Sabtu, 17 Oktober 2015

Saya Malu Berkulit Putih

Tidak ada yang salah dengan warna kulit. Lalu di dalam teks puisi Subagio Sastrowardoyo “Tapi kulitku hitam. Dan Sorga bukan tempatku berdiam. Bumi hitam. Iblis hitam. Dosa hitam. Karena itu: aku bumi lata, aku iblis laknat, aku dosa melekat, aku sampah di tengah jalan.” Apa yang sebenarnya membedakan satu manusia dengan yang lainnya. Kenapa Tuhan hanya menciptakan dua warna kulit di atas banyak bahasa.
Betapa lukanya sebuah bangsa di bagian selatan benua Afrika sana. Betapa mereka tidak dapat memahami tempat tinggal mereka sendiri yang tidak layak untuk dihuni. Saya dapat  merasakan perasaan mereka, saya jadi malu memiliki kulit yang berwarna putih setelah Subagio Sastrowardoyo menulis puisi berjudul Afrika Selatan, “Kristos pengasih putih wajah—kulihat dalam buku injil bergambar dan arca-arca gereja dari marmar—orang putih bersorak ”Hossanah!” dan ramai berarak ke sorga.”
Bagaimana bisa, Tuhan seakan diam menyaksikan segala macam penindasan dan perbudakan yang dulu pernah terjadi di Afrika Selatan atas dasar warna kulit. Tetapi Tuhan selalu ada di dalam hati saya hari ini, dan saya akan ikut membela dengan seluruh kekuatan yang saya miliki jika sekarang hal seperti itu masih terjadi.
Dulu rakyat di Afrika Selatan hanya bisa berharap bahwa satu detik di depannya adalah kiamat atau lebih baik mereka mati saat itu juga. Bangsa Eropa seperti ditulis Subagio Sastrowardoyo “Membuat rel dan sepur, hotel dan kapal terbang. Mereka membuat sekolah dan kantor pos, gereja dan restoran. Tapi tidak buatku, tidak buatku.” Bangsa Eropa mendarat di sana, membangun semua fasilitas itu dengan menindas rakyat Afrika Selatan. Mengusir mereka ke pinggiran kota. Saya jadi malu memiliki kulit yang berwarna putih.
Saya akan ikut melawan segala bentuk ketidakadilan di dunia ini. Apa yang salah memangnya dengan warna kulit? Bangsa Eropa dulu itu yang bergitu percaya tentang memanusiakan manusia, ternyata hanya bualan semata. Mereka itu lebih hina daripada seekor kera yang sedang membuang kotoran.
Dan bukan hanya satu negara. Portugis, Belanda, Inggris, Perancis, Spanyol. Lima negara dengan peradaban yang lebih maju, entah memperebutkan apa, menggusur bangsa Afrika dari rumahnya masing-masing. Bangsa Afrika seperti dikatakan Subagio “Diam di batu-batu pinggir kota. Di gubug-gubug penuh nyamuk. Di rawa-rawa berasap” dan menyedihkannya bangsa Prancis ternyata tidak bisa menengahi itu, bangsa pecundang, buat apa sebenarnya mereka ciptakan teori revolusi industri.
Kamudian bangsa Amerika, yang dengan lantangnya menyuarakan “The New World” juga melakukan hal yang sama. Membeli budak dari Afrika, memperkerjakannya dengan keras di pelosok-pelosok Amerika sana, dengan upah yang hanya sebenarnya tidak cukup untuk mereka bernafas. Lalu sebenarnya apakah manusia itu dulu?
Oh dunia yang kejam, kamu membuat saya sadar satu hal. Saya berfikir kenapa mereka lebih baik tidak dibunuh saja. Kenapa mereka dibiarkan hidup dalam penderitaan, dan tempat yang mereka huni berubah menjadi padang duri-duri tajam. Kenapa mereka dibiarkan tumbuh tanpa kepastian.
Tetapi istriku terus berbiak, seperti rumput di pekarangan mereka, seperti lumut di tembok mereka, seperti cendawan di roti mereka” begitu puisi meneteskan tangis di dalam mata saya.  
Saya malu berkulit putih, lebih baik saya berkulit hitam dan memutarbalikkan seluruh keadaan. Akan saya daratkan kapal saya ke tanah kalian. Akan saya jajah kalian. Akan saya letakkan mulut senjata di dalam mulut kalian. Akan saya buat kalian mati kelaparan. Akan saya buat kalian menderita sampai keturunan kalian selanjutnya. Sebab kata Subagio Sastrowardoyo “Bumi hitam milik kami, tambang intan milik kami, gunung natal milik kami.” Bukan milik kalian!
Tapi saya lupa bahwa di Eropa sana tidak ada yang dapat diambil. Eropa yang miskin. Tidak punya rempah-rempah, tidak punya hasil tambang, tidak punya lahan dan hasil kebun, tidak punya segalanya, hanya ada manusia-manusia yang tidak berguna bahkan hati juga sudah tidak lagi ada. Sebab itu bangsa Eropa “boleh memburu. Mereka boleh membakar. Mereka boleh menembak.” Dan Tuhan diam di atas sana, bangsa Eropa pun sadar hal itu, maka “Mereka boleh membunuh. Sebab mereka kulit putih dan Kristos pengasih putih wajah.”
Jangan jarah dan usir mereka lagi, jangan mereka diperdagangkan lagi. Jangan buat mereka merasakan bahwa lahir dengan berkulit hitam adalah kutukan yang mengerikan. Walaupun dunia sudah banyak berubah hari ini, tetapi masih ada sisa di atas semua itu.
Saya sangat malu memiliki kulit berwarna putih ketika membaca kisah-kisah ketidakadilan di sana dan kemiskinan yang saya yakin masih ada pengaruhnya disebabkan karena warna kulit. Puisi Subagio Sastrowardoyo ini akan saya jadikan pedoman hidup, bahwa semua manusia sama ketika berada di depan Tuhannya. Warna kulit bukan tiket menuju sorga.
 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger