!” dan ramai berarak ke sorga.”
Bagaimana bisa, Tuhan seakan diam
menyaksikan segala macam penindasan dan perbudakan yang dulu pernah terjadi di
Afrika Selatan atas dasar warna kulit. Tetapi Tuhan selalu ada di dalam hati
saya hari ini, dan saya akan ikut membela dengan seluruh kekuatan yang saya
miliki jika sekarang hal seperti itu masih terjadi.
Dulu rakyat di Afrika Selatan hanya bisa
berharap bahwa satu detik di depannya adalah kiamat atau lebih baik mereka mati
saat itu juga. Bangsa Eropa seperti ditulis Subagio Sastrowardoyo “Membuat rel dan sepur, hotel dan kapal
terbang. Mereka membuat sekolah dan kantor pos, gereja dan restoran. Tapi tidak
buatku, tidak buatku.” Bangsa Eropa mendarat di sana, membangun semua
fasilitas itu dengan menindas rakyat Afrika Selatan. Mengusir mereka ke
pinggiran kota. Saya jadi malu memiliki kulit yang berwarna putih.
Saya akan ikut melawan segala bentuk
ketidakadilan di dunia ini. Apa yang salah memangnya dengan warna kulit? Bangsa
Eropa dulu itu yang bergitu percaya tentang memanusiakan manusia, ternyata
hanya bualan semata. Mereka itu lebih hina daripada seekor kera yang sedang
membuang kotoran.
Dan bukan hanya satu negara. Portugis,
Belanda, Inggris, Perancis, Spanyol. Lima negara dengan peradaban yang lebih
maju, entah memperebutkan apa, menggusur bangsa Afrika dari rumahnya
masing-masing. Bangsa Afrika seperti dikatakan Subagio “Diam di batu-batu pinggir kota. Di gubug-gubug penuh nyamuk. Di
rawa-rawa berasap” dan menyedihkannya
bangsa Prancis ternyata tidak bisa menengahi itu, bangsa pecundang, buat
apa sebenarnya mereka ciptakan teori revolusi industri.
Kamudian bangsa Amerika, yang dengan
lantangnya menyuarakan “The New World” juga melakukan hal yang sama. Membeli
budak dari Afrika, memperkerjakannya dengan keras di pelosok-pelosok Amerika
sana, dengan upah yang hanya sebenarnya tidak cukup untuk mereka bernafas. Lalu
sebenarnya apakah manusia itu dulu?
Oh dunia yang kejam, kamu membuat saya
sadar satu hal. Saya berfikir kenapa mereka lebih baik tidak dibunuh saja.
Kenapa mereka dibiarkan hidup dalam penderitaan, dan tempat yang mereka huni
berubah menjadi padang duri-duri tajam. Kenapa mereka dibiarkan tumbuh tanpa
kepastian.
“Tetapi
istriku terus berbiak, seperti rumput di pekarangan mereka, seperti lumut di
tembok mereka, seperti cendawan di roti mereka” begitu puisi meneteskan tangis
di dalam mata saya.
Saya malu berkulit putih, lebih baik
saya berkulit hitam dan memutarbalikkan seluruh keadaan. Akan saya daratkan
kapal saya ke tanah kalian. Akan saya jajah kalian. Akan saya letakkan mulut
senjata di dalam mulut kalian. Akan saya buat kalian mati kelaparan. Akan saya
buat kalian menderita sampai keturunan kalian selanjutnya. Sebab kata Subagio
Sastrowardoyo “Bumi hitam milik kami,
tambang intan milik kami, gunung natal milik kami.” Bukan milik kalian!
Tapi saya lupa bahwa di Eropa sana tidak
ada yang dapat diambil. Eropa yang miskin. Tidak punya rempah-rempah, tidak
punya hasil tambang, tidak punya lahan dan hasil kebun, tidak punya segalanya,
hanya ada manusia-manusia yang tidak berguna bahkan hati juga sudah tidak lagi ada.
Sebab itu bangsa Eropa “boleh memburu.
Mereka boleh membakar. Mereka boleh menembak.” Dan Tuhan diam di atas sana,
bangsa Eropa pun sadar hal itu, maka “Mereka boleh membunuh. Sebab mereka kulit
putih dan Kristos pengasih putih wajah.”
Jangan jarah dan usir mereka lagi,
jangan mereka diperdagangkan lagi. Jangan buat mereka merasakan bahwa lahir
dengan berkulit hitam adalah kutukan yang mengerikan. Walaupun dunia sudah banyak
berubah hari ini, tetapi masih ada sisa di atas semua itu.
Saya sangat malu memiliki kulit berwarna
putih ketika membaca kisah-kisah ketidakadilan di sana dan kemiskinan yang saya
yakin masih ada pengaruhnya disebabkan karena warna kulit. Puisi Subagio
Sastrowardoyo ini akan saya jadikan pedoman hidup, bahwa semua manusia sama ketika
berada di depan Tuhannya. Warna kulit bukan tiket menuju sorga.



















