Sabtu, 17 Mei 2014

Lelucon Akhir Pekan

Seperti biasa, jika saya menulis di blog berarti saya sedang mencari keheningan yang lain. Sudah empat cangkir kopi saya habiskan pada hari ini. Saya hanya mencoba melakukan sesuatu seperti dalam sajak Joko Pinurbo yang berjudul Surat Kopi.

“mungkin karena itu empat cangkir kopi sehari
 bisa menjauhkan kepala dari bunuh diri.”― Joko Pinurbo.

Sebenarnya sebelum saya meluruskan niat untuk menulis tulisan ini, saya sedang mencoba bunuh diri dengan cara yang sangat tidak wajar, yaitu lompat dari lantai dasar (maaf apabila tidak lucu). Supaya saya bisa mati di usia muda. Karena hal itu, muncul dalam pikiran saya sekarang adalah betapa bahagianya mereka yang diijinkan mati muda seperti Soe Hok-Gie atau R.A Kartini, jadi tidak perlu repot-repot lagi mencari pahala. Tapi karena pernyataan tersebut timbul sebuah pernyataan baru, bahwa mereka yang mati muda barangkali belum pernah merasakan cinta sejati.

Barangkali itu yang mengurungkan niat saya untuk bunuh diri. Tapi nanti saya akan mencoba untuk bunuh diri lagi apabila saya telah menemukan cinta sejati.

Maaf jika tulisan ini banyak kata “tapi”-nya.

Hidup ini lelucon, dan saya selalu merasa jadi bahan tertawaan banyak orang, padahal saya suka menyendiri dan suka menghindar dari banyak orang, agar saya bisa menertawakan diri saya sendiri. Tapi tetap saja masih banyak orang yang menertawakan saya, dari kejauhan. Hidup ini hanya lelucon, barangkali. Entah sebab apa dan kenapa saya diikutsertakan dalam lingkaran hidup ini, lalu apa yang sebenarnya saya cari? “Lelucon.” Jam dinding itu berkata, dan sebaris puisi mulai membuat saya semakin tidak waras.

“Jangan beri kami altar dan tuhan imperial.” Seseorang menirukan doa
“Tapi kita dipenjara, bukan?”
Ya, tapi ini penjara yang pertama, yang memisahkannya dari ingin dan kematian. ― Goenawan Muhamad

Puisi tersebut membuat saya semakin menertawakan diri sendiri..

Hidup ini, o kenapa saya juga dibawa-bawa. Kenapa saya disekolahkan, dikuliahkan sampai harus mencari kerja. Bukannya semua itu lelucon. Pada akhirnya, semuanya akan mati, kan? tapi apa yang membedakannya. Barangkali dari cara saya dan orang lain membuat sebuah lelucon.

“Kenapa saya dilahirkan di Indonesia?” itu pertanyaan dan lelucon yang baru. Pasti ada alasannya, pasti ada jawabannya. Karena satu-satunya yang tidak pernah membuat lelucon adalah Tuhan.


Pekanbaru, 2014
 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger