Selasa, 27 Mei 2014

Payakumbuh di Sore Hari

payakumbuh di sore hari

Barangkali kota ini menyimpan kerinduan pada kepergianku yang terakhir. Aku disambut aspal yang hangat dari Tanjung Pati sampai simpang Benteng. Aku berhenti, kemudian membeli gorengan di depannya, penjualnya tersenyum, dia seperti mengingatku, tapi aku hanya membalasnya dengan mata uang seharga gorengannya. Memang tidak adil, tapi sumpah, aku tidak mengingat bapak itu.

Hari sudah sore. Pegawai-pegawai negeri di kantor bupati yang lama satu per satu mulai meninggalkan kantor, lalu berhamburan ke pasar. Entah apa yang mereka cari setelah itu, barangkali akal sehat mereka sendiri. Aku selalu melihat mereka melakukan hal yang sama setiap tiba di kota ini pada sore hari.

Matahari semakin rendah, seperti ada seseorang yang menariknya ke bawah.
Sisa sore ini kuhabiskan di kedai kawa di daerah koto nan ampek, seperti biasa. Dari situ tampak jelas, langit yang semakin lama semakin merah dan wajah penjaga kedai yang bernama bu Hanifah, seorang janda yang memiliki anak perempuan cantik bernama Hanah.

Tulisan ini ada karena aku sedang bosan berada di kedai kawa sendirian. Aku malas pulang ke rumah om atau tante. Setiap aku pulang, orang-orang di sekitar sana menyambutku seakan-akan aku adalah anak kecil yang mereka temui dulu. Padahal aku sudah sangat besar dan sering merasa terluka seperti mereka.

Tulisan ini harus diakhiri, secepatnya. Tapi aku tidak bisa, betapa indahnya Payakumbuh di sore hari. Aku hanya bisa menjelaskannya sedikit tapi yang ingin aku jelaskan sangat banyak. Misalnya seperti aku merindukan Nenek dan Kakek.

Di sisi lain, aku merasa kota ini juga membenciku. Aku tidak pernah bisa berlama-lama berada di sini. Paling cepat satu hari, paling lama dua bulan. Entah karena apa hal itu terjadi, padahal ini adalah kampungku. Tapi itu pula yang membuatku sadar, bahwa sebenarnya laki-laki adalah jenis kelamin yang tidak boleh memiliki kampung. Karena kampungnya laki-laki adalah kampung perempuan yang dia cintai.

Tulisan ini telah membawaku ke gelanggang pacuan kuda. Di sana sangat ramai, sepertinya bulan depan akan ada pacuan kuda. Aku harus menontonnya. Ya, aku harus kembali lagi ke sini lagi bulan depan. Tapi sebelumnya, tulisan ini harus segera diakhiri, agar aku bisa menemukan seorang perempuan untuk kubawa ke sini dan menonton balapan kuda itu bersama-sama.

 

Copyright © Alpha Hambally Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger