Catatan ini saya tulis di bawah kabut asap, di kota
Pekanbaru, pada hari Sabtu, tanggal 24 bulan Oktober tahun 2015, dimulai pukul
16:05 WIB. Jadi misalnya saya meninggal
dunia karena kabut asap ini, barangkali ini adalah tulisan terakhir saya di
dunia, dan saya harap ada yang membacanya. Tapi sebenarnya ya saya juga tidak
berharap terjadi hal yang demikian, karena saya masih ingin hidup dan ingin
melakukan beberapa hal yang berguna untuk manusia, meskipun dengan paru-paru yang gosong dan berlubang1.
Sebelumnya saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya
(entah kepada siapa dan untuk apa) karena kemarin malam telah memaki-maki
korporat hutan dengan kata kotor di sosial media twitter. Mungkin itu hanya
terbawa emosi, karena kabut asap ini selain membuat paru-paru sesak, juga
membuat daya konsentrasi menjadi hilang. Juga pada saat keluar kata-kata makian
itu kepala saya sangat pusing dan paru-paru saya sangat sakit. Sehingga saya
terbawa emosi.
Barangkali ada yang bisa menjelaskan kejadian
ilmiahnya, apa yang terjadi ketika manusia tidak bisa bernafas pada saat bersamaan
juga konsentrasinya sedang tidak fokus, barangkali semua kosa kata kotor yang
ada di pikiran akan dikeluarkannya. Seumur hidup saya, tidak pernah saya
mengeluarkan kata kotor untuk ditujukan kepada seseorang, kecuali sedang
bercanda. Tapi baiklah, saya meminta maaf karena kemarin malam telah kehilangan
kendali.
Baiklah korporat hutan, saya minta maaf karena
memaki anda dari sosial media. Maafkan saya, saya tidak akan mengganggu usaha
anda meskipun anda telah menganggu usaha saya (karena di samping menulis, saya
juga jualan tiket pesawat). Silahkan bakar lahan seluas-luasnya, silahkan.
Silahkan karena saya tahu, tahun kemarin tidak banyak lahan yang bisa anda
bakar, karena Bapak Susilo Bambang Yudhoyono langsung turun tangan
mengantisipasi kebakaran lahan dan ajaibnya hanya butuh satu hari langit
menjadi biru kembali.
Silahkan bakar. Karena saya tahu, anak-anak anda
juga butuh makan dan minum susu. Anak-anak anda juga ingin sekolah
setinggi-tingginya. Lalu istri anda juga ingin perawatan mahal biar terlihat
cantik selama 24 jam. Jadi ya sudahlah ya, silahkan bakar sepuas hati anda,
saya tidak akan marah, dan tidak akan memaki anda lagi. Saya sudah pasrah.
Tunggu sebentar, sepertinya saya harus mengambil
nafas sedikit, karena saya tiba-tiba jadi kehilangan kendali dan saya takut
apabila memaki anda lagi. Tunggu sebentar. Ya.
Saya teringat sebuah puisi oleh Oei Sien Tjwan,
puisi yang ditulisnya pada tahun 1976 yang kebetulan saya temukan tahun
kemarin, yang berjudul “Di Negeri Kabut, Siapa Duduk di Situ”
DI
NEGERI KABUT, SIAPA DUDUK DI SITU
Di negeri kabut, tempat segala
rahasia
Bangau-bangau bebas mencari
kata-kata
Rumput terbuat dari kabut hijau muda
Rumahku di sana terdiri dari
kaca-kaca kabut yang keruh
Bila senja atau pagi menjatuhkan
warnanya di puncak gedung2
Rumahku berdiri kokoh melukis
rahasia di tengah-tengahnya
Ada, sungguh ada, di dalamnya suara
kanak-kanak
Tertawa atau membagi duka
Terus menetes dari seputarnya,
kabut rahasia... kabut rahasia
Di situ berkumpul seluruh
keluargaku
Duduk mengenggam kata-kata
1975-1976
Sebenarnya
puisi ini bukan tentang kabut asap seperti yang sekarang tengah terjadi, tapi
setelah ada satu kata yang saya ubah yaitu gunung menjadi gedung (pada baris
kelima) mungkin seluruh artinya jadi bergeser, mungkin sangat jauh, tapi
mungkin saja tidak.
Katanya
di awal puisi “di negeri kabut, tempat
segala rahasia.” Ya memang ada rahasia, kita seakan tidak tahu di balik
rimba-rimba yang sedang terbakar itu mungkin ada seseorang yang mengaturnya. Semakin
rahasia, seperti segala benda yang terbakar, tidak akan menyisakan apa-apa,
kecuali abu. Meskipun nanti “tiba-tiba” berdiri perkebunan di tempat yang terbakar
itu, kita juga tetap tidak akan bisa melakukan atau membahas atau sekedar
menulisnya. Ini seperti teori konspirasi besar yang harus ditindak oleh sastra.
Sastra sampai sekarang belum ngapa-ngapain
di dalam hutan itu kecuali di luar hutan membahas estetika dan estetika dan
estetika, mirip seperti kata pengarang favorit saya Seno Gumira Ajidarma3.
Karena bagi saya kebakaran hutan itu adalah hal yang tabu, dari tahun ke tahun
terus terjadi dan tidak pernah ada penanggulangannya yang dilakukan dengan
serius.
Ah,
jadi terlalu serius kalau dibawa ke sastra. Baiklah silahkan bakar hutan itu
sesuka hati anda. Ya.
Saat
ini saya sedang terbaring di kasur. Kepala saya pusing, paru-paru sesak, mata
pedih, badan lelah padahal dari pagi tidak melakukan apa-apa, dan saya juga
tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya ingin main ke luar rumah,
jalan-jalan ke toko buku, minum kopi dengan semua kawan, makan-makan, tertawa-tawa
dan berbahagia, karena ini juga malam minggu.
Tapi
wow! Di luar turun hujan, meski cuma gerimis kecil. Sekarang pukul 17:21 dan sebenarnya
saya mau melanjutkan tulisan ini karena masih banyak yang ingin saya katakan
tentang hutan dan kabut asap. Tapi saya mau mendengar suara hujan sebentar ya. Boleh
ya. Semoga ini hujan yang lebat. Semoga ini hujan yang juga mampu menyapu
seluruh jerebu dan bayang-bayangnya.
Pekanbaru,
2015-10-24
Catatan:
1.
Kata-kata
di salah satu puisi Mardi Luhung
2.
Kata
aslinya adalah gunung
3.
SGA
mengatakan bahwa sebaiknya sastra membahas hal-hal yang tabu, bukan hanya
bermain-main dalam hal fundamental dan estetika-estetika.