Sabtu, 17 Mei 2014

pain: pohon palma dan yang mati di dalamnya

sebuah sajak aku buat dari mata lampu
yang terus melihatku
sebab mata lilin tak pernah menyala
ketika aku membuka mata yang lain

kota dan gedung-gedung baru
berdiri demi sebuah tissue di tanganku
musik kuno
―melantun dari sebuah toko kaset bekas
aku suka lagu itu

tapi penjaga toko itu tak pernah tahu
untuk apa aku menawar harganya

sedangkan di belakang penjaga itu
―anak kecil telah berhasil mencurinya lebih dulu

o kenapa aku masih membiarkan dada ini terbuka untuk terluka
perempuan-perempuan dari seberang suka memasukinya
silih bergantian menabur hujan dan harapan
tapi meninggalkan darah bekas daging datang bulannya
membiarkannya membusuk
―membiarkanku tertusuk

lalu sebuah sajak aku buat sekali lagi dari mata lampu
kutiru semua yang mereka katakan―yang mereka lakukan

malam ke tujuh
setelah mesias dituduh
seorang perempuan akan dibawa ke bulan
sesuai namanya
karena tak percaya
bahwa hanya puisi yang bisa menyelamatkan dirinya dari sepi dan luka
―penderitaan dan kesengsaraan

di bawah pohon palma:
seekor gagak hitam bertengger
matanya merekam seseorang
―mata yang tak bersalah tetapi melihat kebenaran yang nadir

di bawah pohon palma (itu juga):
pada musim hujan
tahun ke sekian
: sakit ini pasti akan mengalir
tajam ke tubuhmu

seperti karma, barangkali
(mati yang tidak bisa mati)


2014

 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger