sebuah
sajak aku buat dari mata lampu
yang
terus melihatku
sebab
mata lilin tak pernah menyala
ketika
aku membuka mata yang lain
kota
dan gedung-gedung baru
berdiri
demi sebuah tissue di tanganku
musik
kuno
―melantun
dari sebuah toko kaset bekas
aku
suka lagu itu
tapi
penjaga toko itu tak pernah tahu
untuk
apa aku menawar harganya
sedangkan
di belakang penjaga itu
―anak
kecil telah berhasil mencurinya lebih dulu
o
kenapa aku masih membiarkan dada ini terbuka untuk terluka
perempuan-perempuan
dari seberang suka memasukinya
silih bergantian menabur hujan dan harapan
tapi
meninggalkan darah bekas daging datang bulannya
membiarkannya
membusuk
―membiarkanku
tertusuk
lalu
sebuah sajak aku buat sekali lagi dari mata lampu
kutiru
semua yang mereka katakan―yang mereka lakukan
malam
ke tujuh
setelah
mesias dituduh
seorang
perempuan akan dibawa ke bulan
sesuai
namanya
karena
tak percaya
bahwa
hanya puisi yang bisa menyelamatkan dirinya dari sepi dan luka
―penderitaan
dan kesengsaraan
di
bawah pohon palma:
seekor
gagak hitam bertengger
matanya
merekam seseorang
―mata yang tak bersalah tetapi melihat kebenaran yang nadir
di
bawah pohon palma (itu juga):
pada
musim hujan
tahun
ke sekian
:
sakit ini pasti akan mengalir
tajam
ke tubuhmu
seperti
karma, barangkali
(mati
yang tidak bisa mati)
2014



















