Selasa, 01 April 2014

Di Bulan April

Ada yang memanggil nama saya dari luar rumah, barangkali abang Zasdar, yang kemarin meminjamkan buku Wendoko "Sajak-sajak Menjelang Tidur", lalu beliau mengajak saya melewati Kuan Street, ke kanan - ke Tianamen Square, meski akhirnya berujung minum kopi di kopi ciek.

Sore itu langit menayangkan sesuatu : tapi saya masih tidak percaya, senja dan surealisme-surealisme yang dijatuhkannya. Pekanbaru tetap saja sebuah kota yang membuat saya seperti tidak ada.

"Ah iya, saya kan sedang berada di kopi ciek."

Tiba-tiba saya teringat pada sajak abang Zasdar yang berjudul "Kopi Ciek", tentang gaji yang tertunda tiga bulan lamanya, tentang total bon ngopi milik kami yang dibayar perempuan bermata sipit (yang memesan sepi pada dingin kopi).

"Ah, kami ternyata rombongan penyair yang selalu menyerahkan nasib pada stick playstasion."

Dan malam ini saya sedang menyerahkan hidup saya yang terakhir, hutang kepada diri sendiri, yaitu menyelesaikan beberapa puisi dan cerpen setelah menikmati hujan seharga dua milyar yang jatuh dari anggaran istana negara. - saya merasa harus ikut membayarnya-

Asap rokok mengepul di langit kamar, puntungnya (seperti biasa) terserak di atas meja, saya mencari-curi ide seperti mengejar seekor nyamuk. Kopi dan Beer yang ternyata juga sangat memerhatikan keadaan kesehatan saya, dan semua hal yang ada di dalam kamar saya, sangat percaya bahwa saya tidak pernah ingin menjadi penulis atau apalah itu namanya.

Saya hanya ingin membangun dunia yang berdiri sendiri, saya Presiden dan saya juga masyarakat yang menderita, atau dari sesuatu yang sangat menyentuh perasaan saya, dan sekaligus pernah menyakiti hati saya.

Tapi...

Kemudian Tika, Tika seperti sebuah kado yang sengaja tidak saya buka. (Paham kan maksud saya?). Barangkali bagian pada tulisan ini, tidak perlu ditulis dengan sangat panjang, karena jika Tika membaca bagian ini, pasti dia akan sangat rindu berada di sebelah saya.

Sebab, cinta adalah, adalah.. tidak akan muat jika dituliskan. Tinta Pena Bulu William Shakespeare saja (katanya) tidak akan pernah habis jika menulis tentang -itu-

Saya kembali ke dalam buku Wendoko, "kenangan-kenangan pada angin.",
Sebelum jam 00:00 ada yang mengetuk pintu rumah saya. Saya kira abang Zasdar, tetapi bukan.

Tuhan, juga bukan?
Tika, jauh di Panam..

Lalu siapa?

"Engkau giliran jaga ronda, kampret..!!"
Bapak pengawas ronda, malam itu bergaya layaknya Chairil Anwar.

Dunia ini semakin ramai manusia yang ingin menjadi penyair, dan semakin sepi manusia yang setia kepada Tuhannya.

******

Pekanbaru, 2014

 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger