Minggu, 30 Oktober 2016

Cinta

"Cinta bukan perasaan yang gampang tidur," kata tuan Zasdar suatu malam, di tengah hujan, dua tahun yang lalu. 6 kata yang setiap katanya bukan sesuatu dari kata itu.

Pertama kata "cinta". Saya ambil dua potong kalimat milik Dante, "Love said to me" dan "I saw love approaching". Seperti "cinta" dalam puisi Zasdar, "cinta" milik Dante juga milik kata yang lain, milik kata yang bicara kepada si aku (mungkin Dante, mungkin pembaca), dan milik kata yang datang mendekat, tapi (dalam kalimat Dante yang kedua) kepada siapa? Juga dalam sajak milik tuan Zasdar, tertuju kepada siapa? Sebelum terjawab ditujukan kepada siapa, tuan Zasdar justru menambahkan kata "perasaan". Kita malah terjebak dalam ilusi yang personal dalam diri kita, cintakah yang ada dalam perasaan? Atau perasaankah yang ada dalam cinta? Apalagi di antara dua kata tersebut, dipisahkan dengan kata "bukan". Kata "bukan" yang secara umum punya kekuatan untuk menjadikan posisi berubah negatif.

6 kata milik Zasdar adalah sajak yang selesai sekaligus tidak selesai. Ketika ia (sajaknya) menemukan bentuknya yang ingin sempurna (positif), ia (sajaknya) malah tidak menyempurnakannya. Seseorang mungkin berharap menemukan sebuah substansi dalam arti tertentu dalam kalimat itu. Namun tuan Zasdar malah membuatnya remuk. Kata "gampang" yang memiliki kekuatan untuk 'menyepelekan' subjek, justru dibalikkan kembali ke dalam kata "tidur"--lawan kata "bangun"

Jadi ada sendi terdalam yang personal, dan tidak personal. Ketika seseorang dalam kerapuhannya menjadi puas, tapi puas dalam arti yang tidak selesai.

Cinta bukanlah suatu yang memiliki sifat malaikat, kata Octavio Paz, namun ketika "cinta" menolong, lalu siapa yang menolong kita? Jangan-jangan setan. Maka tuan Zasdar masuk ke dalam sendi tersebut. Melupakan hal gaib, "cinta" dikembalikan Zasdar ke dalam sebuah hal badaniah dan akal. Meskipun ia (cinta) bisa jadi personifikasi dari hasrat. Meskipun ia (cinta) merupakan hak manusia, sekaligus kewajiban. Sajak Zasdar menurutinya, sekaligus melanggarnya. Supaya pembaca patut mencurigai cinta itu sendiri. Cinta yang diberikannya, cinta yang memberikannya.

Namun tulisan singkat ini tidak akan pernah mampu merabanya (cinta, ataupun kalimat Zasdar). Cinta yang kita kuasai, biasanya suatu hari akan menguasai kita. Mungkin tidur atau tidak bukanlah obat yang mampu menyelesaikan itu. Karena tujuan dari cinta, jika dicermati bukanlah tujuan sesungguhnya dari cinta yang kita cari.

Salam..

Read more ►

Rabu, 27 April 2016

Teka-teki Maneka


          Maneka memang tidak bisa, atau memang dia tidak mau kembali.

          Cermin itu, eh cerita itu aku baca pada tahun 2010. Dan hari ini aku menemukan cerminnya terpasang di kamar adikku. Aku tidak tahu di mana adik membelinya. Aku hanya tahu cermin itu terpasang setelah adikku mati, diperkosa dan dibunuh, oleh seorang yang sampai hari ini masih buron. Aku tahu itu adalah cermin Maneka semenjak aku berada di dalamnya.

          Tidak ada satu orang pun yang tahu, ke mana Maneka setelah itu. Tidak penting juga bagi pengarangnya untuk melanjutkan. Karena semenjak aku sadar apa yang digambarkan pengarangnya, tentang mayat-mayat yang tergeletak di tepi pantai, aku tahu kisah tentang PKI selalu berwarna kelabu. Dan aku yakin Maneka masih berada di sana, menceritakannya lagi, meskipun hanya untuk dirinya sendiri.

          Aku bercermin, entah kenapa, pada saat itu aku sedang ingin bercermin. Sambil mengingat adikku yang baru saja beranjak remaja, yang baru saja bercerita kalau ada lelaki yang mendekatinya. Dulu ketika masih kecil, adikku suka berkata, satu-satunya cara untuk melihat mata kita adalah bercermin. Tapi aku tidak percaya kepadanya.

          Tapi hari ini yang aku lihat jauh lebih dalam. Di belakang mataku ada mata yang lain. Di balik mata yang lain itu ada mata yang lebih lain lagi. Mata pembunuh, begitu menurutku ketika itu. Mata pembunuh tidak pernah sepasang. Mata pembunuh selalu ada berlapis-lapis. Mata pembunuh ada sebelum dan sesudah dia membunuh. Mata pembunuh tidak pernah tertutup. Mata pembunuh tidak pernah menangis.

Kemudian aku melihat Maneka. Dia sudah besar, kira-kira berumur 25 tahun, rambutnya sampai ke pinggang. Kakinya penuh lumpur, tangannya memegang sekop, seperti habis mengubur seseorang. Dan seperti manusia yang (harusnya) berakal, Maneka meletakkan batu nisan di atas kuburan itu. Lalu maneka menatap kepadaku, lirih.

“Kenapa kau bercermin?” 200 petir menyambar tempat kami berdiri.

“Akukah yang membunuh?”

 

2016
Read more ►

Rabu, 06 Januari 2016

Menerka Star Wars Episode VIII

Bagi fans perang bintang sejati, tentu banyak sekali pertanyaan setelah menonton Star Wars VII The Force Awakens. Ya wajar, ini film bagus untuk membuat teka-teki baru, sementara perang untuk generasi berikutnya telah dimulai. Tapi entah sadar atau tidak—kalau kamu jeli merasakan—plot cerita The Force Awakens dengan Episode IV A New Hope, terkesan hampir mirip. Ya wajar, J.J Abrams tahu apa yang sangat diinginkan fans lama, sambil berusaha tidak menutup ruang untuk fans baru.

     Karena itu, tidak mungkin pada episode berikutnya Disney/LucasFilm/siapa pun di sana memakai cara-cara lama. Karena tidak mungkin pula pada episode berikutnya, First Order (Dark Side) membangun lagi senjata pemusnah, seperti Death Star, Star Killer Base atau semacamnya yang memiliki daya hancur maha besar. Seperti Death Star yang dibangun lagi pada episode VI Return Of The Jedi.

     Apabila mereka (Disney, LucasFilm, atau siapapun di sana) tetap memakai plot lama, menurut saya banyak yang akan kecewa dan mempertanyakan apakah orang-orang di Disney dan Lucas Film telah kehabisan orang-orang kreatif.

     Semoga tidak ada lagi Death Star, atau semacamnya yang bisa menghancurkan planet. Dan jangan lagi ada manuver-manuver pesawat yang menyerang sambil menunggu perisainya (Death Star, Star Killer Base) dimatikan. -,-

Semoga tidak ada lagi yang gampang ditebak seperti itu.

     Jadi sebenarnya saya ingin menerka apa yang akan terjadi di episode VIII yang saya beri judul sendiri dengan “Secret Of The Jedi”

                                           #heningsejenak
                                           #musiklatarpembukafilmstarwars

     Pertama, mungkin sosok Luke Skywalker (Mark Hamill) sudah tidak ada di episode berikutnya. Berhubung sebenarnya Mark Hamill memang susah diajak main film lagi. Dari beberapa media yang saya baca, jauh sebelum pemutaran The Force Awakens, Mark Hamill sempat menolak kembali membintangi film ini. Mungkin karena masalah itu “Luke menghilang” menjadi ide cerita The Force Awakens. Meskipun di akhir cerita Luke menampakkan diri sekitar 1 menit tanpa dialog, dengan gaji yang kabarnya paling tinggi dibandingkan pemeran lainnya.

     Luke Skywalker menurut saya akan diceritakan wafat di awal cerita. Wafat karena sudah tua, wafat dengan cara Jedi. Lalu dimakamkan di kuil Jedi yang akhirnya ditemukan di reruntuhan planet Coruscant (ingat episode I, II dan III), dulu ibukota Old Republik.

    
     Karena wafatnya Luke Skywalker, First Order menganggap New Republik dan Resistance dalam keadaan lemah. Padahal justru sebaliknya, Luke Skywalker meninggalkan sesuatu yang sangat berharga untuk Rey, dan di bekas kuil Jedi, Rey telah memulai segalanya. Mungkin nanti akan ada beberapa Jedi muda lain selain Rey. Dan siap untuk menjalankan sebuah misi dari New Republik.

     Lalu apa misinya? Bisa jadi menyebarkan ajaran tentang Jedi dan Force. Mengembalikan Jedi ke masa kejayaannya seperti dulu di Old Republik. Dan mengembalikan Kylo Ren yang masih bingung tentang jalan yang dipilihnya, setelah mendapat citra dari kakeknya Anakin Skywalker (karena isunya Hayden Christensen akan bermain di Episode VIII), ke jalan Jedi.

     Pendapat saya ini berada di luar sekaligus di dalam anggapan penonton kalau Rey masih dalam garis keturunan Skywalker. Sementara itu perang besar juga sedang terjadi di tempat lain. First Order yang membangun sekutu baru diserang oleh armada Resistance yang bertambah besar.

     Oke. Sebenarnya seperti kurang kerjaan untuk menerka cerita seseorang. Karena George Lucas si pencipta Star Wars katanya punya cerita sendiri, Disney dan sutradaranya juga punya cerita yang lain, dan saya juga ingin berhak punya cerita sendiri, meskipun entah mau dibawa ke mana. Hehe.

     Tapi setidaknya saya sedikit yakin kalau judul untuk Episode VIII adalah “Secret Of The Jedi” entah kenapa yang saya pikirkan tentang film Star Wars sebelum-sebelumnya biasanya selalu terjadi. Kebetulan saya mengikuti film ini sejak tahun 1997-1998 sekitar kelas 3 SD. Setiap akan keluar film terbarunya, saya selalu berkhayal-khayal sendiri, dan selalu entah sengaja atau tidak, apa yang saya khayalkan itu banyak yang terjadi. Suer saya tidak bohong. Kamu lihat saja sekitar 2 tahun lagi, semoga saya dan tulisan ini masih ada. Membayangkan kamu yang masih tidak percaya.


Alpha Hambally
Mantan Pilot Terbaik Resistance
Sekarang tinggal di Pekanbaru
Read more ►

Sabtu, 24 Oktober 2015

Di Bawah Bayang Jerebu

Catatan ini saya tulis di bawah kabut asap, di kota Pekanbaru, pada hari Sabtu, tanggal 24 bulan Oktober tahun 2015, dimulai pukul 16:05 WIB.  Jadi misalnya saya meninggal dunia karena kabut asap ini, barangkali ini adalah tulisan terakhir saya di dunia, dan saya harap ada yang membacanya. Tapi sebenarnya ya saya juga tidak berharap terjadi hal yang demikian, karena saya masih ingin hidup dan ingin melakukan beberapa hal yang berguna untuk manusia, meskipun dengan paru-paru yang gosong dan berlubang1.
 
Sebelumnya saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya (entah kepada siapa dan untuk apa) karena kemarin malam telah memaki-maki korporat hutan dengan kata kotor di sosial media twitter. Mungkin itu hanya terbawa emosi, karena kabut asap ini selain membuat paru-paru sesak, juga membuat daya konsentrasi menjadi hilang. Juga pada saat keluar kata-kata makian itu kepala saya sangat pusing dan paru-paru saya sangat sakit. Sehingga saya terbawa emosi.

Barangkali ada yang bisa menjelaskan kejadian ilmiahnya, apa yang terjadi ketika manusia tidak bisa bernafas pada saat bersamaan juga konsentrasinya sedang tidak fokus, barangkali semua kosa kata kotor yang ada di pikiran akan dikeluarkannya. Seumur hidup saya, tidak pernah saya mengeluarkan kata kotor untuk ditujukan kepada seseorang, kecuali sedang bercanda. Tapi baiklah, saya meminta maaf karena kemarin malam telah kehilangan kendali. 

Baiklah korporat hutan, saya minta maaf karena memaki anda dari sosial media. Maafkan saya, saya tidak akan mengganggu usaha anda meskipun anda telah menganggu usaha saya (karena di samping menulis, saya juga jualan tiket pesawat). Silahkan bakar lahan seluas-luasnya, silahkan. Silahkan karena saya tahu, tahun kemarin tidak banyak lahan yang bisa anda bakar, karena Bapak Susilo Bambang Yudhoyono langsung turun tangan mengantisipasi kebakaran lahan dan ajaibnya hanya butuh satu hari langit menjadi biru kembali.
Silahkan bakar. Karena saya tahu, anak-anak anda juga butuh makan dan minum susu. Anak-anak anda juga ingin sekolah setinggi-tingginya. Lalu istri anda juga ingin perawatan mahal biar terlihat cantik selama 24 jam. Jadi ya sudahlah ya, silahkan bakar sepuas hati anda, saya tidak akan marah, dan tidak akan memaki anda lagi. Saya sudah pasrah.

Tunggu sebentar, sepertinya saya harus mengambil nafas sedikit, karena saya tiba-tiba jadi kehilangan kendali dan saya takut apabila memaki anda lagi. Tunggu sebentar. Ya.

Saya teringat sebuah puisi oleh Oei Sien Tjwan, puisi yang ditulisnya pada tahun 1976 yang kebetulan saya temukan tahun kemarin, yang berjudul “Di Negeri Kabut, Siapa Duduk di Situ”

DI NEGERI KABUT, SIAPA DUDUK DI SITU

Di negeri kabut, tempat segala rahasia
Bangau-bangau bebas mencari kata-kata
Rumput terbuat dari kabut hijau muda
Rumahku di sana terdiri dari kaca-kaca kabut yang keruh
Bila senja atau pagi menjatuhkan warnanya di puncak gedung2
Rumahku berdiri kokoh melukis rahasia di tengah-tengahnya
Ada, sungguh ada, di dalamnya suara kanak-kanak
Tertawa atau membagi duka
Terus menetes dari seputarnya, kabut rahasia... kabut rahasia
Di situ berkumpul seluruh keluargaku
Duduk mengenggam kata-kata

1975-1976

Sebenarnya puisi ini bukan tentang kabut asap seperti yang sekarang tengah terjadi, tapi setelah ada satu kata yang saya ubah yaitu gunung menjadi gedung (pada baris kelima) mungkin seluruh artinya jadi bergeser, mungkin sangat jauh, tapi mungkin saja tidak.

Katanya di awal puisi “di negeri kabut, tempat segala rahasia.” Ya memang ada rahasia, kita seakan tidak tahu di balik rimba-rimba yang sedang terbakar itu mungkin ada seseorang yang mengaturnya. Semakin rahasia, seperti segala benda yang terbakar, tidak akan menyisakan apa-apa, kecuali abu. Meskipun nanti “tiba-tiba” berdiri perkebunan di tempat yang terbakar itu, kita juga tetap tidak akan bisa melakukan atau membahas atau sekedar menulisnya. Ini seperti teori konspirasi besar yang harus ditindak oleh sastra. Sastra sampai sekarang belum ngapa-ngapain di dalam hutan itu kecuali di luar hutan membahas estetika dan estetika dan estetika, mirip seperti kata pengarang favorit saya Seno Gumira Ajidarma3. Karena bagi saya kebakaran hutan itu adalah hal yang tabu, dari tahun ke tahun terus terjadi dan tidak pernah ada penanggulangannya yang dilakukan dengan serius.

Ah, jadi terlalu serius kalau dibawa ke sastra. Baiklah silahkan bakar hutan itu sesuka hati anda. Ya.

Saat ini saya sedang terbaring di kasur. Kepala saya pusing, paru-paru sesak, mata pedih, badan lelah padahal dari pagi tidak melakukan apa-apa, dan saya juga tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya ingin main ke luar rumah, jalan-jalan ke toko buku, minum kopi dengan semua kawan, makan-makan, tertawa-tawa dan berbahagia, karena ini juga malam minggu.

Tapi wow! Di luar turun hujan, meski cuma gerimis kecil. Sekarang pukul 17:21 dan sebenarnya saya mau melanjutkan tulisan ini karena masih banyak yang ingin saya katakan tentang hutan dan kabut asap. Tapi saya mau mendengar suara hujan sebentar ya. Boleh ya. Semoga ini hujan yang lebat. Semoga ini hujan yang juga mampu menyapu seluruh jerebu dan bayang-bayangnya.

Pekanbaru, 2015-10-24

Catatan:
1.      Kata-kata di salah satu puisi Mardi Luhung
2.      Kata aslinya adalah gunung
3.      SGA mengatakan bahwa sebaiknya sastra membahas hal-hal yang tabu, bukan hanya bermain-main dalam hal fundamental dan estetika-estetika.
Read more ►

Sabtu, 17 Oktober 2015

Di Persimpangan Jalan Orang Dulu

Bila pulang?
Lurus jalan menuju Suliki
Di ujungnya persimpangan
Ini jalan orang dulu

Puisi “Jalan Tan Malaka, Payakumbuh” karya Ahda Imran telah memanggilmu. Dia membutuhkan sesuatu, menanyakan kapan kamu akan pulang?
Kamu sepertinya perlu melalui jalan ini sekali seumur hidup, di tempat berdirinya sejarah menghadap perbukitan di daerah Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, supaya kamu bisa merenungkan sesuatu di situ. Tapi sebelum kamu berjalan lebih jauh, kamu harus mendengarkan sebuah cerita yang lahir dari sisi Indonesia yang tersembunyi di balik bukit-bukit.
Berjalan ke arah barat laut dari pasar kota Payakumbuh, ucap puisi itu “Liuk jalan dan pendakian, ini jalan orang dulu.” Di situ kamu dapat melihat siapa sebenarnya kamu dalam hembusan angin. Kamu akan menemukan sebuah jalan. Jalan yang paling panjang di kota Payakumbuh. Mereka memberinya nama “Jalan Tan Malaka”. Tan Malaka adalah tokoh pejuang sosialis yang dilahirkan pada tahun 1987 di Nagari Pandan Gadang, Suliki, merantau demi sebuah kebenaran atas ketidakadilan sosial. Kamu juga mungkin tidak tahu bahwa Tan Malaka berperan luar biasa besar atas berdirinya Republik Indonesia, di tanah tempat kamu berdiri hari ini.
Jalan Tan Malaka “Jalan lurus panjang. Gerbang menuju kerajaan gunung. Orang dulu pergi keluar, membawa jantung seekor burung. Pergi ke musim yang lain, ke negeri di mana dunia bisa disebutkan dengan berbagai nama.” Setelah menamatkan pendidikannya di Rijks Kweekschool di Haarlem, Belanda, Tan Malaka menyerahkan sepenuh hatinya mengabdi untuk bangsa ini. Bukan sekadar terpampang sebagai nama jalan yang dilalui oleh banyak orang. Jalan Tan Malaka, itu juga jalan hidup yang dipilihnya dan dia tidak pernah berputar arah, atau sekadar berpaling.
 Selalu ada persimpangan di setiap jalan, bahkan di jalan yang paling lurus pun. Hal itu pasti pernah terjadi di dalam hidupmu sendiri, bahkan bukan hanya sekali, tetapi kamu selalu saja mengambil jalan yang rasanya paling aman. Maksud saya, setelah kamu mengemban pendidikan yang tinggi, ternyata bekerja bukan di perusahaan bangsamu sendiri.
Kamu harus punya pertanyaan yang mampu menggelisahkan seorang Harry Poeze, bagaimana bisa di tempat yang indah dan subur melahirkan seorang pemberontak. Di antara lembah-lembah, sawah, kebun, hewan ternak, dan semuanya akan menyatu menjawab ketidaktahuan atas dirimu sendiri. Ibarat kamu dengan gaji berjuta-juta perbulan, nongkrong di cafe mahal, naik kendaraan mewah, hidup yang sudah aman dan tentram semestinya juga memiliki pertanyaan yang sama, dan harus memberontak. Bukan kamu yang menjalankan perusahaan asing itu, kamu cuma dijalankan seperti IC yang dimasukkan sebuah program.
Di bawah kamu masih banyak yang merasakan ketidakadilan. Korupsi merajalela, hukum tidak diadili di atas rasa nurani, masih banyak yang terluka. Ke mana kamu setelah toga itu menempel di badan, setelah gelar-gelar menempel di balik namamu seperti lintah penghisap darah. Darah kemanusiaanmu.
Kamu perlu berada di sini satu kali saja. Melihat indahnya pemandangan Kabupaten Lima Puluh Kota dari jalan Tan Malaka. Barisan perbukitan, cuaca yang sejuk, gigitan angin-angin dari lembah yang akan merobek perasaanmu. Perasaanmu yang tidak pernah tahu bahwa Tan Malaka menghabiskan usianya di dalam pembuangan, pengusiran, masuk keluar penjara, barangkali ada seribu bekas cambuk di punggungnya, juga yang sangat dalam melecut hatinya. Tapi dia tetap manusia yang tangguh, karena Tan Malaka selalu berfikir untuk hidup kamu hari ini dan untuk kehidupan bangsamu seterusnya. Tetapi kamu tidak pernah mau tahu, sebesar apa cinta orang dulu itu kepadamu.
Baiklah apabila kamu tidak mau mengerti. Tapi Jalan—Lurus menuju Suliki. Di ujungnya persimpangan—Koto tangah dan koto tinggi. Keduanya menuju ke dalam lembah pegunungan, rimba raya, deretan pohon pinus, ladang-ladang kopi dan tembakau—itu selalu terbuka untukmu. Ada sesorang yang akan selalu menunggu kamu di situ, kamu akan disediakan kopi langsung dari ladangnya, dan tembakau yang dilinting sendiri khusus untukmu. Barangkali setelah kopi dan tembakau itu bersatu di tubuhmu, akan tercipta revolusi, setidaknya untuk kamu sendiri, karena selalu ada persimpangan di setiap jalan, dan di situ selalu ada orang yang membutuhkan pertolongan.

“Surau dan lepau tepi jalan. Balai adat, rumah lama dengan parabola, satu dua kedai penjual handphone. Dari depan udara dingin menyongsong. Bau lengang dari jenjang rumah dan sayup suara menyeru” Suara sayup tangisan bangsamu, dan suara Tan Malaka yang entah kenapa harus terbunuh. Laluilah jalan ini, kawan. Sekali seumur hidupmu saja.

*Feature ini menjadi juara I pada Lomba Menulis Feature "Sebuah Tempat di Dalam Puisi" oleh buruan.co
Read more ►
 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger