Seperti biasa,
jika saya menulis di blog berarti saya sedang mencari keheningan yang lain.
Sudah empat cangkir kopi saya habiskan pada hari ini. Saya hanya mencoba melakukan
sesuatu seperti dalam sajak Joko Pinurbo yang berjudul Surat Kopi.
“mungkin karena
itu empat cangkir kopi sehari
bisa menjauhkan kepala dari bunuh diri.”― Joko
Pinurbo.
Sebenarnya
sebelum saya meluruskan niat untuk menulis tulisan ini, saya sedang mencoba
bunuh diri dengan cara yang sangat tidak wajar, yaitu lompat dari lantai dasar
(maaf apabila tidak lucu). Supaya saya bisa mati di usia muda. Karena hal itu, muncul
dalam pikiran saya sekarang adalah betapa bahagianya mereka yang diijinkan mati
muda seperti Soe Hok-Gie atau R.A Kartini, jadi tidak perlu repot-repot lagi
mencari pahala. Tapi karena pernyataan tersebut timbul sebuah pernyataan baru,
bahwa mereka yang mati muda barangkali belum pernah merasakan cinta sejati.
Barangkali itu
yang mengurungkan niat saya untuk bunuh diri. Tapi nanti saya akan mencoba
untuk bunuh diri lagi apabila saya telah menemukan cinta sejati.
Maaf jika
tulisan ini banyak kata “tapi”-nya.
Hidup ini
lelucon, dan saya selalu merasa jadi bahan tertawaan banyak orang, padahal saya
suka menyendiri dan suka menghindar dari banyak orang, agar saya bisa
menertawakan diri saya sendiri. Tapi tetap saja masih banyak orang yang
menertawakan saya, dari kejauhan. Hidup ini hanya lelucon, barangkali. Entah
sebab apa dan kenapa saya diikutsertakan dalam lingkaran hidup ini, lalu apa
yang sebenarnya saya cari? “Lelucon.” Jam dinding itu berkata, dan sebaris
puisi mulai membuat saya semakin tidak waras.
“Jangan beri
kami altar dan tuhan imperial.” Seseorang menirukan doa
“Tapi kita
dipenjara, bukan?”
Ya, tapi ini penjara
yang pertama, yang memisahkannya dari ingin dan kematian. ―
Goenawan Muhamad
Puisi tersebut membuat saya semakin menertawakan
diri sendiri..
Hidup ini, o kenapa saya juga dibawa-bawa. Kenapa
saya disekolahkan, dikuliahkan sampai harus mencari kerja. Bukannya semua itu
lelucon. Pada akhirnya, semuanya akan mati, kan? tapi apa yang membedakannya.
Barangkali dari cara saya dan orang lain membuat sebuah lelucon.
“Kenapa saya dilahirkan di Indonesia?” itu
pertanyaan dan lelucon yang baru. Pasti ada alasannya, pasti ada jawabannya.
Karena satu-satunya yang tidak pernah membuat lelucon adalah Tuhan.
Pekanbaru, 2014



















