Saya masih saja tidak bisa berlari menuju sebuah masa yang lebih jauh lagi. Tiba-tiba saya teringat sesuatu ketika melihat bulan sedang terjebak di dalam jendela, dan membuat keinginan menulis saya lebih besar dari biasanya, meskipun mengingat semua itu membuat saya berkali-kali meneteskan air mata.
Surabaya, membuat jam tidur saya (setelah jauh dari sana) semakin tidak teratur. Pada saat itu, di sela jam-jam kampus, banyak kejadian yang terjadi secara tak sengaja. Bukan tentang dolly atau tunjungan plaza, tapi sesuatu yang selalu ramai di dalam kepala.
Saya mampu bertahan dari panasnya Surabaya, kota yang memiliki dua matahari namun diimbangi oleh banyaknya penjual es degan di pinggir jalan. Saya juga bertahan dari cantiknya perempuan-perempuan Surabaya yang tak terpuisikan, lalu pelan-pelan belajar mencintai petis, penyetan, lontong balap dan semua makanan Surabaya yang sampai hari ini membuat lidah saya tidak dapat berdusta bahwa saya selalu rindu berada di kota Surabaya.
Di kampus, saya dijancukjancuki senior-senior yang mukanya juga terlihat sangat jancukjancuki, yang ternyata hal itu membuat saya mendapat banyak teman jancuk minum kopi untuk berdebat tentang kebohongan teori grafitasi. Sementara itu enstein yang berpendapat bahwa kepastian ialah ketidakpastian membuat saya berfikir bahwa bolos adalah salah satu mata kuliah, karena mencari kawan ternyata juga jauh lebih penting ketimbang membuktikan phi adalah 22/7. Berhutang makan, minum dan rokok di kantin sampai siluet sore menajamkan diri, setelah itu melalui malam yang panjang di kedai kopi sampai keesokan siangnya terbangun dan berpura-pura tidak ada kuliah, atau mengubah laboratorium kampus menjadi kasur besar agar tidak bolos kuliah pada hari-hari berikutnya.
Menjelang subuh, bulan perlahan mulai melepaskan diri di dalam jendela, ada kabut asap yang memuisikan sekali lagi bayangan ingatan saya bahwa hujan Surabaya adalah hujan yang jatuh dengan cara paling romantis. Di dalamnya ada s*ty* yang setengah wajahnya adalah wajah saya, juga k*ysh* yang setiap malam membuat saya merasa kehilangan sesuatu ketika berada di dalam selimut.
-ada cinta diam-diam dan surat cinta yang terselip di buku skripsi saya untuk mereka berdua.-
Sampai malam ini saya masih belajar berjuang dari keringat Bonek yang menyanyi berteriak meskipun Persebaya kalah, menyanyi berteriak sampai musuh Persebaya mengiring bola dan memasukannya ke gawang mereka sendiri.
Entah sampai kapan saya bisa menahan rasa gatal di bawah kulit, agar seluruh perasaan rindu ini bisa melepaskan diri dari hal gila yang membuat saya akan selalu merindukan tulisan ini, dan hal geli lainnya yang membuat saya ingin menulis lebih lama lagi.
Saya mulai berjanji kepada draft tulisan saya sendiri, akan ada banyak tulisan tentang Surabaya yang tubuh saya tak pernah mampu untuk menanggungnya. Saya selalu ingin kembali ke sana meskipun tak ada lagi yang ingat kepada saya, karena tubuh yang semakin hari semakin kurus dan kering, juga kacamata yang semakin tebal karena memikirkan puisi puisi puisi sepanjang waktu.
Saat ini bulan telah sepenuhnya melepaskan diri dari jendela, tapi ada sepenuh lainnya yang terus melekat di dalam hati saya, Surabaya, adalah karangan sampai jumpa pada waktu yang tak akan pernah ditentukan.
Surabaya
kota perjuangan
kota kenangan
Pekanbaru, 2014



















