Sabtu, 08 Februari 2014

Saat Aku Juga Datang Bulan

Banyak orang menyesal ketika membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Ada juga yang menyesal setelah menutup pintu tanpa pernah masuk ke dalamnya. Tapi ada beberapa orang lagi yang suka meratapi kebodohannya, yaitu mereka yang memutuskan untuk membiarkan pintu tertutup, dan mengurungnya dirinya sendiri dari luar.

Sebenarnya ini bukan tulisan tentang daun-daun pintu yang bisa dibuka tutup seperti buah dadamu. Bukan juga sebuah sajak yang membuatmu mau membuka baju, sebelum sah menikah denganku.

Aku bingung dan tidak pernah tahu tulisan ini akan berakhir ke mana, semoga saja apa yang aku tulis ini tidak menambah rasa sakit di hari-hari pertama pada saat kau datang bulan.

Tentu saja kita berdua yang bersalah, ketika aku, kaukurung di luar, sedangkan di dalam, engkau menjerit menahan sakit dan membuat kecemasanku berdiri semakin kesemutan.

"Kenapa tidak kau ajak aku masuk ke kamarmu?"

"Aku tahu obat datang bulan,"

Suara cemas ini terus membujuk kau yang tengah merajuk, terus kuketuk pintu kamarmu hingga tanganku tidak bisa lagi dibentuk. Gagang pintumu pun pada akhirnya rusak, lepas dari hatiku.

Dan kau tetap bersikeras tidak mau membukakan pintu walaupun semuanya telah selesai kudobrak.

Tidak ada yang terkurung di luar maupun di dalam. Sampailah aku, yang telah datang jauh-jauh membawakanmu bulan, untuk perempuanku yang sedang kesakitan.

"Ini obat datang bulan"

Dari saku celanaku, kukeluarkan cincin pernikahan.

Pekanbaru
10 Februari 2013

 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger