Rabu, 19 Februari 2014

dalam dua puluh empat jam

-dalam dua puluh empat jam yang lalu-

Saya suka menghabiskan waktu di depan laptop tanpa melakukan apa-apa. Saya tidak suka keluar rumah, kecuali demi membeli sebungkus rokok, tetapi saya juga tidak betah berada sangat lama di dalam rumah, maka dari itu saya masuk ke dalam monitor laptop, agar saya bisa keluar dari sana tetap dalam keadaan tidak melakukan apa-apa.

Saya  membenci televisi, tapi saya tetap memajangnya di kamar, agar bisa menonton diri saya sendiri yang tidak suka menonton orang lain. Saya  suka radio, tapi saya benci mencari salurannya yang ternyata lebih banyak dari segala hal yang saya benci. Saya suka kasur, namun saya benci tidur, juga bangun. 
-Saya benci rasa kantuk, maka dari itu Ibu membelikan saya sebuah kasur-

Saya membenci cermin, pintu, jendela, ventilasi, meja, lemari dan semuanya yang selama ini tidak pernah mengatakan apa-apa. Saya berfikiran, mereka juga membenci diri saya.

Dua puluh empat jam menurut jam dinding yang paling saya benci,
saya  mulai belajar membenci orang lain dan juga membenci orang yang telah mengenal saya, agar saya tidak dibenci lebih dulu. Tapi akhirnya saya terpaksa mengalah untuk membenci diri saya sendiri, supaya tidak dibenci oleh orang lain.

lalu apa yang akan saya lakukan dalam dua puluh empat jam yang akan datang?

-mungkin saya akan membenci tulisan ini-

saya suka semua itu, tapi di samping itu saya membenci hal-hal yang jauh di dalam semua ini.

Saya dilahirkan dalam keadaan laki-laki, tapi kenapa mudah sekali hati ini terasa sakit, seperti halnya perempuan? Namun saya juga bukan perempuan, karena saya selalu sulit merasa jatuh cinta dan saya tidak punya payudara seperti mereka.

Dua puluh empat jam yang sangat jauh sebelum ini, saya mempunyai hobi baik, yaitu menjaga nama baik orang lain, saya memberinya sampul, meletakkannya di rak buku, di antara novel-novel yang saya sukai, merawatnya sepenuh hati, dan tidak saya biarkan seorang pun boleh menyentuhnya, apalagi merusaknya. Namun ternyata saya membencinya, karena yang orang lain lakukan kepada saya tidaklah sama.

Saya benci air mata, tetapi saya suka sekali menangis, sebab saya malu mengatakan bahwa  semua ini ditulis sambil menangis. tapi, saya percaya bahwa tidak ada orang yang akan percaya tentang hal ini, karena tulisan ini adalah tulisan yang buruk, dan tidak ada yang akan menangis, selain diri saya sendiri.

Dua puluh empat jam yang akan datang, saya tidak akan mau lagi keluar dari dalam monitor laptop, meski semua benda dan orang-orang di luar sana ternyata mencintai saya.

kataflase - 2014

 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger