Apakah karena
(hanya) tidak punya uang, seseorang rela menjual harga dirinya? Di pinggiran
jalan Sudirman Pekanbaru jam sebelas malam, saya termangu melihat beberapa
perempuan di seberang jalan seperti menunggu sesuatu. Untuk apa selarut ini mereka
berada di sana. Apa yang mereka pikirkan, gelisah? Atau lapar? Atau apa? Saya
ingin tahu.
Ini tentang
pemahaman hidup. Di mana ketika tidak punya uang, siapa saja bisa melakukan
segala hal dengan mengesampingkan moral. Padahal pada kalimat sebelum ini, saya
bisa saja menghilangkan bagian kata “mengesampingkan moral”. Jika bagian
tersebut dihilangkan maka kalimatnya akan menjadi “di mana ketika tidak punya
uang, siapa saja bisa melakukan segala hal.” Tapi kenapa masih ada orang yang
berprofesi sebagai penipu, pencuri, (maaf) pelacur, dsb.
Lalu kenapa
sampai ada bagian kata saya di atas yang menulis “mengesampingkan moral”.
Barangkali ini tentang pemahaman hidup setiap orang yang berbeda-beda. Rokok
saya baru menyala, kopi saya baru tiba, hujan belum reda dan sambil menumpang
berteduh di warung makan radar jam sebelas malam, saya mencoba mengesampingkan
dunia saya sendiri untuk melihat dunia orang lain.
Jika hanya untuk
mencari makan, saya yakin, mereka tidak harus sampai melakukan pekerjaan yang
(maaf) tidak bermoral tersebut. Pasti ada hal lain, pasti ada sebuah keinginan
yang lebih, sampai mereka mau melakukan hal-hal seperti itu.
Saya teringat
tentang ajaran Buddisme yang pernah saya baca beberapa bulan yang lalu, bahwa keinginan adalah sumber penderitaan. Ajaran
Buddisme tersebut tidak jauh berbeda dengan peribahasa minang pitih habih taragak tibo (uang habis,
keinginan datang). Saya memutar otak sedikit tapi sampai kepala saya tidak
bisa bergerak. Dan di buku Confession−yang
ditulis Leo Tolstoy juga mengungkapkan hal yang kurang lebih demikian, semakin ke sini dunia akan semakin
materialis. Saya tidak mengerti, “ada apa sebenarnya di dalam otak manusia?”
itu sebuah pertanyaan baru seandainya saya diciptakan sebagai lampu jalan.
Saya membagi
pikiran saya menjadi dua bagian, yaitu orang miskin dan orang kaya. Singkat
katanya, jika orang miskin tidak punya keinginan untuk menjadi kaya, barangkali
dunia akan baik-baik saja. Tapi saya sangat yakin bahwa saya salah jika
berfikir demikian, tapi (barangkali) jauh lebih salah orang yang membuat pemikiran
dengan membeda-bedakan si miskin dan si kaya.
Sebenarnya, dunia
akan baik-baik saja jika semua merasa cukup dan sederhana.
Saya memacu
motor sampai kecepatan 90km/jam untuk memahami apakah pernyataan saya sebelum
ini adalah benar. Dalam keadaan gelap, hujan dan kebingungan, saya teringat
cerita tentang Alexander dan Gymnosophist dari India. Saat alexander sang
pejuang melintasi sungai Indus untuk menjelajah India, dia bertemu Gymnosophist
seorang pertapa.
“kamu sedang apa?”
Alexander berkata.
“Saya sedang
merasakan kekosongan batin, kamu sedang apa?” Gymnosophist balik bertanya.
Alexander
menjawab “Saya sedang menaklukan dunia.” Kemudian mereka berdua saling
menertawakan. Gymnosophist berkata “Menaklukan dunia, bodoh, buat apa?
Kekuasaan, materi dan hal-hal duniawi hanyalah ilusi kepuasan sementara yang
tidak memberi makna.”
Alexander merasa
marah karena mendengar itu, kemudian dia kembali berkata “Merasakan kekosongan
batin? Bodoh! Mengapa menyia-nyiakan hidup hanya untuk kekosongan batin?”
“Lalu siapa yang
benar?” itulah sebuah pertanyaan baru dari saya ketika sudah sampai di rumah.
Saya hanya
gelisah, barangkali belum ada yang memahami kegelisahan ini. Saya juga adalah
orang yang belum punya banyak uang. Normalnya manusia, saya juga orang yang
punya keinginan. Normalnya laki-laki, saya juga punya perempuan yang saya
cintai. Jika kata “keinginan” telah bersatu dengan kata “perempuan” maka akan
menghasilkan pernyataan baru bahwa cinta harus berjuang. Tapi inilah saya, apa
adanya, dan bahkan sering terlihat menyedihkan. Setidaknya jika saya berjuang
untuk diri saya sendiri, secara langsung saya juga berjuang untuk perempuan yang
saya cintai.
Tapi kembali
lagi ke ajaran Buddisme yang (tak) sengaja saya singgung di atas, bahwa keinginan
adalah sumber dari penderitaan. Jika kamu (laki-laki) sudah beranggapan bahwa
perempuan adalah keinginan berarti pada saat itu kamu akan sangat merasa
menderita, barangkali. hehehe.
Hehe, cinta
tetap akan ambigu, tak ada jawabannya, dan tak akan pernah selesai. Lalu
tulisan ini juga tak akan pernah selesai, kecuali saya menutup tulisan ini
dengan sebuah baris puisi Satu Jam Sebelum Matahari Tak Jadi Tenggelam milik M.
Aan Mansyur,
“Adakalanya cinta seperti puisi, tak tahu di mana
harus berhenti.” ― M. Aan Mansyur
Pekanbaru, 2014



















