Lurus jalan menuju
Suliki
Di ujungnya
persimpangan
Ini jalan orang dulu
Puisi “Jalan Tan Malaka, Payakumbuh” karya
Ahda Imran telah memanggilmu. Dia membutuhkan sesuatu, menanyakan kapan kamu
akan pulang?
Kamu sepertinya perlu
melalui jalan ini sekali seumur hidup, di tempat berdirinya sejarah menghadap
perbukitan di daerah Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera
Barat, supaya kamu bisa merenungkan sesuatu di situ. Tapi sebelum kamu berjalan
lebih jauh, kamu harus mendengarkan sebuah cerita yang lahir dari sisi
Indonesia yang tersembunyi di balik bukit-bukit.
Berjalan ke arah barat
laut dari pasar kota Payakumbuh, ucap puisi itu “Liuk jalan dan pendakian, ini jalan orang dulu.” Di situ kamu dapat
melihat siapa sebenarnya kamu dalam hembusan angin. Kamu akan menemukan sebuah
jalan. Jalan yang paling panjang di kota Payakumbuh. Mereka memberinya nama “Jalan
Tan Malaka”. Tan Malaka adalah tokoh pejuang sosialis yang dilahirkan pada
tahun 1987 di Nagari Pandan Gadang, Suliki, merantau demi sebuah kebenaran atas
ketidakadilan sosial. Kamu juga mungkin tidak tahu bahwa Tan Malaka berperan
luar biasa besar atas berdirinya Republik Indonesia, di tanah tempat kamu
berdiri hari ini.
Jalan Tan Malaka “Jalan lurus panjang. Gerbang menuju kerajaan
gunung. Orang dulu pergi keluar, membawa jantung seekor burung. Pergi ke musim
yang lain, ke negeri di mana dunia bisa disebutkan dengan berbagai nama.” Setelah menamatkan
pendidikannya di Rijks Kweekschool di Haarlem, Belanda, Tan Malaka menyerahkan
sepenuh hatinya mengabdi untuk bangsa ini. Bukan sekadar
terpampang sebagai nama jalan yang dilalui oleh banyak orang. Jalan Tan Malaka,
itu juga jalan hidup yang dipilihnya dan dia tidak pernah berputar arah, atau
sekadar berpaling.
Selalu ada persimpangan di setiap jalan,
bahkan di jalan yang paling lurus pun. Hal itu pasti pernah terjadi di dalam
hidupmu sendiri, bahkan bukan hanya sekali, tetapi kamu selalu saja mengambil
jalan yang rasanya paling aman. Maksud saya, setelah kamu mengemban pendidikan
yang tinggi, ternyata bekerja bukan di perusahaan bangsamu sendiri.
Kamu harus punya pertanyaan
yang mampu menggelisahkan seorang Harry Poeze, bagaimana bisa di tempat yang
indah dan subur melahirkan seorang pemberontak. Di antara lembah-lembah, sawah,
kebun, hewan ternak, dan semuanya akan menyatu menjawab ketidaktahuan atas
dirimu sendiri. Ibarat kamu dengan gaji berjuta-juta perbulan, nongkrong di
cafe mahal, naik kendaraan mewah, hidup yang sudah aman dan tentram semestinya
juga memiliki pertanyaan yang sama, dan harus memberontak. Bukan kamu yang
menjalankan perusahaan asing itu, kamu cuma dijalankan seperti IC yang dimasukkan sebuah program.
Di bawah kamu masih
banyak yang merasakan ketidakadilan. Korupsi merajalela, hukum tidak diadili di
atas rasa nurani, masih banyak yang terluka. Ke mana kamu setelah toga itu
menempel di badan, setelah gelar-gelar menempel di balik namamu seperti lintah
penghisap darah. Darah kemanusiaanmu.
Kamu perlu berada di
sini satu kali saja. Melihat indahnya pemandangan Kabupaten Lima Puluh Kota
dari jalan Tan Malaka. Barisan perbukitan, cuaca yang sejuk, gigitan
angin-angin dari lembah yang akan merobek perasaanmu. Perasaanmu yang tidak
pernah tahu bahwa Tan Malaka menghabiskan usianya di dalam pembuangan,
pengusiran, masuk keluar penjara, barangkali ada seribu bekas cambuk di punggungnya,
juga yang sangat dalam melecut hatinya. Tapi dia tetap manusia yang tangguh,
karena Tan Malaka selalu berfikir untuk hidup kamu hari ini dan untuk kehidupan
bangsamu seterusnya. Tetapi kamu tidak pernah mau tahu, sebesar apa cinta orang
dulu itu kepadamu.
Baiklah apabila kamu
tidak mau mengerti. Tapi Jalan—Lurus
menuju Suliki. Di ujungnya persimpangan—Koto tangah dan koto tinggi. Keduanya
menuju ke dalam lembah pegunungan, rimba raya, deretan pohon pinus,
ladang-ladang kopi dan tembakau—itu selalu
terbuka untukmu. Ada sesorang yang akan selalu menunggu kamu di situ, kamu akan
disediakan kopi langsung dari ladangnya, dan tembakau yang dilinting sendiri
khusus untukmu. Barangkali setelah kopi dan tembakau itu bersatu di tubuhmu,
akan tercipta revolusi, setidaknya untuk kamu sendiri, karena selalu ada
persimpangan di setiap jalan, dan di situ selalu ada orang yang membutuhkan
pertolongan.
“Surau
dan lepau tepi jalan. Balai adat, rumah lama dengan parabola, satu dua kedai penjual
handphone. Dari depan udara dingin menyongsong. Bau lengang dari jenjang rumah
dan sayup suara menyeru” Suara sayup tangisan bangsamu, dan
suara Tan Malaka yang entah kenapa harus terbunuh. Laluilah jalan ini, kawan.
Sekali seumur hidupmu saja.
*Feature ini menjadi juara I pada Lomba Menulis Feature "Sebuah Tempat di Dalam Puisi" oleh buruan.co



















