Jumat, 07 Maret 2014

BBM Anggrek

1. Anggrek

Saya berada di dalam kafe ini dengan sebuah alasan, ketika rasanya sebuah kursi di kafe ini tidak pernah bosan memangku tubuh saya, dan kursi di depannya tidak pernah bosan menunggu seseorang untuk duduk di sana. Saya sekaligus belajar menjadi orang yang punya keyakinan, yakin bahwa pasangan yang sedang duduk di belakang saya tidak punya alasan kenapa pada saat itu mereka memilih pacaran di depan laki-laki yang minum kopi sendirian.

Ciuman dan cemburu itu sesuatu yang pahit, apalagi draft tulisan saya yang belum selesai, namun saya masih belum tahu sepahit apa rasanya tulisan-tulisan itu apabila telah selesai.

Lalu, saya tulis sebuah puisi baru, seperti biasanya (pasti akan jadi draft juga) di microsoft word dengan judul yang masih document1, tentang mantan pacar saya yang menikah dengan orang kaya, tetapi dia masih suka tidur bersama saya.

Sebutlah namanya Anggrek, atau nama lengkapnya Anggrek Monica. Menikah dengan orang kaya yang tidak mau ditidurinya, mungkin ada dua masalah, pertama karena orang kaya itu tidak pandai berpuisi, kedua barangkali orang kaya itu tidak bisa memuaskan masalah "yang" itu.

Sementara itu, puisi dengan judul document1 telah selesai tanpa pernah saya menulisnya.

2. BBM

Jam sepuluh malam pada hari minggu (setelah ikut Ayah kembali ke kota naik delman istimewa) saya kembali ke kafe itu dengan sebuah alasan, ketika jalan menuju kafe itu dan lampunya saya gabungkan agar bisa menjadi sebuah tulisan, agar bisa dibaca bersama dengan klakson mobil dan penjual sate yang tidak ada pembelinya.

Terciptalah Puisi baru dengan judul document2 yang masih kosong sebelum tiba pesan BBM dari Anggrek, bunyinya seperti suara hujan:

Anggrek : mas, di mana?

Setelah membaca pesan itu saya sadar, di mana tempat sebenarnya menulis puisi.

2014

 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger