Sabtu, 17 Mei 2014

Malam dan Catatan Akhir Pekan

Apakah karena (hanya) tidak punya uang, seseorang rela menjual harga dirinya? Di pinggiran jalan Sudirman Pekanbaru jam sebelas malam, saya termangu melihat beberapa perempuan di seberang jalan seperti menunggu sesuatu. Untuk apa selarut ini mereka berada di sana. Apa yang mereka pikirkan, gelisah? Atau lapar? Atau apa? Saya ingin tahu.

Ini tentang pemahaman hidup. Di mana ketika tidak punya uang, siapa saja bisa melakukan segala hal dengan mengesampingkan moral. Padahal pada kalimat sebelum ini, saya bisa saja menghilangkan bagian kata “mengesampingkan moral”. Jika bagian tersebut dihilangkan maka kalimatnya akan menjadi “di mana ketika tidak punya uang, siapa saja bisa melakukan segala hal.” Tapi kenapa masih ada orang yang berprofesi sebagai penipu, pencuri, (maaf) pelacur, dsb.

Lalu kenapa sampai ada bagian kata saya di atas yang menulis “mengesampingkan moral”. Barangkali ini tentang pemahaman hidup setiap orang yang berbeda-beda. Rokok saya baru menyala, kopi saya baru tiba, hujan belum reda dan sambil menumpang berteduh di warung makan radar jam sebelas malam, saya mencoba mengesampingkan dunia saya sendiri untuk melihat dunia orang lain.

Jika hanya untuk mencari makan, saya yakin, mereka tidak harus sampai melakukan pekerjaan yang (maaf) tidak bermoral tersebut. Pasti ada hal lain, pasti ada sebuah keinginan yang lebih, sampai mereka mau melakukan hal-hal seperti itu.

Saya teringat tentang ajaran Buddisme yang pernah saya baca beberapa bulan yang lalu, bahwa keinginan adalah sumber penderitaan. Ajaran Buddisme tersebut tidak jauh berbeda dengan peribahasa minang pitih habih taragak tibo (uang habis, keinginan datang). Saya memutar otak sedikit tapi sampai kepala saya tidak bisa bergerak. Dan di buku Confession−yang ditulis Leo Tolstoy juga mengungkapkan hal yang kurang lebih demikian, semakin ke sini dunia akan semakin materialis. Saya tidak mengerti, “ada apa sebenarnya di dalam otak manusia?” itu sebuah pertanyaan baru seandainya saya diciptakan sebagai lampu jalan.

Saya membagi pikiran saya menjadi dua bagian, yaitu orang miskin dan orang kaya. Singkat katanya, jika orang miskin tidak punya keinginan untuk menjadi kaya, barangkali dunia akan baik-baik saja. Tapi saya sangat yakin bahwa saya salah jika berfikir demikian, tapi (barangkali) jauh lebih salah orang yang membuat pemikiran dengan membeda-bedakan si miskin dan si kaya.

Sebenarnya, dunia akan baik-baik saja jika semua merasa cukup dan sederhana.

Saya memacu motor sampai kecepatan 90km/jam untuk memahami apakah pernyataan saya sebelum ini adalah benar. Dalam keadaan gelap, hujan dan kebingungan, saya teringat cerita tentang Alexander dan Gymnosophist dari India. Saat alexander sang pejuang melintasi sungai Indus untuk menjelajah India, dia bertemu Gymnosophist seorang pertapa.

“kamu sedang apa?” Alexander berkata.

“Saya sedang merasakan kekosongan batin, kamu sedang apa?” Gymnosophist balik bertanya.

Alexander menjawab “Saya sedang menaklukan dunia.” Kemudian mereka berdua saling menertawakan. Gymnosophist berkata “Menaklukan dunia, bodoh, buat apa? Kekuasaan, materi dan hal-hal duniawi hanyalah ilusi kepuasan sementara yang tidak memberi makna.”

Alexander merasa marah karena mendengar itu, kemudian dia kembali berkata “Merasakan kekosongan batin? Bodoh! Mengapa menyia-nyiakan hidup hanya untuk kekosongan batin?”

“Lalu siapa yang benar?” itulah sebuah pertanyaan baru dari saya ketika sudah sampai di rumah.

Saya hanya gelisah, barangkali belum ada yang memahami kegelisahan ini. Saya juga adalah orang yang belum punya banyak uang. Normalnya manusia, saya juga orang yang punya keinginan. Normalnya laki-laki, saya juga punya perempuan yang saya cintai. Jika kata “keinginan” telah bersatu dengan kata “perempuan” maka akan menghasilkan pernyataan baru bahwa cinta harus berjuang. Tapi inilah saya, apa adanya, dan bahkan sering terlihat menyedihkan. Setidaknya jika saya berjuang untuk diri saya sendiri, secara langsung saya juga berjuang untuk perempuan yang saya cintai.

Tapi kembali lagi ke ajaran Buddisme yang (tak) sengaja saya singgung di atas, bahwa keinginan adalah sumber dari penderitaan. Jika kamu (laki-laki) sudah beranggapan bahwa perempuan adalah keinginan berarti pada saat itu kamu akan sangat merasa menderita, barangkali. hehehe.

Hehe, cinta tetap akan ambigu, tak ada jawabannya, dan tak akan pernah selesai. Lalu tulisan ini juga tak akan pernah selesai, kecuali saya menutup tulisan ini dengan sebuah baris puisi Satu Jam Sebelum Matahari Tak Jadi Tenggelam milik M. Aan Mansyur,

“Adakalanya cinta seperti puisi, tak tahu di mana harus berhenti.” ― M. Aan Mansyur


Pekanbaru, 2014   

 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger