Apa sebenarnya makna
dari kampung halaman. Apa hanya sekadar pameran siapa yang paling sukses di
perantauan? Pulang ke kampung membawa mobil mewah, duit yang tebal di dompet. Saya
pikir kalau tidak diimbangi dengan sikap yang baik, saya sarankan tidak perlu
pulang kampung, karena hanya akan membuat ATM yang bertumpuk-tumpuk di dompetmu
itu jadi bau seperti sampah lalu tercium oleh orang-orang di sekitarmu.
Saya selalu pulang ke
kampung dengan duit secukupnya, karena saya yakin, keluarga di kampung tidak
butuh duit yang saya miliki. Mereka lebih pandai mencarinya karena di sini
dasarnya pasar. Keluarga saya di kampung, juga teman lama hanya butuh berbagi
senyuman.
Hari lebaran kemarin
itu bahkan tidak mampu menghitung berapa jumlah orang Minang yang berada di
perantauan. Padahal yang pulang belum semua, namun lebaran saat itu Jam Gadang
tampak mirip sebutir gula raksasa yang dirubungi semut-semut. Mau sekadar diam
pun barangkali sulit.
Sepotong puisi dari
Esha Tegar Putra yang berjudul Bukittinggi, “Seseorang
akan berjaga lewat lubang-lubang panjang. Seseorang akan berjaga di reruntuhan
pasir ngarai. Seseorang yang lain akan berjaga dalam gelombang radio malam. Seseorang
dan seseorang lagi akan berjaga di tiap pendakian, di tiap penurunan.” Mereka
yang sisanya menetap dengan setia menjaga semua sudut kota, bahkan sampai jauh
ke dalam kenangannya.
Kampung halaman saya,
Bukittinggi. Kota yang dulu pernah diperebutkan Belanda dan Jepang. Benteng
Fort De Kock hingga lubang-lubang rahasia di bawah tanah tercipta dari duka. Penganiayaan
dan kerja paksa. Mayat-mayat bergelimpangan. Jam Gadang tanpa luput telah merekam
semua itu dengan rapi dalam jarum-jarumnya. Pernah menjadi ibukota darurat
Republik Indonesia, ibukota Sumatera Selatan, sampai ibukota Sumatera Barat
sendiri. Namun Bukittinggi ternyata terlalu cantik untuk menjadi ibukota yang
sesungguhnya. Bukittinggi menjadi dirinya sendiri, di hadapan Gunung Singgalang
dan Marapi.
Masa penjajahan sudah
jauh saya tinggalkan. Kakek saya yang pejuang veteran itu sudah lama tiada.
Bekas luka tertutup dingin cuaca, pemandangan Panorama, Ngarai Sianok, kebun
binatang, pasar-pasar yang selalu ramai, jenjang 40, Great Wall Koto Baru,
kedai-kedai kopi, nasi kapau, barisan kuda bendi dan masih banyak lagi tentunya
tempat-tempat ajaib yang selalu banyak didatangi wisatawan. Orang-orang di sini
seperti sudah memaafkan masa lalu, dan kata Esha Tegar Putra:
“Di bawah jam gadang mengapa orang-orang masih
bertanya: jam berapa hari?”
Saya ingin sekali menjawab
puisi itu. Saya berfikir lama dan tiba-tiba menemukan jawaban yang sama sekali
tidak pernah saya sangka. Sebesar itu ada jam di depan mata, tapi masih juga
bertanya ini jam berapa pada orang di dekatnya. Kenapa? Maksud saya begini,
ternyata di Bukittinggi manusianya selalu ingin bicara, ngobrol, berkomunikasi.
Tidak suka sibuk sendiri-sendiri, tidak autis seperti orang kota yang sibuk
dengan gadgetnya. Itu filsafat tertinggi tentang sebuah hidup, bahwa hidup
adalah tentang atau untuk orang-orang di sekitar kita. Dan kiasan “jam berapa hari?” adalah basa-basi
bahwa semua orang di sana ingin bicara tentang banyak hal, satu sama lain,
meskipun tidak saling kenal.
Mungkin
gema lonceng tidak memberi arti apa-apa atau tidak berarti apa-apa hingga di
ketinggian ini kota seakan dibunuh lewat gairah lampu malam hari.
Ya, saya jawab lagi,
meskipun itu bukan pertanyaan. Memang semuanya tidak memberi arti apa-apa sebab
saya bangga berasal dari Bukittinggi. Saya keliru berfikir sebelumnya bahwa
pulang kampung adalah pameran kekayaan. Justru yang pulang kampung itu membantu
perekonomian kota. Berbelanja, cari tempat menginap dan makan. Lalu tentu di
tengah keramaian ada yang saling menyapa, ini sudah jam berapa, supaya tidak
lupa bahwa kita manusia, bahkan kita satu kampung dan adat. Barangkali orang
yang menanyakan “ini jam berapa” adalah sahabat seperjuangan buyut saya ketika
mengusir penjajah.
Saya tepikan semua sifat
skeptis dan kritis. Saya keliru selama ini. Orang-orang Bukittinggi selalu
mencintai kotanya. Bagi yang merantau, silahkan cari duit sebanyak-banyaknya,
lalu pulang dengan baik, pergunakan duitmu untuk menjaga kampung halaman yang
indah ini, karena selalu ada yang berjaga ketika kalian pergi. Saya bangga
karena berasal dari Bukittinggi.
Ah iya, rumah saya
berjarak beberapa meter saja dari rumah bekas kediaman Bung Hatta. Dari sana
saya mengutip puisi Esha Tegar Putra—mendengar
gema lonceng dari pucuk tiang jam gadang—mungkin tiba saatnya minum bandrek
di dekat sana. Mencari beberapa kawan lama, atau mantan pacar (Seperti suara rel di penurunan lembah. Dipukul batu, berkali dan berkali. Bergaung mengenai jantung hati)
Dan
pura-pura bertanya, ini jam berapa?



















