Bulan Juli 2014. Kabar saya sangat buruk, jam tidur
saya berubah total, sampai matahari bisa saya lihat pada malam hari. Saya
sering lemas dan batuk-batuk, juga saya semakin sering memikirkan hal yang tak
perlu dipikirkan. Banyak hal di bulan ini yang terjadi di luar dugaan saya,
padahal bulan ini adalah bulan Ramadhan, bulan di mana seharusnya saya bisa
sendirian dengan tenang. Tapi banyak keramaian yang terjadi, entah hanya
kebetulan atau tidak, dari kampanye pilpres, piala dunia, konflik
Israel-Palestina sampai kemarin pesawat MH17 yang dihancurkan di udara.
Dari semua peristiwa yang terjadi, pilpres dan piala
dunia adalah yang paling ganjil dan mengganggu. Bagaimana tidak, karena “kedua
masalah itu” sama-sama punya pendukung yang fanatik. Sudah tidak terhitung, di
luar catatan ini, banyak dari mereka yang bertengkar karena merasa paling benar
dan mudah tersinggung. Bagi saya kedua calon pemimpin negeri ini tidak ada yang
benar, dari mereka berdua tidak pernah ada statment kuat yang berbunyi
“Koruptor harus dihukum gantung.”
Seharusnya, jika di antara kedua kubu ada yang merasa bisa memimpin
negeri ini dengan benar, pasti tidak keberatan mengucapkan statment tersebut
berulang kali ketika kampenye dan menjadikan itu program utama mereka. Ah, tapi
ya sudahlah, semua ini kan hanya lelucon, begitu juga, kenyataannya piala dunia
juga gagal mendamaikan keduanya saat itu, dan ketiganya (konflik
Israel-Palestina) lelucon, kan? Padahal piala dunia tujuannya adalah untuk
perdamaian. Tapi setidaknya piala dunia berhasil mencairkan suasana tegang dan
menakutkan dengan bahan tertawaan baru misalnya kesebelasan Portugal dan Brazil
yang dilumpuhkan Jerman tanpa ampun, lalu juara bertahan Spanyol yang
dihancurkan oleh runner-up tahun lalu.
Tapi tetap saja skor memalukan tersebut tidak bisa
menahan Israel melontarkan ribuan proyektilnya.
Tidak ada yang salah sebenarnya, Yerusalem dan tanah
sekitarnya adalah sejarah langit dan bumi yang diperebutkan banyak kaum. Bahkan
orang Romawi pada tanggal 8 Ab (Juli 70 Masehi) mengepung Yerusalem yang sehari
sebelum itu adalah hari di mana bertepatan dengan 500 tahun setelah orang
Babylonia menghancurkan Yerusalem. Lucu kan, tapi menakutkan, dua hal itu
terjadi di bulan Juli. Saya tak mau ikut campur, berbahaya, karena semua hal di
bulan Juli adalah hal yang mengerikan. Kalian juga bisa membayangkan hujan
tubuh manusia di langit Ukraina. Betapa mengerikan, kan? Bulan Juli. Tumpahnya darah
dan air mata. Semoga hari selasa, tanggal 22 Juli, Indonesia baik-baik saja.
Tapi saya takut, kalian melupakan bulan Juli sebagai bulan puisi. Deklarasi hari puisi Indonesia jatuh pada tanggal 26 Juli 2012
(kalau tidak salah) di kota Pekanbaru. Seluruh kejadian di bulan ini ditutup dengan
puisi, meski barangkali puisi tidak mampu mengobati apa-apa, karena kabar saya
akhir-akhir ini tetap saja dalam keadaan yang buruk. Saya sering sakit dan
sedih tanpa sebab. Saya semakin senang sengaja berada sendirian. Saya sedang
malas jatuh cinta. Malas. Jatuh cinta itu mengerikan. Mengerikan. Lebih mengerikan daripada semua yang terjadi di bulan Juli ini. Sebab
ternyata lebih asik seperti ini, selalu dalam keadaan sakit dan rendah diri.
(aha)



















